Fakta dan Kronologi Api Misterius di Seyegan Sleman, Ratusan Kali Terbakar

- Fenomena api misterius di rumah Fia, Seyegan Sleman, muncul sejak 22 Mei 2026 dan tercatat lebih dari seratus kali tanpa penyebab pasti, menarik perhatian warga hingga peneliti kampus besar.
- Tim UPN menemukan indikasi gas metana di sungai sekitar lokasi, sementara tim UGM mendeteksi gas hidrogen dan fosfin dari limbah pemotongan ayam yang diduga memicu pembakaran spontan.
- Penelitian georadar UGM mengungkap adanya retakan tanah di bawah rumah yang mungkin menjadi jalur gas, sementara kerugian Fia mencapai Rp70 juta dan aktivitas usahanya terhenti.
Sleman, IDN Times - Sebuah fenomena mengejutkan terjadi di rumah milik Mutfiana alias Fia, warga Dusun Kasuran, Margodadi (sebagian sumber menyebut Margomulyo), Seyegan, Sleman. Sejak malam Jumat (22/5/2026), api terus bermunculan secara tiba-tiba di berbagai sudut rumah tanpa diketahui penyebabnya secara pasti. Dalam waktu hampir dua pekan, fenomena ini menyedot perhatian warga, pemerintah daerah, hingga para peneliti dari berbagai perguruan tinggi. idntimes
Berikut fakta-fakta dan kronologi yang perlu kamu ketahui.
1. Pertama kali muncul 22 Mei 2026, titik api terus bertambah
Api misterius pertama kali dilaporkan pada Jumat malam, 22 Mei 2026. Kemunculannya sporadis: menyala tiba-tiba di berbagai bagian rumah, mulai dari tembok, kamar, hingga ruang tamu. Api bahkan sampai menyebabkan kaca akuarium meleleh karena panasnya.
Dalam hitungan hari, jumlah titik api terus bertambah. Per 29 Mei 2026, total sudah ada 46 titik api skala kecil maupun besar yang menyala secara tiba-tiba di dalam dan luar rumah. Hingga hari ke-17 pada 8 Juni 2026, Fia mencatat total sudah terjadi 113 kali kemunculan api di berbagai titik rumahnya. Dalam sehari, api bisa muncul 7-8 kali, termasuk dua kejadian berturut-turut dengan selang waktu hanya 25 menit.
Titik api juga meluas hingga ke luar bangunan. Pada 1-2 Juni 2026, api muncul dua kali di dekat ruko tempat keluarga Fia mengungsi: sekali membakar triplek di samping ruko dan sekali lagi menyulut kayu di belakang ruko.
2. Septic tank dibersihkan, api tetap muncul

Investigasi awal melibatkan unsur kepolisian. Berdasarkan keterangan dari Inafis dan Tim Gegana Brimob, kemungkinan awal sumber apinya berasal dari septic tank. Namun setelah septic tank dibersihkan, dikuras, dan salurannya diganti baru, api tetap bermunculan di tempat-tempat yang tidak menentu.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Sleman, Bambang Kuntoro, mengungkapkan pihaknya menghubungi Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Universitas Pembangunan Nasional (UPN) "Veteran" Yogyakarta untuk meneliti penyebab munculnya api.
Sambil menunggu hasil penelitian, BPBD meminta pemilik rumah mengungsi sementara. Bantuan logistik diberikan berupa matras, selimut, dan paket pangan. Relawan setempat juga disiagakan untuk berjaga jika ada titik api baru.
3. Tim UPN temukan indikasi gas metana di sungai dekat lokasi
Tim Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) UPN "Veteran" Yogyakarta yang turun ke lokasi pada 30 Mei 2026 menemukan indikasi kuat sumber gas metana. Dekan FTME UPN, Prof. Basuki Rahmad, dan timnya menemukan gelembung-gelembung gas yang terindikasi kuat sebagai gas metana (CH4) di bawah Jembatan Nepen, sebuah sungai yang berjarak sekitar 300 meter dari rumah Fia.
Menurut Basuki, lokasi tersebut kemungkinan merupakan bekas rawa, ditandai dari batuan berwarna gelap yang menjadi tempat tersimpannya gas. Gas di dalam batuan kemudian bermigrasi melalui retakan-retakan ke arah utara, menuju rumah Fia.
4. Temuan gas hidrogen dan fosfin dari limbah pemotongan ayam oleh tim UGM

Tim Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM yang hadir di lokasi pada 1 Juni 2026 menemukan senyawa yang diduga menjadi pemicu utama, yaitu gas hidrogen (H2), dengan konsentrasi tinggi di salah satu kamar.
Koordinator Tim PKPE UGM, Alva Edy Tontowi, menyampaikan bahwa gas hidrogen ini diduga kuat berasal dari proses fermentasi limbah organik pemotongan ayam. Keluarga Fia memang menjalankan usaha pemotongan ayam di samping rumah mereka.
Selain gas hidrogen, tim menduga ada gas fosfin (PH3) yang terbentuk dari material kaya fosfat seperti tulang dan bagian keras bulu ayam. Gas fosfin lebih mudah tersulut api pada suhu ruang dan kemungkinan memicu terbakarnya gas hidrogen yang keluar bersamaan. Mekanisme ini masih perlu diselidiki lebih mendalam.
Fenomena ini diklasifikasikan sebagai auto ignition atau spontaneous ignition (pembakaran spontan), yakni saat suatu bahan memicu panasnya sendiri tanpa sumber api dari luar.
Sebagai langkah sementara, Tim UGM merekomendasikan ventilasi rumah dibuka secara maksimal dan dipasang blower atau kipas angin untuk mencegah akumulasi gas. Barang-barang mudah terbakar juga disarankan dipindahkan.
Tim UGM juga akan melakukan penjenuhan cairan basa berupa air kapur pada tanah dan lantai rumah, untuk menekan kemungkinan adanya bakteri Clostridium yang berperan dalam menghasilkan gas hidrogen.
5. Georadar dikerahkan, ditemukan retakan di bawah lantai rumah
Pada 8 Juni 2026, tim dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM mengerahkan perangkat georadar untuk memetakan kondisi bawah permukaan tanah di area rumah Fia. Dari hasil pemindaian awal, tim menemukan sejumlah retakan pada lapisan tanah di bawah lantai rumah dengan kedalaman bervariasi yang diduga dapat menjadi jalur pergerakan senyawa pemicu api.
Peneliti tim, Saptono Budi Samodra, menjelaskan bahwa georadar bekerja menggunakan pulsa gelombang elektromagnetik 60 MHz untuk memetakan struktur bawah permukaan. Retakan terbaca sebagai garis-garis halus hingga celah yang memotong sejumlah lapisan tanah, sebagian tegak lurus dan sebagian membentuk kemiringan tertentu.
Namun Saptono menegaskan temuan ini masih bersifat sementara. Kemampuan alat juga terbatas hingga kedalaman sekitar 20 meter dan retakan yang terdeteksi belum tentu menjadi jalur senyawa pemicu api.
Penelitian akan dilanjutkan dengan metode geolistrik yang mampu menjangkau lapisan tanah lebih dalam, serta pengeboran tangan untuk mengetahui karakteristik lapisan tanah di bawah rumah Fia. Tim geologi UGM juga berupaya menelusuri kemungkinan faktor penyebab lain di luar dugaan gas hidrogen dan fosfin yang sebelumnya disampaikan Tim PKPE.
Menurut Saptono, tujuan penelitian ini penting agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Tim ingin memastikan secara ilmiah apakah sumber api berasal dari gas alam atau dari pengolahan limbah yang tidak baik.
6. Kerugian pemilik rumah capai Rp70 juta, usaha terhenti

Fia mengalami kerugian sekitar Rp70 juta, belum termasuk kerugian akibat usaha pemotongan ayam yang terhenti selama 13 hari. Kerugian tersebut meliputi pakaian, karpet, dan kursi yang hangus, ditambah biaya pembongkaran septic tank serta penggantian keramik dan tembok.
Selama hampir dua pekan, Fia hanya bisa tidur paling lama tiga jam sehari karena harus bergantian berjaga mengawasi kemunculan api. Tekanan psikis mulai terasa: tensi naik, nafsu makan turun, dan pola tidur sangat terganggu.
Meski fenomena masih berlangsung, intensitas kemunculan api dalam beberapa hari terakhir disebut mulai menurun. Fia menyebut kondisi itu kemungkinan dipengaruhi banyaknya pengunjung yang datang ke rumahnya, karena semakin banyak orang di dalam ruangan maka kadar oksigen yang menjadi salah satu unsur pendukung terjadinya api juga berkurang.












