Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Simfoni 1001 Pembatik di Malioboro Ajak Anak Muda Lebih Mindful

Kota Yogyakarta
3 min read
Simfoni 1001 Pembatik di Malioboro Ajak Anak Muda Lebih Mindful
Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Simfoni 1001 Pembatik di sepanjang Jalan Malioboro, Sabtu (3/10/2026). (Dok. Pemkot Yogyakarta)
  • Pemkot Yogyakarta menggelar Simfoni 1001 Pembatik di Malioboro untuk HUT ke-270 Kota Jogja dan Hari Batik Nasional 2026, melibatkan 1.000 peserta.
  • Wakil Wali Kota Wawan Harmawan menilai membatik dengan canting melatih kesabaran, ketelitian, konsentrasi, dan mindfulness bagi generasi muda yang terbiasa serba cepat.
  • Kementerian Perindustrian mendorong pelestarian serta daya saing batik melalui fasilitasi industri dan program Batik Go to Government, sembari mengajak masyarakat serta pelajar mendukung batik asli Indonesia.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Yogyakarta, IDN Times - Memperingati HUT ke-270 Kota Jogja dan Hari Batik Nasional 2026, Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Simfoni 1001 Pembatik di sepanjang Jalan Malioboro, Sabtu (3/10/2026). Kegiatan membatik bersama ini melibatkan 1.000 peserta dari kawasan Toko Batik Terang Bulan hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta.

Rangkaian acara dimulai pukul 06.00 WIB dengan pelepasan sepeda batik yang berakhir di Titik Nol Kilometer. Setelah itu, peserta mengikuti kegiatan membatik bersama dengan jumlah peserta mencapai 1.000 orang.

  1. Ajak generasi muda lebih mindful lewat membatik

    Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya menunjukkan bahwa Yogyakarta sebagai Kota Batik Dunia terus menjaga dan mengembangkan batik. Ia menilai proses membatik menggunakan canting juga dapat menjadi sarana untuk mengenalkan nilai kesabaran dan ketelitian kepada generasi muda.

    “Ini kesempatan pertama saya memegang batik. Yang paling penting adalah ini dimulai dengan canting,” jelas Wawan pada Sabtu, dilansir laman resmi Pemkot Yogyakarta.

    Menurut Wawan, membatik dengan canting membutuhkan kesabaran dan ketelitian yang relevan dengan kehidupan generasi muda yang terbiasa dengan aktivitas serba cepat. “Buat orang yang kesabarannya, kalau anak muda sekarang bilang kesabaran saya setipis tisu, ini kayaknya tantangan besar,” ujarnya.

    Ia juga menyebut aktivitas membatik membutuhkan konsentrasi dan ketenangan sehingga dapat melatih mindfulness. “Membatik itu juga salah satu cara healing, alias mindful. Harus mindful karena kalau tidak pasti belok-belok, mencong-mencong,” katanya.

    Wawan menegaskan, upaya melestarikan batik tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah. Peran masyarakat dan berbagai elemen lainnya diperlukan agar batik tetap hidup dan berkembang.

  2. Beragam upaya menjaga kelestarian batik

    Peserta Simfoni 1001 Pembatik mengenakan busana batik dalam acara Pemerintah Kota Yogyakarta di Jalan Malioboro.
    Pemerintah Kota Yogyakarta menggelar Simfoni 1001 Pembatik di sepanjang Jalan Malioboro, Sabtu (3/10/2026). (Dok. Pemkot Yogyakarta)

    Kepala Badan Standardisasi dan Kebijakan Jasa Industri Kementerian Perindustrian, Emi Suryandari, mengatakan pengembangan batik perlu berjalan seiring dengan upaya menjaga batik sebagai bagian dari budaya Indonesia.

    “Upaya tersebut kami arahkan untuk bagaimana batik sebagai industri atau sebagai budaya kita itu industrinya bisa tetap tumbuh, mempunyai daya saing, inovasi, dan juga berkelanjutan,” ungkapnya.

    Pemerintah juga memberikan sejumlah fasilitasi bagi industri, seperti sertifikasi halal, SNI industri hijau, dan verifikasi gas rumah kaca. Melalui program Batik Go to Government, Kementerian Perindustrian juga mengajak 628 instansi pemerintah di seluruh Indonesia untuk memahami pentingnya mengenal, menggunakan, dan mendukung batik asli Indonesia.

    Emi menekankan bahwa batik bukan sekadar kain bermotif, tetapi juga mencakup proses pembuatannya. “Batik ini bukan hanya sekadar kain yang terlihat seperti motif batik, tetapi prosesnya pun juga proses membatik,” ujarnya.

    Ia mengajak masyarakat menggunakan batik asli Indonesia sekaligus mendukung keberlangsungan industri batik. “Pelestarian batik membutuhkan gerakan bersama,” katanya.

    Menurut Emi, generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan batik Indonesia. Ia pun mengajak peserta Simfoni 1001 Pembatik untuk mengenal dan mencintai batik. “Kalau tidak, maka budaya ini tidak akan ada yang melestarikan,” tegasnya.

  3. Generasi muda perlu terlibat menjaga batik sebagai warisan

    Pelestarian batik juga mendapat perhatian dari para pelajar yang mengikuti Simfoni 1001 Pembatik. Salah satunya Sarah (17), pelajar SMP Muhammadiyah Kasihan, yang mengaku mendapat pengalaman baru dari kegiatan tersebut.

    Ia mengatakan, membatik memberinya kesempatan untuk mengenal budaya lokal melalui praktik secara langsung. Menurutnya, generasi muda perlu terlibat dalam menjaga batik sebagai bagian dari warisan leluhur.

    “Kita harus lestarikan budaya batik seperti ini karena menginspirasi dari zaman-zaman lampau. Terutama dalam membatik tulis membutuhkan ketelitian. Kita melukis batik pelan-pelan agar tidak meluber keluar dari pola. Tetapi membatik ternyata kegiatan yang sangat seru,” ungkapnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More