Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Derita Fia Pemilik Rumah Api Misterius di Sleman Rugi Rp70 Juta

Derita Fia Pemilik Rumah Api Misterius di Sleman Rugi Rp70 Juta
Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Intinya Sih
  • Fia mengalami kerugian sekitar Rp70 juta akibat fenomena api misterius di rumahnya di Seyegan, Sleman, yang membakar berbagai barang dan memaksanya membongkar septic tank untuk penyelidikan.
  • Usaha pemotongan ayam milik Fia terhenti selama 13 hari sejak kemunculan api, membuatnya berencana mengontrak ruko sementara sambil menunggu hasil penelitian penyebab kebakaran.
  • Selama hampir dua minggu, Fia hanya tidur tiga jam per hari karena harus berjaga menghadapi 97 kali kemunculan api, hingga berdampak pada kondisi psikis dan kesehatannya.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Sleman, IDN Times - Mutfiana alias Fia mengaku mengalami kerugian hingga puluhan juta Rupiah sejak rumahnya di Seyegan, Sleman mengalami fenomena api misterius yang memicu kebakaran berulang.

"(Kerugian) Rp70 jutaan sekitar itu," kata Fia ditemui di Kantor Kecamatan Seyegan, Sleman, Kamis (4/6/2026) sore.

1. Barang terbakar, septic tank dibongkar

Api misterius membakar barang di dalam rumah warga Seyegan, Sleman, dengan nyala api terlihat jelas di ruangan gelap.
Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Kerugian Rp70 juta tersebut menurutnya baru merupakan estimasi. Lantaran barang-barang yang dimilikinya seperti pakaian, karpet, dan kursi alami kerusakan tersulut api. Fia juga mengaku harus merogoh kocek pribadi untuk membongkar septic tank di rumahnya.

Ia membongkar septic tank beberapa waktu lalu untuk mengetahui pemicu dari fenomena ini yang salah satunya disinyalir disebabkan gas metana (CH4).

"Kan kemarin dibongkar septic tank-nya, terus tembok-temboknya, keramik, dan lain sebagainya. Dengan ukuran rumah yang segitu itu, gantinya seberapa kan harus dihitung juga kan ya. Iya, sejauh ini biaya sendiri," jelasnya.

Selain itu juga APAR mulanya Fia dan keluarga mengisi ulang sendiri sebelum ada bantuan dari relawan dan pemerintah daerah. Untuk logistik, kini juga sudah mulai mengalir bantuan dan Fia merasa cukup terbantu.

2. Usaha macet, rencana mengontrak sementara

Tumpukan barang rumah tangga hangus terbakar di atas kursi kayu di rumah warga Seyegan, Sleman, setelah fenomena api misterius.
Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Estimasi nilai kerugian ini diakuinya belum termasuk usaha pemotongan ayam miliknya yang seret selama 13 hari terakhir sejak kejadian api muncul.

"Usahanya macet. Tapi dari ibu tadi memberikan saran untuk relokasi, membuat usaha baru," katanya.

Ide relokasi ini dibarengi rencana Fia sekeluarga untuk mengontrak bangunan ruko sebagai lokasi pengungsian yang berada di sebelah utara rumahnya.

"Karena kan ini penelitian (pemicu api) mungkin berapa lama kan belum bisa ditentukan, gitu. Jadi dikasih tempat yang baru atau menggunakan tempat pengungsian secara resmi. Kan kalau selama ini kan masih ibaratnya numpang ya," terangnya.

3. Psikis mulai terusik, cuma tidur 3 jam tiap hari

Seorang pria memegang pakaian yang hangus terbakar dan masih berasap di rumah warga Seyegan, Sleman, usai fenomena api misterius.
Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Selama 13 hari sejak munculnya fenomena api misterius, Fia mengaku kini psikisnya mulai tertekan. Merasa was-was setiap waktu dan hanya bisa tidur paling lama tiga jam sehari karena harus bergantian mengawasi kemunculan api.

"Sejak hari pertama kejadian, kini telah terhitung 97 kali kemunculan api. Dengan total titik api sekitar 65," terangnya.

Lengah sedikit saja, api bisa membesar dan situasi yang tidak diinginkan bisa terjadi. Meski kini relawan sudah turut berjaga, ia belum bisa tenang sepenuhnya.

"Tensi naik sudah pasti. Begadang terus, kurang tidur, kurang makan, gizi enggak teratur, vitamin enggak masuk gitu loh. Biasanya ada buah, enggak makan buah begitu. Pasti itu bakal apa, terganggu ya. Enggak nafsu (makan) lagi kan," ujarnya.

Oleh karena ia berharap adanya bantuan unit blower atau kipas angin untuk menghalau gas hidrogen atau metana yang diduga menjadi pemicu.

Ia pun mengapresiasi peran para peneliti, baik dari UGM maupun UPN 'Veteran' Yogyakarta yang membantu mengurai permasalahan ini.

"Jadi kuserahkan semua pada ahlinya. Yang paling penting selagi kami bisa mengupayakan untuk menghentikan api tersebut, ya kami hentikan," pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Jogja

See More