Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Mengenal Pembakaran Spontan dan Gas Pemicunya di Balik Api Misterius Seyegan

Mengenal Pembakaran Spontan dan Gas Pemicunya di Balik Api Misterius Seyegan
Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Intinya Sih
  • Fenomena api misterius di Seyegan terjadi 73 kali dalam sembilan hari tanpa sumber nyala jelas, memicu investigasi ilmuwan dari UGM, ITB, dan UPN Yogyakarta.
  • Dua tim akademisi menemukan gas berbeda sebagai pemicu: UPN mendeteksi metana dari area sungai sekitar, sementara UGM menemukan konsentrasi tinggi gas hidrogen di ruangan rumah warga.
  • Pembakaran spontan dijelaskan sebagai reaksi kimia self-heating yang memicu autoignition tanpa sumber panas eksternal, dengan gas metana dan hidrogen berperan penting dalam kasus Seyegan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Fenomena kemunculan api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, bikin banyak orang garuk-garuk kepala. Api terus muncul tanpa sumber nyala yang jelas. Benda-benda terbakar sendiri, dari kaos hitam di atas meja sampai baskom plastik di dapur, tanpa ada yang menyulutnya. Tercatat dalam 9 hari, terjadi 73 kali kemunculan api.

Para ilmuwan punya jawaban untuk ini. Fenomena yang terlihat seperti keajaiban itu ternyata punya nama ilmiah: Spontaneous ignition atau pembakaran spontan. Dua tim akademisi yang turun ke lokasi, dari UGM dan UPN "Veteran" Yogyakarta, mengarahkan dugaan ke dua jenis gas yang berbeda sebagai pemicunya, yakni gas hidrogen dan gas metana. Keduanya tidak berbau, tidak berwarna, dan sama-sama sangat mudah terbakar.

Puluhan kali terjadi, ini kronologi api misterius di Seyegan

Tumpukan barang rumah tangga hangus terbakar di atas kursi kayu di rumah warga Seyegan, Sleman, setelah fenomena api misterius.
Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Api pertama kali muncul pada Jumat (22/5/2026) malam di rumah warga di Dusun Kasuran, Margodadi, Seyegan, Sleman. Si jago merah muncul tanpa sumber pemantik yang jelas, membakar berbagai benda di dalam dan luar rumah.

Hingga Senin (1/6/2026) siang, pemilik rumah, Mutfiana alias Fia, mencatat total 73 kali kemunculan api yang tersebar di sekitar 65 titik di rumahnya. Dalam sehari, api bisa muncul 7 hingga 8 kali.

BPBD Sleman kemudian menggandeng akademisi dari ITB, UGM, dan UPN "Veteran" Yogyakarta untuk meneliti penyebabnya, karena investigasi awal yang melibatkan kepolisian belum bisa mengungkap sumber api secara pasti. Septic tank yang sempat diduga jadi sumber sudah dikuras dan diganti, tapi api tetap muncul di tempat yang tidak menentu.

Tim Fakultas Teknologi Mineral dan Energi UPN "Veteran" Yogyakarta yang turun lebih awal menemukan indikasi kuat gas metana sebagai pemicunya. Sumber gas itu diduga berasal dari sungai sekitar 300 meter dari rumah warga, tepatnya di bawah Jembatan Nepen. Tim UPN mendeteksi gelembung-gelembung gas di singkapan batuan lanau berwarna gelap di tepi sungai.

Namun, tim PKPE Fakultas Teknik UGM yang turun belakangan menemukan senyawa berbeda, yaitu gas hidrogen (H2) dengan konsentrasi tinggi di ruangan tempat api paling sering muncul. Ketua tim, Alva Edy Tontowi, menyebut fenomena ini sebagai auto ignition atau spontaneous ignition, yakni pembakaran spontan yang terjadi saat suatu bahan memicu panasnya sendiri tanpa sumber api dari luar.

Apa itu pembakaran spontan, dan bagaimana bisa terjadi?

Api misterius membakar barang di dalam rumah warga Seyegan, Sleman, dengan nyala api terlihat jelas di ruangan gelap.
Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Spontaneous ignition, atau pembakaran spontan, bukanlah fenomena gaib. Ini adalah peristiwa kimia nyata yang bisa dijelaskan dengan sains.

Pembakaran spontan terjadi melalui proses self-heating, yaitu kenaikan suhu akibat reaksi internal yang bersifat eksotermik, yang kemudian memicu thermal runaway dan akhirnya autoignition. Proses ini berbeda dari kebakaran biasa karena tidak membutuhkan sumber panas dari luar. Wikipedia

Dilansir Biology Insights, mekanisme pembakaran spontan ini terjadi dalam dua tahap. Pertama, bahan mengalami oksidasi lambat, reaksi kimia yang menghasilkan panas secara perlahan. Kedua, ketika panas itu tidak bisa keluar karena bahan sekitarnya bersifat insulator, suhu terus menumpuk dari dalam. Pada titik tertentu, bahan mulai terurai menjadi gas yang sangat mudah terbakar melalui proses pirolisis. Siklus ini menimbulkan umpan balik yang disebut thermal runaway, suatu reaksi berantai di mana panas memicu reaksi kimia lebih lanjut yang menghasilkan lebih banyak panas.

Syarat dasarnya tetap mengacu pada segitiga api: bahan bakar, panas, dan oksigen. Yang membedakannya dari kebakaran biasa adalah sumber panasnya berasal dari dalam bahan itu sendiri, bukan dari korek api atau percikan listrik.

Ada bahan-bahan yang rentan mengalami pembakaran spontan, seperti jerami, gambut, kain, dan minyak. Terutama jika disimpan dalam kondisi lembap atau dalam tumpukan besar yang menghalangi panas untuk keluar.

Dalam kasus di Seyegan, tim UGM menemukan bahwa gas hidrogen dengan konsentrasi tinggi yang terperangkap di ruangan diduga menjadi bahan bakar utama. Gas itu bertemu dengan kondisi tertentu pada bahan-bahan di sekitarnya, seperti kaos, plastik, dan material lain, sehingga memicu pembakaran dari dalam tanpa perlu penyulut dari luar.

Metana dan hidrogen, dua gas yang jadi tersangka

Seorang pria memegang pakaian yang hangus terbakar dan masih berasap di rumah warga Seyegan, Sleman, usai fenomena api misterius.
Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Dua tim akademisi sempat menunjuk "tersangka" berbeda, yaitu gas metana dan hidrogen. Namun, bukan berarti salah satunya keliru. Keduanya bisa saling berkaitan, dan memahami sifat masing-masing gas membantu menjelaskan mengapa fenomena di Seyegan bisa sepanas dan setiba-tiba itu.

Metana (CH4)

Metana adalah gas yang tidak berwarna, tidak berbau, dan sangat mudah terbakar, yang terdiri dari satu atom karbon dan empat atom hidrogen. Sebagai gas, metana hanya mudah terbakar bila konsentrasinya mencapai 5 hingga 15 persen di udara. Di luar rentang itu, campurannya terlalu tipis atau terlalu pekat untuk terbakar.

Metana diproduksi oleh alam dalam proses yang disebut metanogenesis. Lahan basah adalah penyumbang alami terbesar emisi metana, dan gas ini juga bisa muncul melalui kebocoran gunung lumpur, rawa, lahan persawahan, dan serangga seperti rayap. Ini cocok dengan temuan tim UPN, yang menduga area Seyegan dulunya adalah bekas rawa, dan gas metana tersimpan di dalam batuan lanau di bawah permukaan. Solar Industri

Hidrogen (H2)

Hidrogen memiliki perbedaan yang signifikan dari metana, dan cenderung lebih "agresif" sebagai bahan bakar. Hidrogen memiliki rentang ledakan antara 4 persen hingga 75 persen di udara. Artinya, sedikit saja kebocoran dapat dengan cepat mencapai titik ledak.

Mengutip WestAir Gases, Energi minimum untuk menyalakan hidrogen hanya sekitar 0,017 milijoule. Sebagai perbandingan, percikan statis kecil dari gesekan kaki di karpet bisa menghasilkan sekitar 10 milijoule, lebih dari 500 kali energi yang dibutuhkan untuk membakar hidrogen. Ini penjelasan kenapa gas hidrogen bisa terbakar bahkan dari percikan yang tidak akan mampu menyulut gas lain.

Satu hal lagi yang perlu diperhatikan: hidrogen terbakar dengan nyala yang hampir tidak terlihat di siang hari. Warna biru pucatnya baru kelihatan dalam kondisi gelap atau kalau ada kontaminan lain. Ini bisa menjelaskan kenapa sebagian kejadian di Seyegan tampak seperti barang "tiba-tiba gosong" tanpa ada nyala api yang jelas sebelumnya.

Jika diambil benang merah, keduanya bisa jadi bagian dari puzzle yang sama: metana bermigrasi dari bawah tanah, lalu di titik tertentu hadir bersama hidrogen yang terkonsentrasi di ruangan tertutup, menciptakan kondisi ideal untuk pembakaran spontan terjadi berulang kali.

Share Article
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Jogja

See More