Jelang Idul Adha, Perajin Besek di Bantul Kewalahan Penuhi Pesanan

- Menjelang Idul Adha 2026, perajin besek di Kaliputih, Bantul, kebanjiran pesanan wadah daging kurban hingga harus menolak pesanan baru karena waktu produksi yang terbatas.
- Besek berkapasitas dua kilogram menjadi ukuran paling diminati untuk wadah daging kurban, dengan harga sekitar Rp65 ribu per kodi dan hanya dijual melalui sistem pemesanan.
- Perajin lain seperti Ponikem dan Rajinem juga kewalahan memenuhi permintaan tinggi akibat keterbatasan bahan baku bambu yang harus didatangkan dari luar daerah.
Bantul, IDN Times - Sepekan menjelang Idul Adha 2026, perajin besek di Padukuhan Kaliputih, Kalurahan Pendowoharjo, Kapanewon Sewon, Kabupaten Bantul, kebanjiran pesanan wadah daging kurban. Bahkan, sejak awal pekan mereka mulai menolak pesanan baru karena waktu pengerjaan sudah terlalu mepet.
Salah satu perajin besek di Padukuhan Kaliputih, Jumini (65), mengatakan pesanan besek untuk wadah daging kurban sudah masuk sejak dua bulan lalu. Saat ini, sebagian besar pesanan tinggal menunggu diambil panitia kurban.
"Saya mendapatkan lebih dari 1.200 besek yang sebagian besar dipesan oleh takmir masjid yang ada Kalurahan Bangunjiwo, Kasihan hingga takmir masjid yang ada di Kapanewon Sewon sendiri," ucapnya, Rabu (20/5/2026).
1. Punya lima perajin namun tak mampu memenuhi pesanan

Selain pesanan untuk wadah daging kurban, besek juga banyak dipesan masyarakat untuk berbagai acara hajatan. Kondisi itu membuat perajin tidak lagi mampu menerima pesanan mendadak menjelang Idul Adha.
"Saya itu punya lima perajin yang memasok besek sesuai dari pesanan namun untuk saat ini sudah tidak mampu lagi memenuhi pesanan besek karena waktunya mepet sekali," ungkap Jumini.
"Ya kalau saat ini pesan besek untuk tempat daging kurban saya sudah tidak sanggup. Bukannya saya menolak ya," tambahnya.
2. Besek untuk daging 2 kilogram paling banyak dipesan

Besek untuk wadah daging kurban umumnya berukuran kecil dengan kapasitas sekitar 2 kilogram. Sementara untuk hajatan, biasanya menggunakan besek besar yang mampu menampung hingga 5 kg.
Jumini menjual besek kecil seharga Rp65 ribu per kodi atau berisi 40 buah. Sedangkan besek besar dijual Rp10 ribu per tangkep.
"Kalau harga memang naik namun kecil sekali sebab pemesan besek sudah langganan bertahun-tahun. Besek saya itu tidak saya jual ke pasar karena harganya dinilai mahal. Ya hanya melayani pemesanan saja," ucapnya.
3. Perajin besek lainnya juga kewalahan memenuhi permintaan

Perajin besek lainnya, Ponikem (56), mengatakan dalam sehari mampu memproduksi satu kodi besek dengan bantuan perajin lain bernama Rajinem (64) yang bertugas mengirat bambu sebelum dianyam.
"Tugas saya menganyam besek, sedangkan Mbok Rajinem (64) 'ngirat' bambu. Tapi terkadang ada kendala bahan baku yakni bambu," ucapnya. "Hampir semua warga Kaliputih ini bisa menganyam besek tapi bahan baku bambunya tidak punya. Harus datangkan dari daerah lain," tambahnya.
Ponikem mengatakan dirinya dan Rajinem tidak menjual besek langsung ke pelanggan, melainkan memasok pesanan kepada perajin lain yang menjual besek di Padukuhan Kaliputih.
"Saya dan Mbok Rajinem ini menganyam besek sesuai pesanan juragan saja. Tapi saat ini memang pesanan sangat banyak, jadi saya juga kewalahan memenuhi pesanan besek dari juragan," tuturnya.


















