Konsumsi Pertalite Lebihi Kuota, Pemda DIY Ajukan Tambahan Pasokan

Migrasi konsumsi dari Pertamax ke Pertalite di DIY dan Jawa Tengah menaikkan konsumsi Pertalite sekitar 7 persen, sekaligus memicu antrean di sejumlah SPBU.
Hingga September 2026, penyaluran Pertalite DIY mencapai 388.837 kiloliter atau 103 persen kuota; Pemda mengajukan tambahan kuota Pertalite dan solar ke pemerintah pusat.
Menjelang Nataru, kebutuhan Pertalite DIY diproyeksikan mencapai 104,57 persen kuota dan Biosolar 105,08 persen, seiring potensi lonjakan kunjungan wisatawan akhir tahun.
Yogyakarta, IDN Times – Peralihan konsumsi dari BBM nonsubsidi Pertamax ke BBM subsidi Pertalite mulai terasa di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Pergeseran konsumsi tersebut turut membuat realisasi penyaluran Pertalite melampaui kuota yang ditetapkan pemerintah.
Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan, mengatakan konsumsi Pertalite di DIY dan Jawa Tengah menunjukkan peningkatan seiring migrasi BBM nonsubsidi. "Memang sudah terjadi migrasi konsumsi ya, non subsidi Pertamax ke Pertalite. Pertalite sekarang konsumsi naik sekitar 7 persen," kata Taufiq, di Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).
Menurutnya, peningkatan konsumsi tersebut berdampak pada antrean di sejumlah SPBU. Kondisi antrean bahkan membuat beberapa SPBU harus mengambil inisiatif untuk mempercepat pelayanan kepada konsumen. Terlebih, kondisi cuaca yang panas dapat membuat konsumen tidak nyaman ketika harus mengantre dalam waktu lama.
"Masing-masing SPBU itu berinisiatif bagaimana caranya supaya antrean cepat. Karena cuacanya panas sekarang, seorang antre, hawanya emosi. Sehingga masing-masing SPBU berusaha bagaimana caranya melakukan inisiatif untuk mempercepat antrean," ujar Taufiq.
1. SPBU diharap berinovasi cegah antrean panjang

Area Manager Communication, Relations & CSR Regional Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Taufiq menjelaskan, pengaturan teknis antrean merupakan kewenangan masing-masing SPBU. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah membatasi pembelian berulang oleh konsumen. Hal ini dilakukan untuk mencegah konsumen yang sama berulang kali mengantre dan membeli BBM, sementara konsumen lain harus menunggu lebih lama.
"Misalnya SPBU-A antreannya sudah di badan jalan. Ada lagi SPBU yang mungkin antreannya sudah mengular terlalu berlebihan. Mereka melakukan serangkaian pengaturan, mulai dari dilarang melakukan pembelian berulang," katanya.
Menurut Taufiq, persoalan tersebut tidak hanya membutuhkan pengaturan dari pengelola SPBU, tetapi juga pengawasan dari pemerintah daerah. Pertamina, kata dia, memiliki keterbatasan dalam melakukan penegakan hukum terhadap konsumen yang melakukan pembelian BBM subsidi secara berulang.
"Kalau Pertamina kan kita enggak bisa melakukan penegakan hukum, ngasih sanksi ke konsumen kan enggak bisa," ujarnya.
2. Realisasi Pertalite di DIY Mencapai 103 Persen

ilustrasi SPBU (unsplash.com/Aldrin Rachman Pradana) Di Jogja hingga September 2026, penyaluran Pertalite di DIY telah mencapai 388.837 kiloliter atau sekitar 103 persen dari kuota. Jika tren konsumsi berlanjut hingga akhir tahun tanpa tambahan kuota, realisasi Pertalite di DIY diperkirakan mencapai sekitar 104,7 persen dari kuota yang ditetapkan.
Sementara secara keseluruhan wilayah Jawa Tengah dan DIY, realisasi penyaluran Pertalite hingga September telah mencapai sekitar 2,8 juta kiloliter atau 101 persen dari kuota.
Melihat kondisi tersebut, Pemerintah Daerah DIY telah mengajukan tambahan kuota Pertalite dan solar kepada pemerintah pusat. Pertamina telah menerima tembusan pengajuan tersebut dan kini menunggu persetujuan dari Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi (Ditjen Migas).
"Alhamdulillah Pemda DIY sudah mengajukan ke Dirjen Migas. Nanti kita tinggal menunggu approval dari Dirjen Migas. Harapannya itu nanti bisa membuat lega masyarakat," kata Taufiq.
3. Jelang Nataru ketersediaan BBM jadi perhatian

Ilustrasi SPBU. (Dok. Istimewa) Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY) bersiap menghadapi potensi lonjakan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) menjelang masa liburan Natal 2026 dan Tahun Baru 2027 atau Nataru. Konsumsi Pertalite dan Biosolar bahkan diproyeksikan melampaui kuota yang ditetapkan sepanjang 2026.
Kepala Biro Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setda DIY, Atik Sudarmi menyampaikan, mengacu prognosa PT Pertamina Patra Niaga Regional Jawa Bagian Tengah, kebutuhan Pertalite di DIY diperkirakan mencapai 104,57 persen dari kuota yang tersedia. Sementara konsumsi Biosolar diproyeksikan menembus 105,08 persen.
Kondisi tersebut menjadi dasar Pemda DIY untuk mengajukan tambahan kuota kedua jenis BBM tersebut. Atik mengatakan, peningkatan konsumsi perlu diantisipasi karena DIY merupakan salah satu daerah tujuan wisata yang mengalami peningkatan kunjungan pada akhir tahun.Â
"DIY merupakan daerah tujuan pariwisata yang selalu menunjukkan tren peningkatan kunjungan wisatawan menjelang akhir tahun. Diperkirakan akan terjadi lonjakan permintaan dan konsumsi BBM yang signifikan pada saat menjelang liburan Nataru," katanya, Jumat (2/10/2026).
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















