Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Bantul Berusaha Bertahan

Harga Kedelai Naik, Perajin Tahu di Bantul Berusaha Bertahan
Proses pembuatan tahu di Kampung Tahu, Gunungsaren, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)
Intinya Sih
  • Harga kedelai impor di Bantul naik dari Rp9 ribuan menjadi Rp10.900 per kilogram akibat melemahnya rupiah dan dampak perang di Timur Tengah.
  • Perajin tahu seperti Praptiwi tetap bertahan dengan pelanggan tetap meski biaya produksi melonjak karena kenaikan harga kedelai dan minyak goreng.
  • Perajin tahu skala kecil paling terdampak, banyak yang terancam berhenti produksi jika harga kedelai terus naik hingga dolar tembus Rp20 ribu.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Bantul, IDN Times - Padukuhan Gunungsaren, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul merupakan sentra UMKM yang memproduksi tahu. Penjualan tahu tak hanya dilakukan di berbagai pasar tradisional, tapi juga menyuplai untuk rumah makan hingga hotel di Jogja.

Pembuat tahu di Padukuhan Gunungsaren yang dikenal dengan Kampung Tahu, saat ini harus mengatur strategi agar tetap bertahan. Pasalnya, harga bahan baku kedelai melonjak dari Rp9 ribuan per kilogram menjadi Rp10.900 akibat melemahnya nilai rupiah terhadap dolar. Hal ini juga berdampak pada minyak goreng yang harganya setiap hari bertambah. Padahal kebutuhan minyak goreng cukup banyak untuk menggoreng tahu putih menjadi tahu pong.

1. ‎Harga kedelai impor tembus Rp10.900 per kilogram

Ilustrasi kedelai (pexels.com/Polina Tankilevitch)
Ilustrasi kedelai (pexels.com/Polina Tankilevitch)

Salah satu warga yang memproduksi tahu di Kampung Tahu, Praptiwi (40) mengatakan, harga kedelai mulai naik sejak terjadinya perang di Timur Tengah. Harga terus naik seiring menguatnya dolar yang saat ini di kisaran Rp17.600.

‎"Awalnya harga kedelai itu hanya sekitaran Rp9 ribuan, namun saat ini tembus Rp10. 900 per kilogram. Kedelai yang kita gunakan hampir semuanya impor," ujarnya, Selasa (19/5/2026).

2. ‎Masih beruntung punya pelanggan tetap

IMG-20260519-WA0026.jpg
Proses pembuatan tahu di Kampung Tahu, Gunungsaren, Kalurahan Trimurti, Kapanewon Srandakan, Kabupaten Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)

Praptiwi mengaku membutuhkan kedelai 250 kilogram setiap hari untuk menghasilkan tahu putih 500 kilogram. Produksinya dikerjakan sebanyak lima pekerja dengan biaya mencapai lebih dari Rp5 juta. Kenaikan bahan pembuat tahu, dipastikan membuat biaya produksi membengkak.

‎"Ya terasa sekali dampaknya ketika harga kedelai impor naik akibat dolar naik, ditambah harga minyak goreng yang juga terus naik maka pendapatan juga turun," tuturnya.

‎Praptiwi mengaku dari 500 kilogram tahu putih yang diproduksi setiap hari, sebagian digoreng menjadi tahu pong dengan harga Rp28 ribu per kilogram. Sedangkan untuk tahu putih dijual Rp500 hingga Rp1.200 per biji sesuai ukuran.

‎"Ya kita memang sudah punya pelanggan tetap untuk tahu putih dan tahu pong. Biasanya tahu putih masuk ke pasar tradisional seperti Pasar Beringharjo. Tahu pong biasanya dipesan oleh restoran gudeg di Wijilanhingga hotel bintang yang ada di Yogyakarta," katanya.

‎"Kita produksi tahu itu dari pagi hingga sore, kemudian jam 02.00 WIB keesokan harinya baru kita antar ke Pasar Beringharjo, restoran gudeg di Mijilan dan hotel-hotel yang sudah rutin menjadi langganan kita. Ya kalau makan gudeg di Wijilan itu tahu pong yang saya produksi," imbuhnya.

3. Pembuat tahu skala kecil yang paling terdampak

Tahu putih segar (pixabay.com/mufidpwt)
Tahu putih segar (pixabay.com/mufidpwt)

Suami Praptiwi, Rusmaryadi menambahkan, di Kampung Tahu terdapat ratusan UMKM penghasil tahu. Dampak terbesar yang dirasakan adalah perajin kecil yang hanya memproduksi dalam jumlah sedikit yaitu sekitar 50-100 kilogram.

‎"Dengan bahan baku kedelai 50-100 kilogran tahu bisa diproduksi oleh satu keluarga. Merekalah yang paling terdampak karena produksi tahu biasanya hanya dijual di pasar tradisional yang ada di Bantul saja," ujarnya.

‎"Para perajin tahu yang kecil-kecil biasanya tidak mengurangi ukuran agar tetap laku meski dengan harga yang sama. Akibatnya keuntungan yang didapat juga turun drastis," ujarnya laki-laki berusia 49 tahun ini.

4. Jika harga kedelai terus naik, perajin tahu kecil bisa tutup

Kampung Tahu, Gunungsaren, Kalurahan Trimurti Kapanewon Srandakan Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)
Kampung Tahu, Gunungsaren, Kalurahan Trimurti Kapanewon Srandakan Bantul. (IDN Times/Daruwaskita)

Lebih lanjut Rusmaryadi mengatakan, perajin tahu akan menggunakan kayu untuk mengoleh tahu. Hal ini dapat meringankan beban produksi dibanding memakai gas elpiji.‎

‎"Ya mungkin kalau dolar tembus Rp20 ribu kemungkinan usaha tahu akan tutup sementara. Saya juga mungkin akan menghentikan sementara. Ya mau gimana lagi, wong harga tahu melonjak tinggi dan dipastikan penjualan lesu, kecuali yang sudah ada langganan tetap. Itupun perajin tahu belum tentu mau jika harga tidak naik," pungkasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Jogja

See More