Pertamax Naik ke Rp16.250, Bagaimana Stok Pertalite di DIY?

- Pertamina Patra Niaga memastikan stok Pertalite di DIY aman meski harga Pertamax dan Pertamax Green naik mulai 10 Juni 2026, dengan ketersediaan mencapai belasan kali lipat dari konsumsi harian.
- Penyesuaian harga membuat Pertamax naik menjadi Rp16.250 per liter dan Pertamax Green menjadi Rp17.000 per liter, sementara BBM subsidi seperti Pertalite dan Biosolar tetap tidak berubah.
- Lebih dari 98 persen konsumsi BBM masyarakat Jawa Bagian Tengah berasal dari produk subsidi yang tidak mengalami kenaikan harga, sehingga dampak kebijakan ini dinilai terbatas bagi masyarakat luas.
Yogyakarta, IDN Times - PT Pertamina Patra Niaga memastikan ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertalite di DIY tetap aman menyusul adanya penyesuaian harga BBM non-subsidi, yakni Pertamax dan Pertamax Green, yang mulai berlaku pada Rabu (10/6/2026).
Area Manager Communication, Relations & Corporate Social Responsibility (CSR) Jawa Bagian Tengah PT Pertamina Patra Niaga, Taufiq Kurniawan, mengatakan stok BBM yang tersedia saat ini masih di atas kebutuhan konsumsi normal masyarakat.
Table of Content
Stok Pertalite 12 kali lipat di atas konsumsi harian
Taufiq merinci, dibandingkan konsumsi normal harian, stok Pertalite mencapai 12 kali lipat, Solar 20 kali lipat, sementara Pertamax dan Pertamina Dex masing-masing sekitar 18 kali lipat.
Menurut dia, stok yang tersedia tersebut cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, termasuk apabila terjadi perpindahan sebagian pengguna Pertamax ke Pertalite setelah penyesuaian harga berlaku.
Terkait potensi antrean panjang di stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), Pertamina akan terus melakukan pemantauan dan evaluasi terhadap perkembangan konsumsi masyarakat.
"Kita evaluasi berkala pasca perubahan harga," kata Taufiq, Rabu (10/6/2026).
Taufiq menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir terhadap pasokan BBM karena stok di wilayah DIY dipastikan dalam kondisi aman baik di fasilitas penyimpanan maupun jaringan SPBU.
"Stok aman banget di (Fuel Terminal) Rewulu dan di SPBU," katanya.
2. Prediksi kebijakan berdampak secara terbatas

Sementara itu, berdasarkan data konsumsi BBM hingga Juni 2026 di wilayah Jawa Bagian Tengah, mayoritas masyarakat masih menggunakan produk BBM subsidi dan penugasan yang tidak mengalami perubahan harga. Pada segmen gasoline, konsumsi Pertalite mencapai 73,3 persen dan Pertamax sebesar 25,9 persen. Adapun konsumsi Pertamax Turbo dan Pertamax Green secara total hanya sekitar 0,9 persen.
Sedangkan pada segmen gasoil, konsumsi Biosolar mendominasi dengan porsi 96,6 persen. Sementara konsumsi Dexlite dan Pertamina Dex secara total hanya sekitar 3,4 persen.
Tercatat hingga Juni 2026, mayoritas konsumsi BBM masyarakat di wilayah Jawa Bagian Tengah masih didominasi oleh produk subsidi dan penugasan yang tidak mengalami perubahan harga. Pada segmen gasoline, konsumsi Pertalite mencapai 73,3 persen dan Pertamax 25,9 persen.
"Sementara Pertamax Turbo dan Pertamax Green secara total hanya sekitar 0,9 persen. Sedangkan pada segmen gasoil, konsumsi Biosolar mencapai 96,6 persen, sementara Dexlite dan Pertamina Dex secara total hanya sekitar 3,4 persen," jelasnya.
Dengan komposisi tersebut, lebih dari 98 persen konsumsi BBM masyarakat berasal dari produk yang tidak mengalami penyesuaian harga sehingga dampak kebijakan tersebut terhadap masyarakat secara luas dinilai relatif terbatas.
"Pertamina sebagai operator menjalankan penyesuaian harga BBM non-subsidi sesuai ketentuan pemerintah dan mekanisme yang berlaku, dengan tetap memastikan ketersediaan dan kelancaran distribusi energi bagi seluruh masyarakat," tutup Taufiq.
Pertamina naikkan tarif Pertamax dan Pertamax Green
PT Pertamina Patra Niaga sebelumnya resmi melakukan penyesuaian harga jual BBM non-subsidi untuk produk Pertamax dan Pertamax Green mulai 10 Juni 2026. Berdasarkan penyesuaian tersebut, harga Pertamax (RON 92) naik dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter, sedangkan Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 per liter menjadi Rp17.000 per liter.
Adapun harga Pertamax Turbo tetap Rp20.750 per liter, Dexlite tetap Rp23.000 per liter, dan Pertamina Dex tetap Rp24.800 per liter.
Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan penyesuaian harga BBM non-subsidi dilakukan setelah melalui koordinasi dengan pemerintah sebagai regulator dan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.
"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah. Harga jual tersebut diputuskan dengan tetap dikoordinasikan dengan pemerintah sebagai regulator, dan menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas bagi masyarakat terus berjalan optimal," ujar Roberth.
Meski demikian, Pertamina memastikan harga BBM subsidi dan penugasan tidak mengalami perubahan. Pertalite tetap dijual Rp10.000 per liter dan Biosolar tetap Rp6.800 per liter.
Roberth menegaskan Pertamina akan terus menjaga ketersediaan dan kualitas BBM di seluruh wilayah Indonesia serta memastikan pelayanan kepada masyarakat berjalan optimal.
"Kami memastikan pasokan Pertamax dan Pertamax Green tetap aman serta tersedia di jaringan SPBU Pertamina. Masyarakat dapat memperoleh informasi harga BBM terbaru melalui kanal resmi Pertamina, Pertamina Patra Niaga, maupun aplikasi MyPertamina," jelasnya.
Harga BBM Pertamina per 10 Juni 2026
Jenis BBM | Harga Sebelumnya | Harga per 10 Juni 2026 | Keterangan |
|---|---|---|---|
Pertamax (RON 92) | Rp12.300/liter | Rp16.250/liter | Naik |
Pertamax Green 95 (RON 95) | Rp12.900/liter | Rp17.000/liter | Naik |
Pertamax Turbo | Rp20.750/liter | Rp20.750/liter | Tetap |
Dexlite | Rp23.000/liter | Rp23.000/liter | Tetap |
Pertamina Dex | Rp24.800/liter | Rp24.800/liter | Tetap |
Pertalite | Rp10.000/liter | Rp10.000/liter | Tetap (subsidi) |
Biosolar | Rp6.800/liter | Rp6.800/liter | Tetap (subsidi) |















