Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

JABFEST 2026 Hadirkan Buku, Seni, Musik, dan Percakapan Tentang Negara

Kab. Bantul
2 min read
JABFEST 2026 Hadirkan Buku, Seni, Musik, dan Percakapan Tentang Negara
Pembukaan Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026, di The Ratan Yogyakarta, Rabu (30/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • JABFEST 2026 digelar di The Ratan, Yogyakarta, pada 30 September–12 Oktober, menggabungkan buku, seni rupa, musik, dan percakapan publik bertema “Saksi Mata”.

  • Festival ini memandang literasi sebagai ruang bertanya dan kegelisahan, menghadirkan tokoh seperti Alissa Wahid, Martin Suryajaya, Majelis Lidah Berduri, dan Saut Situmorang.

  • Melalui delapan program terbuka untuk umum, JABFEST mendorong seni menjaga ingatan, membuka kritik, serta mengajak publik terlibat dalam proses kreatif dan percakapan.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bantul, IDN Times — Bagaimana cara kita melihat negara ketika suara publik mulai terdengar semakin pelan? Pertanyaan itu coba dibuka melalui Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026 yang kembali digelar untuk keempat kalinya. Mengusung tema “Saksi Mata: Ketika Pendangkalan Berkuasa, Pendalaman Harus Bekerja”, JABFEST 2026 berlangsung di The Ratan, Yogyakarta, selama dua pekan, mulai Rabu (30/9/2026) hingga Senin (12/10/2026).

Festival ini mempertemukan literasi, seni rupa, musik, dan percakapan publik untuk membuka kembali catatan yang mungkin terlewat. JABFEST ingin mengajak masyarakat melihat perubahan bukan hanya melalui peristiwa besar, tetapi juga dari cara orang bertutur, mengingat, membaca, dan menyampaikan kegelisahan.

  1. 1. Literasi bukan sekadar membaca buku

    Pembukaan Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026, di The Ratan Yogyakarta, Rabu (30/9/2026).
    Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026, di The Ratan Yogyakarta, Rabu (30/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo).

    Ketua Program JABFEST 2026, Dodo Hartoko, mengatakan festival menjadi ruang pertemuan antara dunia literasi dan seni rupa. Menurutnya, literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi juga menjadi ruang untuk mempertanyakan berbagai hal.

    “Keistimewaan sebuah festival ada pada keberanian mempertemukan dunia literasi dan dunia seni rupa dalam satu napas kebudayaan. Literasi bukan ruang kosong. Ia ruang tanya. Di dalamnya kita membaca dan digelisahkan bersama. Karena tanpa kegelisahan, tidak akan ada perubahan,” ujar Dodo, Rabu (30/9/2026).

    Sejumlah tokoh akan hadir dalam rangkaian JABFEST 2026, di antaranya Alissa Wahid yang berbicara tentang toleransi sebagai kerja sehari-hari, filsuf Martin Suryajaya, band Majelis Lidah Berduri, hingga sastrawan Saut Situmorang. Kehadiran mereka menjadi bagian dari upaya JABFEST menghadirkan beragam perspektif dalam membaca persoalan sosial, kebudayaan, hingga kekuasaan.

  2. 2. Seni menjadi cara untuk melawan pelupaan

    Pembukaan Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026, di The Ratan Yogyakarta, Rabu (30/9/2026).
    Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026, di The Ratan Yogyakarta, Rabu (30/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo).

    Kurator Pameran JABFEST 2026, Ayos Purwoaji, mengatakan seni dapat menjadi medium untuk menjaga ingatan sekaligus membuka ruang kritik. “Seni dapat menjadi saksi mata untuk menolak pelupaan, untuk merebut kembali bahasa ketika suara publik disumbat,” kata Ayos.

    Menurut dia, pameran dalam JABFEST 2026 menempatkan praktik artistik sebagai upaya membuka ruang bagi kritik, ingatan, dan imajinasi kolektif. “Dengan begitu, karya seni tidak hanya diposisikan sebagai sesuatu yang dinikmati secara visual, tetapi juga sebagai medium untuk membangun percakapan tentang kondisi masyarakat,” ujarnya.

  3. 3. Ada delapan program selama acara berlangsung

    Pembukaan Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026, di The Ratan Yogyakarta, Rabu (30/9/2026).
    Jogja Art + Books Festival (JABFEST) 2026, di The Ratan Yogyakarta, Rabu (30/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo).

    JABFEST 2026 menyiapkan delapan program utama yang bisa diikuti masyarakat, meliputi Ngobrolin Buku, Berbincang, Pidato Kebudayaan, Kuliah (Ora) Umum, Seniman Bicara, Seni + Literasi, dan Bazar Buku.

    Rangkaian program dirancang agar publik tidak sekadar hadir sebagai penonton, tapi juga didorong terlibat dalam proses kreatif dan percakapan yang berlangsung selama festival.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More