Melek Huruf, Cara Merawat Literasi Sembari Menyesap Kopi
- Melek Huruf di Magelang didirikan oleh pasangan Cristian Rahadiansyah dan Nina Hidayat pada Juni 2023 sebagai taman baca sekaligus ruang temu yang memadukan literasi dengan suasana ngopi santai.
- Tempat ini memiliki lebih dari 800 koleksi buku beragam genre, termasuk tema lokal Magelang, lengkap dengan e-katalog dan rak tematik bulanan agar pengunjung selalu menemukan bacaan baru.
- Melek Huruf aktif menjadi pusat kegiatan literasi seperti Pekan Buku Magelang, diskusi komunitas, hingga acara tematik, menjadikannya ruang inklusif bagi siapa pun untuk berbagi wawasan tanpa rasa terintimidasi.
Magelang, IDN Times - Berjarak sekitar 5 km dari Candi Borobudur, tepatnya di tengah asrinya Dusun Pucungan, Desa Candirejo, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, berdiri sebuah taman baca dan ruang temu bernama Melek Huruf. Di antara dinding-dinding bangunan kontemporer dengan sentuhan vernakular ini, pengunjung bisa nyaman memilih sudut baca sembari menyesap secangkir kopi hingga panganan lokal.
Bukan taman baca biasa, Melek Huruf merupakan manifestasi dari impian masa kecil pendirinya, yaitu pasangan suami istri Cristian Rahadiansyah dan Nina Hidayat. Bagaimana peran Melek Huruf dalam merawat literasi di tengah masyarakat sekitar?
1. Awal mula berdirinya Melek Huruf

Cristian dan Nina berasal dari Jakarta. Semenjak Melek Huruf berdiri pada Juni 2023, keduanya memilih menetap di Magelang untuk mendampingi taman baca impian mereka. Kepada IDN Times, Nina mengaku sambutan masyarakat terhadap tempat ini sangat hangat dan bisa memberi perspektif baru bagi mereka.
"Aku sama Christian dua-duanya pendatang di sini. Kami pindah dari Jakarta untuk bikin taman baca di sini, dan senang banget di 3 tahun kita hadir di Magelang, sambutan warganya sangat hangat. Jadi teman, jadi komunitas, jadi informan lokal juga buat kita. Banyak insight dari warlok yang kita dapatkan sejak kita buka Melek Huruf," ujarnya, Sabtu (18/4/2026).
Sebagai sesama pecinta buku, Cristian dan Nina ingin membangun sebuah ruang baca yang nyaman di mana kegiatan membaca bisa ditemani dengan segelas kopi atau teh. Hal ini pun menjadi asal mula nama Melek Huruf yang mengandung dualisme makna, bukan sekadar berarti 'literasi'.
"Aku dan Cristian sama-sama suka baca dan biasanya ditemenin sama minuman kopi atau teh. Jadi nama Melek Huruf juga melambangkan itu: 'Huruf'-nya itu untuk huruf-huruf di dalam buku, dan 'Melek'-nya itu bisa tetap melek (terjaga) waktu baca lewat kopi," ucap dia.
2. Memiliki ratusan koleksi buku
Saat ini, Melek Buku memiliki lebih dari 800 judul buku dari berbagai genre, penulis, dan penerbit. Genre yang tersedia pun sangat beragam, mencakup buku foto, buku anak, isu sosial, politik, agama, novel, puisi, komik, hingga pola asuh (parenting). Sebagian besar di antaranya merupakan koleksi pribadi Cristian dan Nina.
"Karena Melek Huruf itu sebenarnya impian masa kecilnya Christian, jadi ini berawal dari koleksi aku dan koleksinya Christian. Jadi sekitar setengah-setengah gitu dulu kita mulai dengan sekitar 500-an buku," papar Nina.
Meskipun berangkat dari koleksi pribadi, mereka secara khusus membeli dan mengoleksi buku-buku bertema Magelang. "Kita pengin kalau orang yang ke sini pengin tahu tentang sejarah, pengin tahu tentang mitos, tentang tokoh-tokoh yang lahir di Magelang, bisa baca bukunya di sini," timpalnya.
Buku-buku tersebut tersusun rapi di rak sesuai dengan genrenya masing-masing. Selain itu, seluruh koleksi telah terdaftar dalam e-katalog yang dapat diunduh oleh pengunjung melalui kode QR yang tersedia. Untuk menjaga dinamika koleksi, terdapat satu rak khusus yang temanya diganti setiap bulan, sehingga pengunjung selalu menemukan hal baru setiap kali mereka berkunjung.
3. Jadi ruang temu komunitas buku

Selain taman baca, Cristian dan Nina juga menjadikan Melek Huruf sebagai "ruang tamu" bagi masyarakat sebagai bagian dari upaya merawat literasi. Meski kapasitasnya tak terlalu besar, tempat ini cukup sering menjadi tuan rumah bagi berbagai kegiatan. Sebut saja kumpul-kumpul komunitas baca, acara baca buku bareng, hingga kegiatan tematik seperti Bulan Palestina.
"Kita sendiri juga dalam beberapa kesempatan bikin acara baca bareng misalnya waktu itu di Bulan Palestina. Kita kerja sama dengan perpustakaan di Jakarta, namanya Forward Library, yang meminjamkan buku-buku koleksi tentang isu Palestina," ucap Nina.
Menurut Nina, kondisi minat baca di Magelang sebelum berdirinya Melek Huruf ternyata sudah cukup tinggi. Meski akses fisik terhadap toko buku atau perpustakaan masih terbatas, ekosistem literasi di sana sudah mulai tumbuh melalui berbagai komunitas.
"Kalau buat yang muda-muda, ada dua yang kita tahu setiap hari Minggu 2 minggu sekali ada Sunday Reads Club yang biasanya ketemuan di Taman Ahmad Yani. Terus juga ada Magelang Book Party. Magelang Book Party ini jadi cabang dari Book Party di kota-kota lain termasuk di Jakarta. Terus kalau buat Ibu-ibu dan anaknya juga ada Read Aloud Chapter Magelang," terangnya.
Keberadaan komunitas tersebut diakuinya membuat mereka mengenal lebih banyak orang. "Lebih banyak lagi ada orang tua, teman-teman yang masih kuliah atau bahkan masih SMA yang memang sudah punya kebiasaan membaca dari lama," imbuh Nina.
4. Rutin mengadakan Pekan Buku Magelang

Melek Huruf juga menginisiasi festival literasi bertajuk Pekan Buku Magelang. Acara ini awalnya digagas sebagai bentuk perayaan hari jadi pertama Melek Huruf, yang kemudian berkembang menjadi kegiatan rutin untuk memperkuat ekosistem literasi di Magelang. Lewat beragam agenda seperti workshop, diskusi buku, pameran, hingga bursa buku, acara ini menjadi ajang kongkow bagi para pencinta buku dan komunitas literasi.
Sejak 2023 hingga awal 2026, Pekan Buku Magelang sudah dilangsungkan sebanyak 10 edisi. "Jadi di tahun pertama, tahun 2024, kita bikin enam edisi itu setiap bulan. Biar orang ingat dan menjadi top of mind kalau ngomongin event literasi di Magelang. Terus di tahun 2025 kita bikin empat edisi. Di tahun 2026 ini kita bikin dua edisi. Kenapa edisinya semakin lama semakin sedikit? Kita juga pengen programnya tetap bervariasi," ungkap Nina.
Ia mengatakan, Pekan Buku semakin ramai ketika mengundang tokoh-tokoh kenamaan sebagai pengisi acara. "Seperti Mbak Kalis Mardiasih yang berbasis di Jogja. Sangat banyak perempuan-perempuan muda yang look up sama Mbak Kalis dan waktu Mbak Kalis mengadakan diskusi, kira-kira hampir 100 orang yang datang. Terus ada tokoh masyarakat seperti Pak Iskandar Waworuntu dari Bumi Langit Institut itu juga lebih dari 100 yang datang untuk kuliah umumnya," lanjut dia.
5. Buat yang gak suka baca, gak perlu merasa terintimidasi
Sebagai "ruang tamu", Nina berharap Melek Huruf bisa menjadi sebagai titik temu inklusif bagi orang-orang untuk saling mengenal, berdialog, dan bertukar wawasan dalam suasana yang nyaman.
"Semoga lewat pertemuan itu ada pertukaran wawasan, enggak cuman lewat buku, tapi bisa lewat medium lain, lewat film, lewat perbincangan. Kita berharap ini jadi safe space untuk ngomongin hal-hal yang penting buat kehidupan kita," kata dia.
Nina juga berpesan agar anak muda yang belum memiliki kegemaran membaca untuk tidak terintimidasi dengan taman baca seperti Melek Huruf.
"Aku rasa enggak perlu takut kalau misalnya, 'Aduh, aku enggak suka baca.' Sebenarnya enggak perlu terintimidasi, kalau enggak suka baca juga enggak apa-apa, tetap boleh datang ke sini. Kita berharap yang datang ke sini punya pikiran yang terbuka aja untuk untuk ngobrol, untuk melihat apa sih yang ada di sekitar kita, lebih besar dari diri kita sendiri," tutupnya.
Sementara, salah satu pengunjung, Muhammad Zaidan (16), mengaku rutin mengunjungi Melek Huruf setidaknya dua minggu sekali. Sebagai orang yang senang membaca, ia mengaku sangat terbantu dengan keberadaan Melek Huruf.
"Bisa gratis membaca, kebetulan saya belum punya buku-bukunya, jadi ke sini bisa sekalian ngopi," ujarnya.
Nah, buat kamu yang tertarik mampir ke Melek Huruf, tempat ini buka setiap Jumat hingga Senin pukul 10.00-18.00 WIB. Lokasinya bisa ditempuh sekitar satu jam dari Yogyakarta dengan kendaraan pribadi. Warungnya menyediakan kopi, teh artisan, serta makanan yang menonjolkan bahan-bahan lokal.
















