Gardu Action, Jujugan Siswa hingga Turis Asing untuk Belajar Kelola Sampah

- Gardu Action di Pantai Parangkusumo digagas pemuda lokal sejak 2015 untuk mengolah sampah pantai menjadi karya seni dan kini fokus pada edukasi pengelolaan sampah residu berkelanjutan.
- Tempat ini ramai dikunjungi pelajar dari sekolah swasta dan mahasiswa asing yang belajar pengelolaan sampah serta ikut membangun perpustakaan bagi anak-anak pemulung di kawasan pantai.
- Meski dukungan pemerintah terbatas, Gardu Action memilih mandiri dengan kolaborasi komunitas dan pihak swasta demi menjaga keberlanjutan kegiatan lingkungan di sekitar Parangtritis.
Bantul, IDN Times - Destinasi wisata Gardu Action memang tak setenar Pantai Parangtritis yang menjadi objek wisata dengan jumlah kunjungan terbanyak sekaligus tulang punggung penyumbang pendapatan asli daerah (PAD) terbesar bagi Dinas Pariwisata (Dispar) Kabupaten Bantul.
Gardu Action sendiri berada di kawasan Pantai Parangkusumo, sekitar 500 meter dari Pantai Parangtritis. Tempat ini digagas para pemuda Padukuhan Mancingan XI yang prihatin terhadap kondisi sampah di kawasan pantai paling populer di Yogyakarta tersebut.
Saat itu, sampah berserakan di area pantai maupun sekitarnya. Sampah-sampah tersebut umumnya hanya dibersihkan untuk kemudian dikirim ke tempat pembuangan sampah (TPS) di Piyungan, sementara yang memiliki nilai ekonomis dipilah oleh pemulung untuk dijual ke pedagang rosok atau barang bekas.
"Di awal 2015 Gardu Action kita dirikan dengan fokus mengolah sampah seperti botol plastik dijadikan seni instalasi sehingga di lokasi Gardu Action banyak ditangani wisatawan untuk berfoto di depan seni instalasi tersebut dan sempat viral di media sosial," kata Sekretaris Gardu Action, Arda Kesuma, Minggu (1/3/2026).
1. Fokus pembelajaran dan pemanfaatan sampah residu

Sempat mengalami penurunan kunjungan akibat pandemi COVID-19, Gardu Action perlahan bangkit kembali pada akhir 2022 seiring meredanya pandemi. Jika sebelumnya lebih dikenal lewat seni instalasi dari sampah plastik yang viral di media sosial, kini fokus kegiatan diperluas pada edukasi pemanfaatan sampah residu yang tidak memiliki nilai ekonomi.
Sampah residu seperti bungkus plastik dinilai sangat mencemari lingkungan karena membutuhkan waktu lama untuk terurai di tanah. Karena itu, pengelola mendorong kesadaran wisatawan dan masyarakat tentang pentingnya pengelolaan sampah secara berkelanjutan di kawasan sekitar Pantai Parangkusumo.
Dukungan pun terus berdatangan dari komunitas pegiat lingkungan hingga mahasiswa yang peduli terhadap isu lingkungan. Kegiatan mereka tidak hanya sebatas edukasi pengolahan sampah residu, tetapi juga menyentuh aspek sosial, khususnya pendidikan anak-anak di kawasan pantai, terutama anak para pemulung yang kerap terpinggirkan secara akses pendidikan.
"Jadi kita punya gedung perpustakaan dan di lokasi itu banyak buku-buku pelajaran atau yang lainnya bagi anak-anak para pemulung ini," ujarnya.
Ia menambahkan, pihaknya sempat mencoba mengolah sampah residu menjadi bahan bangunan. Namun karena biaya produksi yang cukup tinggi, program tersebut kemudian dialihkan menjadi program edukasi dan pengolahan sampah residu yang lebih berkelanjutan.
2. Lebih banyak dikunjungi rombongan sekolah-sekolah swasta dan turis luar negeri

Arda mengakui, karena Gardu Action merupakan destinasi wisata minat khusus yang berfokus pada isu kelestarian lingkungan dan pengentasan persoalan sampah di Yogyakarta, jumlah kunjungannya memang tidak seramai Pantai Parangtritis.
“Wisatawan yang ingin belajar terkait pengolahan residu sampah justru datang dari sekolah-sekolah mulai dari SD hingga SMA dan mahasiswa. Menariknya yang antusias belajar pelestarian lingkungan adalah siswa SD hingga SMA dari sekolah swasta dan untuk perguruan tinggi juga dari mahasiswa asing,” ujarnya.
Ia menyebut, rombongan mahasiswa dari Belgia dan Amerika cukup sering berkunjung. Bahkan mahasiswa dari Utah turut berkontribusi membangun sebuah perpustakaan di kawasan Gardu Action. Tidak hanya memberikan dukungan dana, mereka juga terjun langsung dalam proses pembangunan.
Perpustakaan tersebut kini dimanfaatkan sebagai ruang belajar bagi anak-anak pemulung di kawasan pantai, sekaligus menjadi ruang pertemuan bagi rombongan wisatawan yang ingin mempelajari pengolahan sampah.
“Jadi tamu kita atau wisatawan yang datang paling banyak pelajar dari sekolah swasta dan mahasiswanya dari luar negeri. Ya mungkin karena promosi Gardu Action lebih banyak melalui aktivis lingkungan dan media sosial yang kita miliki,” ungkapnya.
3. Tak ingin menggantungkan sumber dana dari pemerintah

Lebih lanjut, Arda mengaku dukungan pendanaan dari pemerintah sejauh ini masih terbatas, meskipun Gardu Action telah memiliki badan hukum. Namun demikian, pihaknya memang tidak ingin menggantungkan perkembangan komunitas tersebut pada bantuan pemerintah.
Menurutnya, Gardu Action berupaya mandiri melalui berbagai inisiatif dan kolaborasi. Sejauh ini, dukungan justru banyak datang dari pihak swasta yang memberikan bantuan moral maupun materiil agar kegiatan pelestarian lingkungan tetap berjalan, khususnya di kawasan sekitar Pantai Parangtritis.
"Kita justru ingin berkontribusi untuk pemerintah, untuk masyarakat Parangtritis tanpa mengharapkan dukungan materi disaat pemerintah juga tengah alami kesulitan dalam keuangan," tutupnya.












![[QUIZ] Pilih Olahraga Favoritmu, Kami Tahu Tempat Healing di Jogja buat Akhir Pekan](https://image.idntimes.com/post/20250706/fuu-j-r2njpbeyusq-unsplash_2485ef76-bbda-4393-8d3f-f03fd7479c78.jpg)




