Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Papermoon Gelar Pesta Boneka #10, Dunia Bergandengan Tangan di Jogja

Kota Yogyakarta
5 min read
Papermoon Gelar Pesta Boneka #10, Dunia Bergandengan Tangan di Jogja
Konferensi pers Pesta Boneka #10 di Yogyakarta. (Dok. Papermoon)
  • Papermoon Puppet Theatre merayakan 20 tahun perjalanan dengan Pesta Boneka #10 di Yogyakarta, 6–11 Oktober 2026, yang menghadirkan 193 seniman dari 24 negara.
  • Bertema "Holding Hands", festival melibatkan 33 grup dan menekankan kasih sayang, solidaritas, serta kolaborasi, termasuk produksi Shank's Mare oleh 16 seniman dari 10 negara.
  • Festival menyajikan pertunjukan inklusif, film dan donasi bagi seniman Palestina serta Iran, puluhan pertunjukan, workshop, bazar, dan tiket gratis untuk anak usia tujuh tahun ke bawah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Yogyakarta, IDN Times - Apa yang bisa dilakukan orang-orang biasa dari sebuah kelompok teater boneka kecil di selatan Yogyakarta? Dua dekade kemudian, jawabannya berupa festival yang mempertemukan 193 seniman dari 24 negara.

Tahun 2026 menandai 20 tahun perjalanan Papermoon Puppet Theatre. Selama itu, mereka telah memproduksi lebih dari 35 karya berupa pertunjukan, pameran, instalasi, dan kolaborasi secara independen. Kisah mereka sudah dibawa ke penonton di lebih dari 12 negara dan 4 benua.

Untuk merayakannya, Papermoon kembali menggelar Pesta Boneka #10 pada 6-11 Oktober 2026 di Yogyakarta. Festival dua tahunan ini bermula dari program residensi sederhana pada 2008 bersama seniman dari empat negara. Kini ia tumbuh organik menjadi salah satu festival teater boneka independen yang diperhitungkan di kancah internasional.

  1. Tema "Holding Hands" dan impian tentang hutan

    Maria Tri Sulistyani, direktur artistik Pesta Boneka, menyampaikan sambutan dalam konferensi pers Pesta Boneka #10 di Yogyakarta.
    Konferensi pers Pesta Boneka #10 di Yogyakarta. (Dok. Papermoon)

    Tahun ini, Pesta Boneka melibatkan 33 grup dan 193 seniman dari 24 negara dengan tema "Holding Hands". Tema ini merefleksikan gestur berpegangan tangan yang lahir dari kasih sayang, solidaritas, dan ajakan untuk saling meraih di tengah meningginya batas-batas dunia.

    Pendiri Papermoon, Maria Tri Sulistyani atau Ria Papermoon, mengatakan tema ini lahir dari tema festival sebelumnya.

    "Dua tahun lalu tema kita adalah Seeds of Hope, menebar benih harapan. Kalau sudah ditebar, harus dijaga, dan kita tidak bisa menjaganya sendiri. Melalui 'Holding Hands', kita diajak untuk melakukan sesuatu yang fisik dan saling terhubung. Papermoon sendiri bisa bertahan selama 20 tahun karena kami selalu dibantu dan membantu kanan-kiri," ujarnya.

    Dalam konferensi pers di Artotel Yogyakarta, Jumat (2/10/2026), Ria juga bercerita tentang cita-cita lama Papermoon: membangun hutan. Menurutnya, hutan itu kini mulai tumbuh lewat orang-orang yang punya rasa yang sama.

    "Sekarang kita lagi membangun bibit-bibit hutannya, dimulai dari orang-orang yang punya rasa yang sama, mau menjaga tidak hanya lewat teater boneka," kata Ria.

    Bagi Ria, Jogja adalah tanah yang membentuk semangat itu.

    "Jogja itu tempatnya gandengan tangan, tempat orang berkolaborasi, tempat orang akan selalu berpikir untuk mengembalikan kepada masyarakatnya," ucapnya.

  2. Shank's Mare, karya besar tanpa honor

    Suasana konferensi pers Pesta Boneka #10 di Yogyakarta, acara yang didokumentasikan oleh Papermoon untuk publik.
    Konferensi pers Pesta Boneka #10 di Yogyakarta. (Dok. Papermoon)

    Salah satu program istimewa tahun ini adalah Puppet Camp Shank's Mare - Yogyakarta Version. Program ini merupakan adaptasi kolaboratif karya teater boneka berbasis visual dari Tom Lee (Yara Arts Group, Amerika Serikat) bersama maestro kuruma ningyo asal Jepang, Koryu Nishikawa V. Prosesnya melibatkan 16 seniman dari 10 negara.

    Ria mengungkapkan, gagasan ini bermula dua tahun lalu. Saat naik bus seusai welcome lunch Pesta Boneka di Studio Papermoon, Tom duduk di sebelahnya dan berkata ingin membawa Shank's Mare ke Jogja dua tahun lagi. Ria tahu produksi itu tidak kecil, sementara festival tidak punya dana besar.

    "Kami enggak punya uang. Papermoon, Pesta Boneka itu enggak punya uang. Tidak ada satu pun seniman ini yang kami bayar fee," kata Ria.

    Para seniman tetap datang. Bahkan, mereka mengajukan proyek untuk tinggal di Jogja selama dua minggu dan berproses bersama.

    "Ini menurut saya satu bentuk gandengan yang luar biasa," ujar Ria.

    Tom Lee mengatakan, ia tidak ingin sekadar membawa karyanya berkeliling ke Indonesia. Momen kali ini baginya berbeda.

    "Saya tidak mau sekadar membawa karya saya bersama kolaborator berkeliling ke Indonesia. Tentu saja itu sudah sering saya lakukan. Tapi ini momen istimewa: 10 tahun festival, 20 tahun Papermoon, dan gagasan yang disampaikan Ria tentang menumbuhkan hutan," kata Tom (diterjemahkan dari bahasa Inggris).

  3. Pertunjukan inklusif dan solidaritas untuk Palestina dan Iran

    Pesta Boneka #10 - Press Conference - Penjelasan Program - Andreas Praditya (Artistic Director Pesta Boneka) - Fotografer Rangga.jpg
    Konferensi pers Pesta Boneka #10 di Yogyakarta. (Dok. Papermoon)

    Pesta Boneka #10 juga menghadirkan HU木AN Indonesia, kolaborasi The Artground (Singapura), Sensorium Theatre (Australia), dan Papermoon Puppet Theatre. Pertunjukan ini berawal dari program mentorship pada 2019 dan berkembang lewat berbagi metode penciptaan pertunjukan berbasis sensori bagi anak-anak neurodiversitas. Prosesnya telah berjalan di Perth, Singapura, dan Adelaide, dengan dukungan UNESCO dan Temasek Foundation.

    Direktur Festival Pesta Boneka #10, Andreas Praditya, mengatakan festival tahun ini juga ingin bergandengan tangan dengan seniman boneka di wilayah konflik.

    "Termasuk dengan tema 'Holding Hands' tahun ini, kami juga ingin punya andil untuk bergandengan tangan dengan sahabat-sahabat puppeteer di Palestina dan di Iran," kata Andreas.

    Pada 8 Oktober, festival memutar film karya dan respons atas karya Mahdi Karirah, seniman Palestina yang aktif berkarya di Gaza. Pada 10 Oktober, festival memutar Beyond the Strings karya Salma Mohseni dari Iran. Di kedua pemutaran, panitia membuka donasi yang akan dikirim langsung kepada para seniman tersebut.

  4. Tiket gratis untuk anak dan puluhan pertunjukan yang masih bisa ditonton

    Seorang penampil berada di panggung saat konferensi pers Pesta Boneka #10 yang digelar Papermoon di Yogyakarta.
    Konferensi pers Pesta Boneka #10 di Yogyakarta. (Dok. Papermoon)

    Berkat dukungan UNESCO Jakarta, panitia menyediakan tiket gratis untuk anak berusia 7 tahun ke bawah. Selebihnya tetap melalui registrasi.

    "Untuk anak 7 tahun ke bawah itu bisa gratis," ujar Andreas.

    Pertunjukan HU木AN dan Shank's Mare pada 6 dan 7 Oktober sudah sold out. Namun, Andreas menegaskan masih banyak pertunjukan lain yang bisa diakses. "Sebenarnya masih banyak sekali pertunjukan yang bisa diakses," katanya.

    Pada 8-11 Oktober, ada sekitar 26 pertunjukan, atau 6 sampai 8 pertunjukan setiap hari. Semuanya digelar di Ruang Panahan Kompleks Kampung Media yang memiliki sekitar lima panggung. Beberapa titik di area terbukanya bisa diakses bebas oleh siapa pun.

    Selain pertunjukan, ada sejumlah program publik:

    • Craft Bazaar: 15 tenant hasil open call dan kurasi, ditambah sekitar 10 tenant makanan dan minuman terkurasi.
    • Workshop anak: digelar bersama Dus Dugdug dan Papermoon Puppet Theatre. Hasilnya diparadekan bersama semua peserta pada hari Minggu.
    • When Puppeteers Cook: setiap seniman punya konter untuk memasak makanan dari negaranya pada Minggu pagi, dan pengunjung bisa mencicipinya bersama.
    • Pemutaran film ALA Movies (Asian-Latin America-Africa Puppet Movies) serta film boneka dari Iran dan Palestina, lokakarya, diskusi, dan masterclass.

    Informasi lengkap Pesta Boneka #10 bisa diakses lewat kanal media sosial resmi dan situs www.pestaboneka.com.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More