Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Hari Pasaran Jawa dan Weton, Ini Maknanya Bagi Orang Jawa

Hari Pasaran Jawa dan Weton, Ini Maknanya Bagi Orang Jawa
Kalender Berisi Hari Pasaran Jawa dan Weton. (IDNTimes/ Febriana Sinta)
Intinya Sih
  • Pasaran Jawa terdiri dari lima siklus hari—Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon—yang berjalan bersamaan dengan sistem tujuh hari modern dan digunakan untuk berbagai keperluan tradisional.
  • Setiap pasaran dipercaya mencerminkan karakter unik seseorang, seperti Legi yang lembut dan dermawan atau Pahing yang berani dan ambisius, menjadi bagian penting dalam budaya Jawa.
  • Weton merupakan gabungan hari biasa dan pasaran yang dijadikan pedoman menentukan waktu baik serta kecocokan hidup, berakar dari tradisi ilmu titen masyarakat Jawa.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Share Article

Saat ini masih banyak orang Jawa menggunakan hari pasaran sebelum menentukan tanggal penting. Mulai dari pernikahan, pindah rumah, buka usaha, hingga jodoh.

Perhitungan Jawa ini tetap bertahan di tengah kehidupan modern. Namun sebenarnya, apa sih pasaran Jawa itu dan mengapa sistem penanggalan tradisional ini masih dipercaya sampai sekarang?

Pasaran Jawa yang terdiir Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon, mempunyai makna serta perhitungan yang sudah digunakan turun-temurun. Lantaran masih dipercaya setiap pasaran memiliki karakter, energi, hingga pengaruh tertentu dalam kehidupan seseorang. Yuk simak penjelasannya sampai akhir.

1. Sistem hari dalam kalender Jawa

Jika selama ini kita akrab dengan nama hari seperti Senin sampai Minggu, dalam kalender Jawa ada sistem hari lain yang berjalan bersamaan. Selain siklus tujuh hari seperti yang biasa dipakai sekarang, masyarakat Jawa mengenal siklus lima hari yang disebut pasaran Jawa, yaitu Legi, Pahing, Pon, Wage, dan Kliwon. Karena itulah muncul kombinasi hari seperti Jumat Kliwon atau Selasa Pon yang sering disebut sebagai weton.

Penggunaan istilah pasaran berasal dari kebiasaan zaman dulu saat pedagang membuka pasar berdasarkan siklus lima hari tersebut. Jadi ada pasar yang ramai saat Pon, ada juga yang buka saat Kliwon atau Legi, salah satunya adalah Pasar Legi Kotagede atau Sargede yang masih dikenal sampai sekarang. Sistem ini tak hanya dipakai untuk menentukan hari pasar, tapi kepercayaan berkaitan tradisi, perhitungan hari baik, hingga karakter seseorang menurut budaya Jawa.

Selain saptawara dan pancawara, kalender Jawa sebenarnya masih punya siklus lain bernama sadwara yang terdiri dari enam hari terdiri Tungle, Aryang, Warungkung, Paningron, Uwas, dan Mawulu. Namun dibandingkan pasaran Jawa, sistem ini jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan lebih dikenal dalam tradisi tertentu.

2. Gambaran sifat-sifat pasaran Jawa

Tak hanya zodiak yang sering dikaitkan dengan sifat manusia, dalam tradisi Jawa, setiap pasaran juga dipercaya menggambarkan karakter seseorang. Orang yang lahir saat pasaran Legi sering dianggap punya pembawaan alus, penyayang, mudah disukai banyak orang, dan dermawan, meski kadang cukup boros dalam mengatur pengeluaran.

Sementara pasaran Pahing identik dengan sosok yang berani, penuh semangat, tegas, ambisius, dan dikenal pandai berdagang, walaupun sifat keras kepalanya cukup menonjol. Berbeda dengan Pon yang sering dikaitkan dengan pribadi tenang, sabar, setia, dan pekerja keras, tetapi mudah terpancing emosi dalam situasi tertentu.

Sedangkan orang yang lahir di pasaran Wage dipercaya cenderung sederhana, hemat, hati-hati, serta pintar mengelola keuangan, meski kadang sulit melupakan rasa sakit hati. Di satu sisi, mereka yang lahir saat Kliwon kerap dianggap memiliki intuisi kuat, sisi spiritual yang tinggi, berhati dermawan, emosional, tapi memiliki mental yang kuat.

3. Weton dan hubungannya dengan pasaran Jawa

Pasaran Jawa dan weton punya keterkaitan, karena weton terbentuk dari gabungan hari biasa dan hari pasaran dalam kalender Jawa. Ketika seseorang lahir pada hari tertentu, tanggal tersebut akan dihitung berdasarkan siklus tujuh hari seperti Senin sampai Minggu dan siklus lima hari pasaran seperti Legi, Pahing, Pon, Wage, atau Kliwon. Dari kombinasi itulah muncul weton seperti Jumat Kliwon, Selasa Pon, atau Rabu Wage.

Gabungan antara hari biasa dan hari pasaran inilah yang digunakan masyarakat Jawa sebagai pedoman dalam berbagai aspek kehidupan. Sejak dulu, weton dipercaya membantu menentukan banyak hal, mulai dari mencari kecocokan pasangan, memilih waktu membangun rumah, menentukan masa tanam saat bertani, hingga mencari hari yang dianggap baik untuk memulai usaha dan acara penting lainnya.

Lalu, kenapa weton masih dipercaya oleh banyak orang sampai sekarang? Menurut pakar filsafat Jawa UGM, Dr. Iva Ariani, kepercayaan tersebut berawal dari tradisi masyarakat Jawa yang dikenal sebagai “ilmu titen”, yaitu cara membaca tanda dan situasi dari alam sekitar berdasarkan pengalaman yang terus diamati secara turun-temurun. Misalnya, ketika hewan-hewan turun dari gunung dianggap sebagai pertanda akan terjadi letusan atau gempa, atau saat udara terasa sangat panas dipercaya menjadi tanda hujan akan segera turun.

Berbagai pengalaman dalam membaca kondisi alam tersebut dikumpulkan dan diwariskan dari generasi ke generasi hingga melahirkan banyak perhitungan tradisional, termasuk weton. Dari situ, masyarakat Jawa zaman dahulu mencoba mengamati pola kehidupan orang-orang yang lahir pada kombinasi hari dan pasaran tertentu, seperti Senin Legi atau Selasa Pon, lalu menghubungkannya dengan karakter maupun perjalanan hidup mereka. Karena itulah, weton digunakan sebagai salah satu pedoman dalam menentukan berbagai hal di masa depan dan sering dianggap memiliki kemiripan dengan konsep zodiak dalam ilmu kosmologi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Jogja

See More