Ide Kreatif Melimpah, Ekraf Yogyakarta Masih Punya PR untuk Naik Kelas

- Pemkot Yogyakarta dan GEKRAFS DIY menyoroti potensi besar SDM kreatif, tetapi pelaku ekraf dan UMKM masih terkendala permodalan, branding, serta eksekusi produk untuk scale up.
- GEKRAFS DIY periode 2026-2029 akan memfasilitasi kolaborasi dengan pemerintah, swasta, investor, dan jejaring internasional melalui agenda seperti Jogja Cultural Festival, Meet the Investor, serta sertifikasi.
- Pengembangan ekraf juga menyasar mahasiswa melalui pembentukan GEKRAFS kampus di Yogyakarta, agar mereka belajar berorganisasi, membangun bisnis, dan terhubung dengan pelaku UMKM berpengalaman.
Yogyakarta, IDN Times – Yogyakarta dikenal sebagai kota yang melahirkan banyak gagasan kreatif. Namun, melimpahnya ide belum membuat seluruh pelaku ekonomi kreatif (ekraf) mampu berkembang menjadi bisnis yang kuat dan menembus pasar lebih luas.
Tantangan tersebut kini coba dijawab Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta bersama Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) DIY periode 2026-2029, yang resmi dilantik di Balai Kota Yogyakarta, Jumat (2/10/2026).
Wakil Wali Kota Yogyakarta, Wawan Harmawan, mengatakan potensi sumber daya manusia (SDM) kreatif di Kota Yogyakarta sangat besar. Banyak pelaku muda dengan gagasan baru yang perlu didorong agar tidak berhenti pada tahap kreativitas, tetapi bisa berkembang dan memiliki jangkauan pasar lebih luas.
“Kota Yogya ini menginisiasi, karena di sini banyak tokoh-tokoh kreatif yang terus bermunculan. Pelaku-pelaku yang masih muda kita tingkatkan bagaimana bisa bersinergi, berkolaborasi, apalagi ada kebijakan dari pusat yang mendukung,” ujar Wawan.
1. Bukan kekurangan ide, tetapi perlu eksekusi

Ilustrasi UMKM. (IDN Times/Aditya Pratama) Wawan menyebut industri kreatif merupakan future engine atau salah satu mesin pertumbuhan ekonomi masa depan Indonesia. Karena itu, pengembangan ekraf di Yogyakarta perlu didorong lebih cepat dan tidak berhenti pada kegiatan seremonial.
Menurutnya, seluruh ekosistem ekraf di Yogyakarta perlu dilihat secara lebih luas tanpa terjebak sekat administratif. Keterpanggilan Pemkot Yogyakarta adalah menjadikan Yogyakarta menjadi role modelindustri kreatif.
“Semua bidang di ekraf itu sebetulnya ‘Yogya banget’. Harapan kami bukan cuma retorika, tapi aksi konkret. Bagaimana pelaku di bidang film, musik, dan sektor lainnya bisa scale up,” katanya.
Ketua DPW GEKRAFS DIY, Sarah Azzahra, mengatakan persoalan yang dihadapi pelaku ekraf dan UMKM di Yogyakarta bukan minimnya ide. Menurutnya, banyak pelaku yang memiliki gagasan bagus, tetapi belum mampu menerjemahkannya menjadi produk yang siap berkembang karena terkendala permodalan, branding, hingga eksekusi.
“Yogyakarta adalah kota dengan beragam ide. Karena tidak punya sumber daya alam, semuanya berangkat dari sumber daya manusia,” ucap Sarah.
Meski memiliki potensi besar, ia menilai masih banyak UMKM yang hanya menumpuk idenya. “Tapi belum fokus pada permodalan, branding, hingga realisasi produk,” ujar Sarah.
2. GEKRAFS siapkan akses investor hingga jejaring internasional

Ilustrasi Ekspor. (IDN Times/Aditya Pratama) Untuk menjawab persoalan tersebut, GEKRAFS DIY menempatkan diri sebagai fasilitator yang mempertemukan pelaku ekraf dengan pemerintah, sektor swasta, investor, hingga jejaring yang lebih luas. Sarah mengatakan sejumlah agenda kolaboratif telah disiapkan sepanjang Oktober 2026.
Di antaranya menjadi strategic partner Jogja Cultural Festival, menggelar Meet the Investor dalam rangkaian GIFTS UGM, serta program talkshow bertajuk Powered by GEKRAFS. “Kami siap berkolaborasi dengan pemerintah untuk membantu apa yang dibutuhkan pelaku ekraf, mulai dari sertifikasi hingga pembukaan akses jejaring,” katanya.
Ketua Umum DPP GEKRAFS, Kawendra Lukistian, menyebut Yogyakarta memiliki modal kuat untuk mengembangkan ekraf karena kekuatan utamanya berasal dari ide dan kreativitas manusia. Ia mencontohkan berbagai karya dan industri kreatif yang lahir dari Yogyakarta, mulai dari musik hingga kuliner dan seni pertunjukan.
“Yogya ini embrionya adalah ekonomi kreatif karena modal utamanya ide dan gagasan. Musisi legend seperti Sheila on 7 lahir dari sini, kuliner hingga seni pertunjukannya luar biasa,” ujar Kawendra.
Ia mendorong pelaku ekraf di Yogyakarta untuk mulai mengkurasi produk dan jasa terbaik agar bisa dipasarkan melalui jejaring yang lebih luas. “Kami di pusat mendorong teman-teman di Yogya untuk mengkurasi produk dan jasa terbaiknya. Manfaatkan jejaring yang ada, GEKRAFS sudah punya pipeline di 18 negara,” katanya.
3. Mahasiswa juga disiapkan jadi pengusaha ekraf

Pelantikan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional (GEKRAFS) DIY periode 2026-2029. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Pengembangan ekosistem ekraf juga menyasar kalangan mahasiswa. Ketua Umum GEKRAFS Kampus Nasional, Hijaz Putra Junaidi Mahesa, mengatakan pihaknya tengah mendorong pembentukan kepengurusan GEKRAFS di sejumlah perguruan tinggi di Yogyakarta, termasuk UGM dan UMY.
Langkah ini dilakukan untuk mengenalkan potensi ekraf kepada anak muda sejak bangku kuliah. Terlebih, subsektor ekraf telah berkembang menjadi 21 subsektor.
“Kita wadahi adik-adik mahasiswa untuk belajar berorganisasi, membangun ide bisnis, hingga dipertemukan dengan pelaku UMKM yang sudah berhasil. Jadi mereka punya contoh dan siap menjadi pengusaha ekraf masa depan,” pungkasnya.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)






















