6 Stasiun Hilang di Jogja, Berubah Jadi Terminal dan Posyandu

- Jogja dulunya punya banyak stasiun aktif sejak era kolonial, tapi kini hanya lima yang masih beroperasi karena perubahan zaman dan kebutuhan transportasi modern.
- Enam stasiun nonaktif seperti Kalasan, Medari, Beran, Palbapang, Ngabean, dan Kalimenur kini beralih fungsi jadi fasilitas publik seperti terminal, posyandu, hingga taman parkir.
- Penutupan stasiun-stasiun ini dipicu faktor sejarah berbeda—mulai dari pembangunan jalur ganda, bencana alam Merapi, hingga penurunan aktivitas ekonomi dan perubahan moda transportasi.
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) saat ini memiliki lima stasiun yang masih beroperasi. Yaitu Stasiun Tugu Yogyakarta, Lempuyangan, Wates, sentolo dan Rewulu. Dalam sejarahnya, Jogja mempunyai beberapa stasiun yang terhubung dari wilayah Timur ke Barat, sekaligus Utara ke Selatan.
Di tahun 1872, jalur kereta api mulai merambah wilayah Jogja untuk mendukung distribusi hasil bumi dari kawasan Vorstenlanden ke pelabuhan, menjadikan Jogja sebagai salah satu pusat ekonomi perkebunan penting bagi pemerintah kolonial Belanda.
Perubahan zaman mengakibatkan beberapa stasiun berhenti beroperasi bahkan beralih fungsi. Di antaranya terdapat di Sleman, Kota Yogyakarta serta Kulon Progo. Yuk, kita telusuri enam stasiun di Jogja yang saat ini sudah nonaktif.
1. Stasiun Kalasan, Sleman

Stasiun Kalasan (KLS) adalah stasiun kereta api yang kini sudah nonaktif dan merupakan stasiun kelas kecil yang berlokasi di Tirtomartani, Kalasan, Sleman. Berada di ketinggian sekitar +126 meter, stasiun ini masuk dalam wilayah Daerah Operasi VI Yogyakarta. Letak Stasiun Kalasan cukup dekat Candi Kalasan, kurang lebih cuma 1,7 kilometer.
Aktivitas stasiun berhenti sejak 1 Agustus 2007, bertepatan dengan pembangunan jalur ganda lintas Kutoarjo–Solo. selain itu letaknya tak terlalu jauh dari Stasiun Maguwo.
Pada 2025, sempat terdapat wacana PT KAI mengaktifkan Sasiun Maguwo.
2. Stasiun Medari, Sleman

Bekas bangunan Stasiun Medari di Sleman memiliki ukuran sekitar 14 x 4 meter, memanjang dari utara ke selatan dengan bagian depan menghadap ke barat.
Dilansir laman Kalurahan Caturharjo, stasiun ini dibangun Nederlandsch Indische Spoorwegen Maatschappij (NISM) pada tahun 1898 untuk melayani kereta api uap atau trem. Pada masanya, area depan stasiun dilengkapi tiga jalur rel yang diatur menggunakan wesel, menandakan perannya yang cukup aktif dalam operasional kereta saat itu.
Selain melayani penumpang, Stasiun Medari juga terhubung dengan jalur rel menuju Pabrik Gula Medari yang berada di sisi timur bangunan. Namun, pada tahun 1976, operasional stasiun ini dihentikan oleh PJKA karena kalah bersaing dengan kendaraan pribadi dan moda transportasi lain. Kini, bangunan yang tersisa telah beralih fungsi menjadi Posyandu Kenari sekaligus perpustakaan anak Tanggap Bocah (Tabo) di Dusun Ganjuran, Caturharjo, Sleman.
3. Stasiun Beran, Sleman

Pada masa kolonial, wilayah Sleman pernah dilintasi jalur kereta api yang menghubungkan Jogja dan Magelang. Salah satu titik pentingnya adalah Stasiun Beran (BRA) yang brtempat di Tridadi, Sleman, dengam ketinggian sekitar +198 meter dan masuk dalam Wilayah Penjagaan Aset VI Yogyakarta.
Stasiun ini dibangun Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan beroperasi pada 1 Juli 1898, dan sempat memiliki tiga jalur kereta yang salah satunya menjadi sepur lurus utama.
Seiring waktu, fungsi bangunan Stasiun Beran berubah, bahkan digunakan sebagai kantor Koramil dengan penyesuaian pada struktur arsitekturnya. Arah hadap bangunan yang awalnya menghadap selatan, tepatnya ke Jalan PJKA Sleman kini ke utara seiring perubahan fungsi pada 1980-an.
Stasiun Beran dihentikan operasionalnya pada 5 Maret 1975 akibat serangkaian letusan Gunung Merapi yang mengeluarkan banjir lahar dingin hingga merusak Jembatan Krasak yang berdampak pada terputusnya jalur kereta.
4. Stasiun Palbapang, Bantul

Stasiun Palbapang atau yang kini digunakan menjadi terminal, merupakan salah satu stasiun kecil yang berada di jalur kereta api Yogyakarta–Brosot.
Pada masa aktifnya, stasiun ini melayani penumpang sekaligus pengangkutan barang, terutama hasil perkebunan tebu dari pabrik gula di sekitarnya. Dan waktu itu operasional kereta masih mengandalkan lokomotif uap berbahan bakar batu bara dan kayu jati dengan suplai air yang diambil dari menara air di area stasiun.
Memasuki waktu malaise tahun 1931–1935, aktivitas kereta api mulai terdampak seiring melemahnya sektor perkebunan di Yogyakarta. Kondisi ini diperparah saat pendudukan Jepang pada 1942 yang diikuti pembongkaran rel, hingga akhirnya jalur Yogyakarta–Pundong dan Palbapang–Sewu Galur berhenti beroperasi.
Meski sempat aktif kembali pada 1954, perannya perlahan memudar. Pada 20 Juli 1990, area stasiun ini resmi dialihfungsikan menjadi terminal bus antar kota dan provinsi oleh Pemerintah Kabupaten Bantul.
5. Stasiun Ngabean, Kota Yogyakarta

Gak banyak yang tahu Terminal Ngabean yang kini digunakan sebagai taman parkir dan transit Trans Jogja, dulunya adalah stasiun. Ya, Stasiun Ngabean terletak di kawasan Notoprajan, Ngampilan, Kota Yogyakarta, pernah menjadi bagian dari jalur Yogyakarta–Sewugalur.
Stasiun ini dibangun Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NIS) dan mulai beroperasi pada 21 Mei 1895, bersamaan dibukanya segmen Yogyakarta–Srandakan. Menariknya, Stasiun Ngabean juga merupakan stasiun penting dengan lima jalur serta melayani percabangan ke arah Pundong yang melintasi wilayah Kotagede.
Stasiun ini bukan hanya melayani penumpang, juga sebagai titik transit angkutan barang dari sejumlah pabrik di Yogyakarta. Salah satunya pengangkutan tetes tebu dari Pabrik Gula Madukismo, serta jalur menuju pabrik pengolahan kayu jati di sisi barat stasiun yang kini telah berubah menjadi kawasan permukiman dan masjid.
Sasiun Ngabean tetap aktif di masa pascakemerdekaan, tapi layanan penumpang di stasiun ini berakhir pada 1973, meski angkutan barang masih bertahan hingga sekitar 1980-an.
6. Stasiun Kalimenur, Kulon Progo

Stasiun Kalimenur merupakan salah satu stasiun yang sudah tidak aktif di Jogja. Sasiun ini berada di Desa Sukoreno, Sentolo, Kulon Progo, dan sudah tidak digunakan sejak 1974.
Stasiun dibangun pada masa Hindia Belanda, bertepatan dengan pengembangan jalur kereta api jalur Yogyakarta–Maos oleh Staatsspoorwegen (SS) pada tahun 1877 sebagai lanjutan dari lintas Solo Balapan–Yogyakarta. Dulunya, stasiun ini dijuluki “Stasiun Tahu” karena banyak perajin tahu dari Sentolo yang berangkat dari lokasi ini untuk menjajakan dagangannya ke Kota Yogyakarta, bersama para pedagang sayur dan hasil pertanian lainnya.
Meski lama tidak aktif, kawasan di sekitar halte Kalimenur sempat menjadi sorotan saat terjadi insiden kecelakaan kereta pada 17 Oktober 2023. Saat itu, KA Argo Semeru relasi Surabaya Gubeng–Gambir mengalami anjlok, disusul KA Argo Wilis yang sempat menyerempet rangkaian kereta yang miring. Beruntung tidak ada korban jiwa, meski kejadian ini sempat berdampak pada perubahan jadwal, pengalihan rute, hingga pembatalan sejumlah perjalanan kereta api.
Perubahan zaman hingga pergeseran kebutuhan membuat beberapa stasiun di Jogja berhenti beroperasi. Namun kisah ini tetap layak diingat sebagai bagian penting dari sejarah yang pernah lekat dengan denyut jalur kereta api.
















