Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Becak Listrik Jadi Wajah Transformasi Hijau di Kota Yogyakarta

Becak Listrik Jadi Wajah Transformasi Hijau di Kota Yogyakarta
Parade Kendaraan Nir Emisi dan Bazar UMKM Jogja Bersinar di Jalan Ipda Tut Harsono, Sabtu (6/6/2026). (Dok. Pemkot Yogyakarta)
Intinya Sih
  • Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Parade Kendaraan Nir Emisi dan Bazar UMKM Jogja Bersinar sebagai langkah nyata menuju pembangunan kota yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
  • Wali Kota Hasto Wardoyo menegaskan transformasi transportasi rendah emisi menjadi kebutuhan masa depan, dengan becak listrik sebagai inovasi yang tetap menjaga identitas budaya lokal Yogyakarta.
  • Pengemudi becak listrik merasakan penghematan biaya operasional dan kenyamanan kerja, sementara fasilitas pengisian daya gratis di Stasiun Tugu mendukung penggunaan kendaraan ramah lingkungan secara lebih luas.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Yogyakarta, IDN Times - Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Parade Kendaraan Nir Emisi dan Bazar UMKM Jogja Bersinar di Jalan Ipda Tut Harsono, Sabtu (6/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Puluhan kendaraan berbasis listrik, mulai dari becak listrik hingga mobil listrik, mengikuti parade tersebut. Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo, melepas langsung peserta parade yang kemudian melintasi sejumlah ruas jalan utama di Kota Yogyakarta, di antaranya Jalan Timoho, Jalan Jenderal Sudirman, Jalan Margo Utomo, Jalan Malioboro, Jalan Senopati, dan Jalan Kusuma Negara.

Dukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat

Menurut Hasto, kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pilihan yang diambil saat ini terhadap masa depan kota. Ia menjelaskan, penggunaan transportasi rendah emisi tidak hanya berkaitan dengan pelestarian lingkungan, tetapi juga mendukung peningkatan kualitas kesehatan masyarakat melalui udara yang lebih bersih, ruang kota yang nyaman, dan sistem transportasi yang lebih ramah lingkungan.

“Upaya mendorong transportasi rendah emisi bukan lagi sekadar pilihan, melainkan bagian dari kebutuhan dan arah pembangunan Kota Yogyakarta di masa depan,” ungkapnya dilansir laman resmi Pemkot Yogyakarta.

Inovasi yang pertahankan unsur budaya lokal

Peserta parade kendaraan nir emisi di Yogyakarta tersenyum dan berpose di atas becak saat acara Jogja Bersinar di Jalan Ipda Tut Harsono.
Parade Kendaraan Nir Emisi dan Bazar UMKM Jogja Bersinar di Jalan Ipda Tut Harsono, Sabtu (6/6/2026). (Dok. Pemkot Yogyakarta)

Hasto menyebut Pemerintah Kota Yogyakarta telah menjalankan sejumlah program untuk mendukung transportasi berkelanjutan. Upaya tersebut antara lain melalui penataan kawasan pedestrian Malioboro, pengembangan ruang publik yang lebih ramah bagi pejalan kaki, pembangunan jalur sepeda, serta konversi becak motor menjadi becak listrik.

"Langkah-langkah ini merupakan bagian dari upaya menghadirkan kota yang lebih sehat, manusiawi, dan berkelanjutan tanpa meninggalkan identitas khas Jogja," ungkapnya.

Menurut Hasto, becak listrik menjadi salah satu contoh penerapan inovasi yang tetap mempertahankan unsur budaya lokal. Selain mengurangi emisi, moda transportasi tersebut dinilai dapat menjaga keberadaan becak sebagai ciri khas Yogyakarta di tengah perkembangan teknologi.

Meski demikian, ia menegaskan transformasi menuju transportasi rendah emisi tidak hanya berfokus pada penggunaan kendaraan dan teknologi. Keterlibatan masyarakat juga menjadi aspek penting dalam proses perubahan tersebut.

Karena itu, Hasto menilai transformasi harus dilakukan secara bertahap dengan melibatkan berbagai pihak serta mempertimbangkan dampak sosial dan keberlanjutan ekonomi masyarakat.

“Kita tidak ingin perubahan ini justru menimbulkan kesenjangan baru. Sebaliknya, kita ingin memastikan bahwa transformasi menuju kota yang lebih hijau juga mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Pengemudi becak rasakan iritnya

Warsidi, pengemudi becak listrik di Yogyakarta, mengaku merasakan sejumlah manfaat sejak beralih dari becak motor ke kendaraan berbasis listrik. Ia menilai biaya operasional yang dikeluarkan kini lebih rendah dibanding saat masih menggunakan bentor.

Menurut Warsidi, penghematan terbesar berasal dari tidak adanya kebutuhan membeli bahan bakar minyak setiap hari. Seluruh operasional becak mengandalkan tenaga listrik sehingga pengeluaran hariannya dapat ditekan.

“Sudah sekitar satu tahun saya menggunakan becak listrik. Lebih irit dibanding dulu pakai bentor karena tidak perlu beli bensin lagi. Jadi pengeluaran sehari-hari bisa berkurang,” ujarnya.

Ia mengatakan pengisian daya baterai biasanya dilakukan di fasilitas stasiun pengisian yang tersedia di kawasan Stasiun Tugu Yogyakarta. Fasilitas tersebut dapat digunakan secara gratis oleh pengemudi becak listrik.

“Biasanya saya ngecas di Stasiun Tugu. Gratis. Waktu pengisiannya juga tidak lama, dari baterai kosong sampai penuh hanya sekitar tiga jam,” katanya.

Selain mengurangi biaya operasional, Warsidi menilai becak listrik juga memberikan kenyamanan saat digunakan untuk bekerja sehari-hari.

Ia berharap penggunaan kendaraan ramah lingkungan semakin luas di kalangan pengemudi becak sehingga dapat mendukung upaya pengurangan polusi udara di Kota Yogyakarta. Menurutnya, dukungan pemerintah terhadap pengembangan becak listrik juga menjadi langkah positif untuk mempertahankan keberadaan transportasi tradisional khas Yogyakarta sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi para pengemudi.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Jogja

See More