Ijtihad Jurnalistik, Cara Mustofa W Hasyim Merawat Tradisi Menulis

Suara Muhammadiyah membedah buku Ijtihad Jurnalistik karya Mustofa W Hasyim dalam rangka Milad ke-111, membahas perjalanan jurnalistik serta tradisi literasi dan seni di Muhammadiyah.
Mustofa memandang jurnalistik sebagai ikhtiar intelektual dan kebudayaan; pengalaman masa kecil dengan koran memicu minatnya pada pengetahuan, lalu mengantarkannya menekuni jurnalistik dan sastra.
Zuly Qodir menilai Mustofa menjadikan menulis, puisi, dan cerpen sebagai keseharian serta menjalankan kaderisasi Muhammadiyah melalui keteladanan, relasi, karya, dan dukungan di luar jalur formal.
Yogyakarta, IDN Times –Suara Muhammadiyah menggelar bedah buku Ijtihad Jurnalistik karya sastrawan sekaligus jurnalis senior Mustofa W Hasyim di Grha Suara Muhammadiyah, Selasa (11/8/2026). Agenda ini menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-111 Suara Muhammadiyah.
Bedah buku tersebut tidak hanya membahas perjalanan Mustofa di dunia jurnalistik, tetapi juga menyoroti bagaimana tradisi membaca, menulis, dan berkesenian dapat menjadi bagian dari kehidupan sekaligus jalur kultural dalam membangun Muhammadiyah.
Dalam pemaparannya, Mustofa mengungkapkan kecintaannya terhadap dunia jurnalistik bermula dari pengalaman sederhana bersama sang ayah ketika dirinya masih balita. Kala itu, sang ayah sengaja memberinya koran dan majalah untuk dimainkan. “Suara kertas yang robek membuatku tertawa gembira, dan Ayah membiarkannya,” kenang Mustofa.
Kebiasaan tersebut kemudian memunculkan rasa ingin tahu ketika Mustofa mulai memasuki usia taman kanak-kanak. Dari awalnya hanya tertarik merobek lembaran kertas, perhatian Mustofa perlahan beralih pada barisan huruf dan tulisan yang terdapat di balik gambar. Pengalaman masa kecil itu menjadi salah satu pintu masuk Mustofa untuk mengenal dunia pengetahuan hingga akhirnya menekuni jurnalistik dan sastra.
1. Jurnalistik bukan sekadar membuat berita

Bedah buku Ijtihad Jurnalistik karya sastrawan sekaligus jurnalis senior Mustofa W. Hasyim di Grha Suara Muhammadiyah, Selasa (11/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Melalui buku Ijtihad Jurnalistik, Mustofa menempatkan kerja jurnalistik bukan hanya sebagai aktivitas mengolah data dan memproduksi berita. Menurutnya, pers merupakan bagian dari ikhtiar intelektual dan kebudayaan. Seorang jurnalis dituntut memiliki kepekaan dalam membaca realitas sosial sekaligus keberanian menghadirkan pandangan yang dapat mencerahkan masyarakat.
Pandangan tersebut sejalan dengan pentingnya menjaga tradisi literasi yang selama lebih dari satu abad menjadi bagian dari perjalanan Suara Muhammadiyah. Media tersebut tidak hanya berfungsi sebagai saluran informasi, tetapi juga menjadi ruang pertukaran gagasan dan pembentukan kesadaran kritis.
Guru Besar Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir menilai tantangan literasi saat ini bukan semata-mata soal kemampuan teknis menulis. Persoalan yang lebih mendasar adalah bagaimana menjadikan menulis sebagai kebiasaan dan bagian dari kehidupan.
“Sekarang mengajari anak muda, termasuk mahasiswa, untuk menulis itu semakin sulit. Ketika disuruh menulis, mereka lebih memilih untuk tidak melakukannya,” kata Zuly.
Menurutnya, menulis kini kerap dipersepsikan sebagai beban. Mahasiswa menulis karena tuntutan tugas, kewajiban akademik, atau syarat kelulusan. “Sekarang banyak orang menulis karena tuntutan. Harus menulis supaya lulus. Harus menulis karena tugas akademik. Akhirnya menulis menjadi beban, bukan kebutuhan,” ujarnya.
2. Belajar Menulis dari Kehidupan Sehari-hari

Bedah buku Ijtihad Jurnalistik karya sastrawan sekaligus jurnalis senior Mustofa W. Hasyim di Grha Suara Muhammadiyah, Selasa (11/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Zuly melihat Mustofa W Hasyim sebagai contoh orang yang menjadikan menulis sebagai bagian dari keseharian. Menurutnya, bahan tulisan sebenarnya dapat ditemukan dari berbagai pengalaman sederhana.
Naik motor, berjalan, bertemu seseorang, maupun melihat peristiwa di sekitar, kata Zuly, semuanya dapat menjadi bahan tulisan apabila seseorang memiliki kepekaan untuk mengolahnya. “Bagaimana caranya agar menulis menjadi bagian dari hidup?” kata dia.
Bagi Zuly, Mustofa telah menunjukkan praktik tersebut. Menulis tidak selalu dilakukan demi mendapatkan honor atau memenuhi tuntutan tertentu, tetapi telah menjadi bagian alamiah dari kehidupan.
Tidak hanya melalui tulisan jurnalistik, Mustofa juga berkontribusi lewat puisi dan cerpen. Aktivitas berkesenian tersebut membuatnya dinilai memiliki posisi penting dalam perkembangan kebudayaan di lingkungan Muhammadiyah.
Zuly bahkan menyebut sulit menemukan budayawan di lingkungan Muhammadiyah yang memiliki karakter seperti Mustofa. “Saya merasa hampir tidak ada selain Mustofa Hasyim,” katanya.
Ia mengenang bagaimana Mustofa kerap hadir dalam berbagai kegiatan Muhammadiyah dan diminta membacakan puisi. Bahkan, puisi yang dibacakan tidak selalu dipersiapkan secara formal. Terkadang, kata Zuly, Mustofa menulis puisi di atas kertas seadanya dan langsung membacakannya. Bagi Zuly, hal itu menunjukkan bahwa menulis dan berkesenian telah menyatu dengan kehidupan Mustofa.
3. Kaderisasi Muhammadiyah lewat jalur kultural

Bedah buku Ijtihad Jurnalistik karya sastrawan sekaligus jurnalis senior Mustofa W. Hasyim di Grha Suara Muhammadiyah, Selasa (11/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Selain melalui karya jurnalistik dan sastra, Zuly menilai Mustofa memiliki kontribusi dalam kaderisasi Muhammadiyah melalui jalur kultural. Menurutnya, kekuatan Mustofa justru terletak pada kemampuannya melakukan kaderisasi tanpa formalitas organisasi.
“Pak Mustofa melakukan kaderisasi yang tanpa embel-embel dan formal. Sesuatu yang belakangan agak sulit dilakukan,” ujarnya.
Zuly menilai Muhammadiyah kini menghadapi tantangan untuk memperluas keterlibatan masyarakat di luar struktur formal organisasi. Menurutnya, seseorang dapat mengenal dan menghidupkan nilai-nilai Muhammadiyah tanpa harus selalu melalui seluruh mekanisme kaderisasi formal.
Namun, ia melihat identitas ke-Muhammadiyahan seseorang saat ini terkadang justru dipertanyakan ketika hendak mengikuti kegiatan organisasi. “Kalau akan ada acara-acara sekarang bahkan dituntut di tingkat ranting, orang yang dianggap Muhammadiyah harus jelas identitasnya,” katanya.
Menurut Zuly, pola tersebut berpotensi membuat Muhammadiyah kesulitan menjangkau masyarakat yang memiliki kedekatan dengan nilai-nilai Muhammadiyah, tetapi belum menjadi bagian dari struktur formal organisasi.
Ia juga mengenang pengalaman ketika dirinya pernah menghadapi tudingan dari sebagian pihak yang mempertanyakan identitasnya sebagai bagian dari Muhammadiyah. Saat itu, Mustofa menjadi salah satu sosok yang memberikan pembelaan dan dukungan kepadanya.
Bagi Zuly, pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kaderisasi tidak selalu berlangsung melalui forum resmi. Relasi, keteladanan, karya, hingga keberanian membela orang lain juga dapat menjadi bagian dari proses kaderisasi.




















