Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Teror Api Misterius di Rumah Fia Belum Usai, Unit Georadar Dikerahkan

Teror Api Misterius di Rumah Fia Belum Usai, Unit Georadar Dikerahkan
Tim UGM mengerahkan georadar untuk menyelidiki fenomena api misterius di rumah warga Seyegan Sleman. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
Intinya Sih
  • Fenomena teror api misterius di rumah Fia di Sleman masih berlanjut hingga hari ke-17 dengan total 113 kali kemunculan, meski intensitasnya mulai menurun karena banyaknya pengunjung.
  • Tim Geofisika UGM menggunakan georadar untuk memetakan kondisi bawah tanah dan menemukan sejumlah retakan yang diduga berkaitan dengan titik-titik kemunculan api, namun hasilnya masih bersifat sementara.
  • Penelitian akan dilanjutkan dengan metode geolistrik dan pengeboran tangan guna mencari penyebab pasti, termasuk kemungkinan faktor selain gas hidrogen dan fosfin yang sebelumnya diduga sebagai pemicu api.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Sleman, IDN Times - Fenomena teror api misterius yang berulang di rumah Mutfiana alias Fia di Seyegan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), belum sepenuhnya berhenti. Hingga hari ke-17 sejak kejadian pertama, Fia mencatat total sudah terjadi 113 kali kemunculan api di berbagai titik di rumahnya.

Meski demikian, intensitas kemunculan api dalam beberapa hari terakhir disebut mulai menurun. Berdasarkan penjelasan dari para peneliti, kondisi tersebut kemungkinan dipengaruhi oleh banyaknya pengunjung yang datang dan lalu lalang di rumahnya.

Menurut penjelasan yang ia terima, semakin banyak orang berada di dalam ruangan maka kadar oksigen (O2) yang menjadi salah satu unsur pendukung terjadinya api juga berkurang.

"Banyak pengunjung, banyak tamu karena kan seperti yang sudah dikatakan bahwa gas oksigen itu rebutan dengan manusia. Kalau manusianya banyak yang datang, berarti intensitasnya turun. Nah, itu kayake masuk gitu," kata Fia ditemui di kediamannya, Senin (8/6/2026).

Ada banyak retakan di bawah rumah Fia

Dua anggota tim geofisika UGM memeriksa data georadar di laptop sambil berteduh di bawah payung saat penyelidikan di Sleman.
Tim dari Teknik Geologi UGM mengerahkan georadar untuk menyelidiki fenomena api misterius di rumah warga Seyegan Sleman. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Di tengah fenomena yang masih berlangsung tersebut, tim dari Laboratorium Geofisika Eksplorasi Departemen Teknik Geologi UGM mengerahkan perangkat georadar untuk menelusuri kemungkinan penyebab kemunculan api. Pemeriksaan dilakukan dengan memetakan kondisi bawah permukaan tanah di area rumah Fia.

Dari hasil pemindaian awal, tim menemukan sejumlah retakan pada lapisan tanah di bawah lantai rumah. Retakan dengan kedalaman bervariasi itu diduga dapat menjadi jalur pergerakan senyawa yang berkaitan dengan munculnya api dan kebakaran berulang.

Peneliti tim, Saptono Budi Samodra, mengatakan pemeriksaan difokuskan pada titik-titik yang sebelumnya dilaporkan menjadi lokasi kemunculan api. Dari pembacaan alat, terlihat perbedaan antara lapisan tanah urukan di bagian atas dan tanah asli yang berada di bawahnya.

"Tanah asli itu kelihatan ada yang menunjukkan ada pola atau struktur retakan di beberapa tempat," kata Saptono saat ditemui di rumah Fia.

Georadar bekerja menggunakan pulsa gelombang elektromagnetik 60 MHz untuk memetakan struktur bawah permukaan tanah. Gelombang dipancarkan ke dalam tanah dan dipantulkan kembali ketika mengenai material dengan tingkat kepadatan berbeda, sehingga dapat memberikan gambaran kondisi lapisan di bawah tanah.

Pada hasil pemindaian, retakan terbaca sebagai garis-garis halus hingga celah yang lebih besar yang memotong sejumlah lapisan tanah. Sebagian retakan terlihat tegak lurus, sementara lainnya membentuk kemiringan tertentu. Temuan tersebut dinilai berpotensi memiliki keterkaitan dengan titik-titik kemunculan api.

Namun demikian, Saptono menegaskan bahwa hasil pembacaan georadar masih bersifat sementara dan memerlukan analisis lanjutan. Selain itu, kemampuan alat juga terbatas hingga kedalaman sekitar 20 meter dari permukaan tanah.

"Mungkin di bawah (retakan) masih berlanjut," terangnya.

Penyebab terbentuknya retakan

Tumpukan barang rumah tangga hangus terbakar di atas kursi kayu di rumah warga Seyegan, Sleman, setelah fenomena api misterius.
Fenomena api misterius di rumah warga Seyegan, Sleman, sebabkan barang-barang di dalam rumah hangus terbakar. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Menurut Saptono, retakan-retakan ini sendiri bisa terbentuk karena proses dinamika dari bumi. Wilayah DIY yang berada di zona aktif tektonik memang sering menimbulkan retakan-retakan di lapisan tanah macam ini. Kata Saptono, setiap retakan yang terbentuk juga belum tentu jadi jalur senyawa yang memicu api, termasuk di rumah Fia.

"(Tidak ada senyawa/gas) bisa terjadi. Ini hanya, makanya alat itu hanya mendeteksi ada retakan-retakan (bukan gas)," terang Saptono.

Perlu geolistrik untuk petakan kemungkinan lain selain hidrogen dan fosfin

Dua anggota tim geofisika UGM menggunakan alat georadar di depan rumah warga Seyegan Sleman untuk menyelidiki fenomena api misterius.
Tim dari Teknik Geologi UGM mengerahkan georadar untuk menyelidiki fenomena api misterius di rumah warga Seyegan Sleman. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

Karena itu, penelitian akan dilanjutkan dengan metode geolistrik yang mampu menjangkau lapisan tanah lebih dalam. Tim juga berencana melakukan pengeboran tangan guna mengetahui karakteristik lapisan tanah yang berada di bawah rumah Fia.

Saptono menjelaskan penelitian yang dilakukan timnya berfokus pada aspek geologi. Tujuannya untuk mencari kemungkinan penyebab lain di luar dugaan sementara yang sebelumnya disampaikan Pusat Kajian Pelambatan Entropi (PKPE) Fakultas Teknik UGM.

Dalam kajian awal, PKPE menyebut api kemungkinan dipicu oleh gas hidrogen (H2) dan gas fosfin (PH3). Gas hidrogen diduga terbentuk dari proses fermentasi limbah organik berupa campuran kotoran, sisa air, darah, dan bulu ayam. Kondisi tersebut juga diyakini dapat memunculkan gas fosfin yang mudah terbakar pada suhu kamar.

Dugaan itu mengemuka karena keluarga Fia diketahui menjalankan usaha pemotongan ayam di rumah mereka. Namun, tim geologi UGM kini berupaya menelusuri kemungkinan faktor lain yang turut berperan.

"Kalau menurut kami problem utamanya kita harus mencari sumbernya (pemicu api) itu apa. Apakah itu gas alam atau gas karena pengolahan limbah tadi, supaya jangan sampai nanti ada apa kecemasan. Oh kalau pengolahan limbah tidak baik menjadi gas. Artinya kita mencoba untuk melihat secara ilmiah penyebab untuk menghindari keresahan masyarakat," pungkasnya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang

Latest News Jogja

See More