Puan Bertamasya Ajak Mengenal Kotagede Lewat Membaca dan Tur Jalan Kaki

- Puan dan Bukunya menggelar “Puan Bertamasya” di Kotagede dengan konsep membaca senyap dan tur jalan kaki untuk mengenalkan literasi, sejarah, dan budaya secara pelan dan bermakna.
- Acara ini menjadi ruang aman bagi perempuan untuk belajar, berdaya, dan menikmati kota lewat pengalaman langsung.
- Kolaborasi dengan Lawang Pethuk dan Westpash menutup kegiatan dengan diskusi buku yang hangat dan akrab.
Kota Jogja, IDN Times - Pagi di Kotagede terasa berbeda ketika di halaman Masjid Mataram Kotagede terlihat sejumlah perempuan berkebaya dan berkain pada Sabtu (24/01). Di sela bangunan bersejarah itu, peserta menikmati pengalaman membaca tanpa suara, lalu melanjutkannya dengan walking tour yang pelan tapi penuh makna. Acara ini diinisiasi oleh Puan dan Bukunya bersama komunitas Lawang Pethuk dan kafe Westpash, menghadirkan cara baru merayakan literasi melalui ruang dan cerita kota.
Kegiatan ini tak sekadar ajang jalan-jalan atau membaca bersama, tapi juga ruang pertemuan bagi mereka, para perempuan, yang ingin menikmati Jogja dengan cara yang lebih pelan dan sadar. Dan melalui kolaborasi ini, pengalaman literasi ini menjelma menjadi perjalanan yang hangat, intim, dan penuh rasa.
1. Upaya mengenalkan perempuan tentang budaya lewat aksi nyata

Mengusung judul “Puan Bertamasya”, acara ini dibuka dengan sesi membaca senyap. Tak ada percakapan, hanya suara lembaran kertas yang dibalik menjadi latar suara, hingga tanpa terasa tiga puluh menit berlalu. Setelahnya, sekitar 12 peserta diajak beranjak menyusuri tiap sudut Kotagede, kawasan bersejarah yang masih menjaga jejak kejayaan Keraton Mataram Islam.
Tujuan acara ini terbilang sederhana. Menurut Dinda Ajeng Prastika, sang founder, ia ingin para peserta belajar langsung tentang berbagai hal yang selama ini mungkin hanya mereka temui di dalam buku. Kotagede dipilih bukan tanpa alasan, sebab kawasan ini kaya akan sejarah dan budaya yang masih hidup hingga hari ini.
"Karena di Kotagede banyak sejarah dan budayanya, ya. Dan karena konsepnya kita berkain dan berkebaya yang merupakan identik pakaian perempuan, jadi aku rasa ini spot yang tepat untuk berkebaya," ujar Dinda.
Dan benar saja, para perempuan yang hadir dengan sukarela mengenakan kain dan kebaya, berdandan manis untuk mengikuti seluruh rangkaian acara. Tak terdengar keluhan meski langkah harus diperlambat oleh kain yang membelit atau udara panas yang menyapa, bahkan ketika sebagian peserta datang dari wilayah sejauh Jalan Kaliurang hingga Kulon Progo.
2. Menghadirkan ruang aman agar perempuan bisa lebih berdaya

Kolaborasi tiga komunitas dengan latar belakang yang berbeda ini menjadi bukti kalau kolektif bisa dibangun dari niat yang sama, yakni menghadirkan peningkatan literasi dengan cara yang lebih menyenangkan. Puan dan Bukunya sendiri merupakan komunitas baca khusus perempuan di Jogja yang selama ini dikenal aktif menggelar kegiatan membaca bersama yang kerap dibarengi aktivitas lain seperti journaling, piknik, hingga merangkai bunga.
Namun untuk kegiatan kali ini adalah yang pertama bagi Puan dan Bukunya menggabungkan sesi membaca senyap dengan walking tour. Dinda juga menyebutkan bahwa setiap acara yang mereka selenggarakan selalu membawa satu tujuan besar yakni mendorong perempuan agar semakin berdaya melalui ruang-ruang aman tapi tetap seru buat dijalani.
3. Mengisahkan sejarah sekaligus mengajak mengebali Kotagede sebagai warisan budaya

Hal serupa juga disampaikan oleh Hayu Nugraheni Daniswari dari Lawang Pethuk sebagai kolaborator dalam acara tersebut. Lawang Pethuk yang merupakan komunitas gagasan warga lokal Kotagede memiliki tujuan untuk menumbuhkan rasa bahagia saat mengunjungi kawasan ini, salah satunya melalui tur jalan kaki yang mengajak peserta menyusuri cerita dan sudut-sudut bersejarah Kotagede langsung dari sudut pandang warganya.
"Acaranya seru banget ya mbak. Biasanya Puan dan Bukunya kan kebanyakan membaca. Dan ini salah satu kegiatan yang menarik karena bisa mengajak teman-teman yang belum pernah datang ke Kotagede untuk bisa jalan-jalan di sekitar," kata Danis saat dijumpai selepas acara.
Dari Danis, para peserta jadi tahu bahwa Between Two Gates selama ini telah ditinggali secara turun temurun sejak puluhan tahun lalu, hingga adanya mitos bahwa orang yang melempar uang koin di pemandian dalam Makam Raja-raja Kotagede dan berdoa, niscaya keinginannya bisa terkabul.
4. Keakraban yang terasa sampai akhir acara

Setelah puas mengelilingi tiap sudut Kotagede sambil mendengarkan sejarah, Puan dan Bukunya mengakhiri acara dengan diskusi buku sambil menyeruput kopi di salah satu kafe hits di kawasan tersebut, Westpash. Meja-meja disusun melingkar lalu di atasnya diberi taplak kotak warna-warni serta bunga yang menambah estetik.
Setiap peserta dengan antusias menceritakan tentang buku yang sedang atau pernah mereka baca. Tidak ada kata lelah atau sambat kepanasan meski sehabis menjelajah gang-gang Kotagede sejak pagi. Saling timpal sampai tanya-jawab tentang buku terasa akrab meski mereka baru saja saling kenal.
"Dari ini kita bisa tahu kalau perempuan gak cuma ada di rumah, sumur, kasur. Ini (membaca dan tur jalan kaki) adalah aktivitas yang bisa dilakukan perempuan buat tahu tempat-tempat di sekitar," ucap Danis menutup percakapan.
Lewat Puan Bertamasya, membaca dan tur jalan kaki ini menjelma menjadi pengalaman yang lebih utuh dan rasa nyaman. Sejak langkah pertama hingga diskusi penutup, acara ini menghadirkan ruang yang hangat bagi perempuan untuk berbagi cerita, mengekspresikan diri lewat kain dan kebaya hingga akhirnya menjadi diri sendiri tanpa rasa sungkan.

















