Keren, Remaja 14 Tahun di Jogja Gelar Pameran Foto Terjebak Dalam Waktu

- Anggarakzza Rayyi Pagihari, siswa 14 tahun dari SALAM Yogyakarta, menggelar pameran fotografi tunggal perdana “Terjebak Dalam Waktu” di Kumpeni Coffee & Art Space pada 26 September–2 Oktober 2026.
- Melalui enam serial, Rayyi memakai teknik slow shutter untuk merekam aksi sosial, jathilan, teater, bulu tangkis, pantomim, dan perayaan seni dengan perpaduan gerak buram serta detail tajam.
- SALAM mendukung pengembangan potensi siswa, sementara jurnalis foto senior menilai karya Rayyi memanfaatkan motion blur sebagai bahasa visual untuk menangkap dinamika, emosi, dan perjalanan waktu.
Yogyakarta, IDN Times – Usianya baru 14 tahun, tetapi Anggarakzza Rayyi Pagihari sudah menggelar pameran fotografi tunggal pertamanya. Siswa kelas VIII SMP Sanggar Anak Alam (SALAM) Yogyakarta ini memamerkan sejumlah karya dalam pameran bertajuk Terjebak Dalam Waktu di Kumpeni Coffee & Art Space, Yogyakarta, pada Sabtu (26/9/2026) – Jumat (2/10/2026).
Lewat teknik slow shutter, Rayyi menangkap berbagai peristiwa di sekitarnya, mulai dari aksi sosial, kesenian tradisional, pertunjukan teater, hingga aktivitas olahraga. Foto-fotonya mengeksplorasi gerak, cahaya, dan waktu untuk menghadirkan cerita dari sudut pandang seorang remaja.
Pendiri sekaligus Pembina Sanggar Anak Alam, Sri Wahyaningsih, mengapresiasi keberanian Rayyi menggelar pameran tunggal di usia muda. Menurutnya, Rayyi mulai menemukan jati diri sekaligus mengembangkan potensi yang dimilikinya.
"Di tengah ketidakpastian dan kecemasan, Rayyi sudah mulai menempatkan jati dirinya dan menemukan potensinya. Usianya baru 14 tahun, tetapi sudah memberanikan diri mengadakan pameran tunggal," ujar Wahya, Kamis (3/10/2026).
1. Eksplorasi gerak lewat enam serial foto

Pameran foto bertajuk Terjebak Dalam Waktu di Kumpeni Coffee & Art Space, Yogyakarta. (Dok.Istimewa) Rayyi telah menekuni fotografi sejak duduk di kelas IV SD. Dalam pameran perdananya, ia menghadirkan enam serial karya yang merekam beragam peristiwa sosial dan budaya.
Teknik slow shutter menjadi pendekatan utama dalam karya-karyanya. Teknik ini memanfaatkan waktu bukaan rana yang lebih lama untuk menangkap jejak gerakan objek dalam satu bingkai, sehingga menghasilkan efek kabur atau blur.
Namun, Rayyi tidak sekadar mengandalkan efek tersebut. Ia memadukan jejak gerakan dengan bagian gambar yang tetap tajam untuk mempertahankan detail tertentu sekaligus menghadirkan kesan dinamis.
"Di pameran ini aku memamerkan foto yang kalau orang lihat bisa dianggap ngeblur. Aku menggunakan teknik slow shutter, waktu kamera membuka sensor lebih lama sehingga ada efek ngeblur tetapi tetap ada bagian yang tajam," jelas Rayyi.
Enam serial yang dipamerkan mengangkat tema berbeda. Antara lain Ketika Dapur Turun ke Jalan merekam aksi sosial komunitas Ibu Berisik bertajuk "Jalan Sore Pukul Panci", dari Tugu Golong Gilig hingga Bundaran UGM. Dalam aksi tersebut, peserta membenturkan alat dapur ke udara sebagai bentuk protes atas maraknya kasus keracunan massal dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Sementara itu, Jathilan di Ruang Bermain mengabadikan aktivitas anak-anak kelas minat jathilan saat berlatih di lapangan Sanggar Anak Alam. Rayyi merekam gerakan mereka dalam suasana latihan yang cair, tanpa sekat ritual yang kaku.
Serial Teater: To The Fallen Trees menghadirkan ekspresi dan gerak para pemain di atas panggung. Adapun Menangkap Gerakan merekam ritme serta kecepatan pertandingan bulu tangkis di tengah keterbatasan ruang GOR Teratai pada 10 Agustus 2026.
Dua serial lainnya yakni Life Is Short mendokumentasikan pementasan pantomim seniman Asita Kaladewa dalam Parade Pertunjukan Pantomim SOWAN, serta CONTROLLED CHAOS yang merekam interaksi penampil dan penonton dalam Pentas Ekspresi 26 Tahun Sanggar Anak Alam. Dalam serial terakhir, Rayyi menangkap suasana perayaan seni tanpa barikade yang membatasi penampil dengan penonton.
2. SALAM beri ruang bagi anak mengembangkan potensi

Pameran foto bertajuk Terjebak Dalam Waktu di Kumpeni Coffee & Art Space, Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Wahya menegaskan, SALAM berkomitmen menyediakan ruang, waktu, dan kesempatan bagi siswa untuk mengembangkan potensi serta mengekspresikan pilihan hati nurani masing-masing. Menurutnya, setiap anak memiliki minat dan kemampuan berbeda yang perlu mendapat kesempatan untuk tumbuh. Ia mencontohkan siswa SALAM yang mengembangkan minat di bidang paralayang hingga pembuatan komik.
Pendidikan, kata Wahya, perlu memberi ruang bagi anak untuk menemukan dan mengembangkan kemampuannya sendiri, tanpa harus mengikuti pilihan yang seragam. Ia berharap pameran Terjebak Dalam Waktu menjadi awal perjalanan Rayyi dalam berkarya sekaligus mendorong siswa lain berani menunjukkan potensi diri.
Wahya juga menyampaikan apresiasi kepada keluarga, teman-teman, serta orang-orang yang telah mendampingi proses kreatif Rayyi hingga pameran tersebut terlaksana.
3. Jurnalis foto senior apresiasi karya Rayyi

Pameran foto bertajuk Terjebak Dalam Waktu di Kumpeni Coffee & Art Space, Yogyakarta. (Dok.Istimewa) Eksplorasi fotografi Rayyi turut mendapat perhatian dari praktisi dan jurnalis foto senior Indonesia. Jurnalis foto Agence France-Presse (AFP), Aka Rahman, dalam catatan kuratorialnya menyoroti kejelian Rayyi memanfaatkan teknik motion blur untuk menangkap dinamika kehidupan.
Menurut Aka, garis-garis buram dan bayangan dalam foto Rayyi bukan sekadar menunjukkan ketidakfokusan. Elemen tersebut justru menjadi bagian dari pendekatan visual untuk merekam peristiwa dan waktu yang terus berjalan.
"Lewat sudut pandangnya, Rayyi menangkap kepulan emosi dan dinamika kehidupan; mulai dari ayunan perkakas dapur dalam demonstrasi ibu-ibu, hentakan kaki penari Jathilan, liukan tubuh seniman tari, hingga kepakan raket anak-anak yang berlatih bulutangkis. Ini adalah aliran energi yang dibekukan secara jujur," tulis Aka Rahman.
Apresiasi juga datang dari Ketua Pewarta Foto Indonesia (PFI) Yogyakarta sekaligus jurnalis foto Kantor Berita ANTARA, Andreas Fitri Atmoko. Ia menilai eksplorasi teknik slow shutter Rayyi mampu mengubah peristiwa sesaat menjadi pengalaman visual yang mendalam.
"Teknik ini memungkinkan fotografer menangkap detail peristiwa yang tidak bisa dilihat jelas oleh mata manusia dalam kondisi normal. Rayyi menginterpretasikan gerakan sebagai bagian dari bahasa visual untuk membangun cerita, memberikan kesan dramatis, misterius, sekaligus emosional," papar Andre.
Sementara itu, pengantar katalog pameran ditulis oleh Andaru A., siswa kelas XI SMA SALAM. Ia menyebut fotografi bagi Rayyi telah berkembang dari sekadar alat untuk merekam gambar menjadi media ekspresi diri yang membebaskan.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)


















