- kuat dan kokoh,
- mudah beradaptasi,
- pengayom,
- penopang,
- bersinergi dengan pemimpin di atasnya,
- memberi manfaat,
terus bertumbuh.
Mengenal 6 Tumbuhan di Kompleks Keraton Jogja, Sarat Makna

- Pohon beringin adalah simbol keteduhan dan pengayoman, serta mewakili keistimewaan seorang pemimpin.
- Pohon gayam melambangkan tekad kuat manusia untuk mencapai keutamaan hidup, serta keteduhan dan ketenteraman yang diharapkan dari seorang Sultan.
- Pohon asem memiliki makna menarik hati dan masih muda, serta memiliki berbagai manfaat dari buah hingga kulit batangnya.
Sri Sultan Hamengku Buwono I, yang dikenal sebagai arsitek ulung, merancang Kasultanan Ngayogyakarta dengan penuh ketelitian. Setiap elemen di Keraton Jogja, termasuk pemilihan vegetasi, mengandung filosofi mendalam.
Termasuk berbagai tanaman seperti asam jawa, tanjung, hingga beringin dan sawo kecik, bukan sekadar penghias, melainkan simbolisasi dari ajaran Sangkan Paraning Dumadi serta penanda strata sosial bangsawan. Berikut sejumlah pohon yang ditanam di lingkungan Keraton Jogja beserta maknanya.
1. Pohon beringin

Pohon Beringin atau yang dalam bahasa Jawa disebut waringin memiliki persebaran di India, Tiongkok Selatan, Australia Utara, Indonesia, dan beberapa negara Asia. Pohon ini berukuran sangat besar, bahkan bisa mencapai ketinggian 40−50 meter, dengan diameter batangnya mencapai 100−190 cm. Maka tak heran saking rimbunnya pohon beringin menjadi peneduh kala hujan atau panas.
Menurut laman milik Keraton Jogja, terdapat dua macam pohon yang ditanam di Keraton Yogyakarta, yakni beringin pada umumnya dan beringin preh. Letaknya ada di mana-mana, mulai dari di Alun-Alun Utara, Plataran Kamandungan Lor, Plataran Kemagangan, dan Alun-Alun Selatan. Di Alun-alun Selatan dan Alun-alun Utara pun terdapat sepasang pohon beringin yang diberi pagar atau yang disebut ringin kurung.
Pohon beringin bermakna keteduhan dan pengayoman, Sri Sultan sebagai raja atau pemimpin senantiasa mengayomi rakyat. Pohon Beringin juga menjadi representasi dari seorang pemimpin, karena memiliki 7 keistimewaan, yaitu:
2. Pohon Gayam

Pohon Gayam cukup mudah ditemukan di sepanjang Jalan Marga Utama, Malioboro, sampai Marga Mulya yang merupakan bagian dari sumbu filosofi. Selain di jalan-jalan tadi, pohon dengan nama latin inocarpus fagifer, ada di sebelah selatan Bangsal Pagelaran, tepatnya di jalan menuju Sitihinggil dan Alun-Alun Selatan.
Gayam berasal dari kata bahasa Jawa yaitu nggayuh atau yang artinya meraih sesuatu. Pohon gayam menjadi lambang dari manusia yang harus bertekad kuat demi keinginannya mencapai keutamaan hidup. Makna lain dari pohon gayam adalah keteduhan dan ketenteraman yang berkaitan dengan sifat Sultan yang diharapkan mampu menjadi pengayom sehingga rakyat merasa terayomi dan hidup tenteram.
Bukan cuma maknanya yang indah, pohon gayam juga memiliki fungsi yang penting. Salah satunya adalah buah dari pohon gayam menjadi nama dari bentuk kerangka keris, yaitu gayaman. Pohon ini terkadang ditanam dekat aliran air sebagai penguat bantaran.
3. Pohon asem

Pohon asam banyak ditanam bersamaan dengan pohon gayam yang terletak di Jalan Marga Utama, Malioboro, hingga Marga Mulya. Ada juga yang ditanam dengan pohon tanjung di sepanjang Jalan D.I. Panjaitan.
Bunga dan buahnya digunakan sebagai perasa asam makanan, tapi bagian buah yang matang bisa langsung dinikmati. Sedangkan biji dapat diolah jadi minyak, dan digunakan sebagai campuran cat dan pernis. Sedangkan kulit batang dan daun muda pohon asam bisa dimanfaatkan sebagai obat alternatif luka, bisul, dan ruam.
Makna dari pohon asam adalah neng semake atau yang artinya menarik hati, perlambang dari wajah atau rupa seorang anak yang selalu menarik untuk kedua orang tuanya. Sedangkan daun pohon asam jawa yang jari-jarinya berjumlah enam dan bernama sinom anom, bermakna masih muda.
4. Pohon kelapa gading

Pohon kelapa gading atau yang bahasa Jawanya disebut kambil, adalah varietas pohon kelapa kerdil yang tidak bisa tumbuh besar dan tinggi seperti kelapa pada umumnya, tapi keunggulannya adalah cepat berbuah. Buah pohon kelapa gading digunakan sebagai salah satu barang wajib saat upacara adat.
Beberapa daerah yang menggunakan buah pohon kelapa gading dalam upacara adatnya yakni di Desa Karangwangi, Cianjur. Misalnya saat ritual pemberian nama pada bayi baru lahir, pernikahan adat Jawa di Klaten dan Malang, upacara di Bali, dan lainnya.
Sedangkan di dalam Keraton, dihadirkan dalam upacara mitoni yang merupakan peringatan tujuh bulan kandungan. Melansir laman Kraton Jogja, warna kuning dari kelapa gading dipercaya adalah warna kepatuhan kepada kehendak Tuhan secara sempurna.
5. Pohon keben

Di halaman Masjid Gedhe dan Plataran Kamandungan Lor, kamu bisa menemukan Pohon Keben yang merupakan pohon berukuran besar-sedang. Ditanam di kompleks Keraton Yogyakarta memiliki makna perwujudan terima kasih dari Pangeran Mangkubumi atas jasa pohon keben.
Diketahui dari babad, Pangeran Mangkubumi dan keluarga pernah berlindung di bawah pohon keben saat pertempuran melawan VOC. Dan selama persembunyiannya, tidak ada satu pun buah dari pohon keben yang menimpa putra-putri atau pengikutnya.
Makna dar pohon keben sendiri beragam, mulai dari pohon perdamaian, lambang keagungan, kebenaran, dan kebersihan, ada juga yang memaknai sebagai tangkeb-en atau menutup, dalam hal ini adalah menutup segala pengaruh hawa nafsu. Juga, buahnya yang berbentuk khas tersebut diaplikasikan sebagai desain ornamen Jawa yang dikenal dengan motif kebenan.
6. Pohon Tanjung

Pohon Tanjung terkenal memiliki kemampuan menyerap bau tak sedap. Bunga dari pohon tanjung yang berwarna putih kekuningan pun memiliki aroma yang harum, sekaligus tak disukai oleh ular sehingga banyak yang menanam pohon tanjung sebagai pengusir hewan melata.
Secara tradisional, bunga pohon tanjung dimanfaatkan untuk berbagai hal. Ayurveda, bunga tanjung dikenal sebagai penguat gigi dan obat cacingan. Di Sumatera, bunga pohon tanjung dirangkai sebagai perhiasan atau sematan rambut. Ada juga yang kemudian disuling lalu untuk mendapatkan air yang wangi.
Pohon tanjung dianggap sebagai pohon yang sakral dalam Hindu. Hal ini bisa dilihat bahwa pohon tanjung sering muncul dalam berbagai cerita religi serta Sanskerta kuno. Sedangkan di lingkungan Keraton Jogja, pohon tanjung adalah kependekan dari tansah disanjung atau yang artinya selalu disanjung.
Itulah daftar sejumlah pohon penting di Keraton Jogja beserta filosofinya. Menarik untuk dipelajari, bukan?
















