Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Legenda Reksapraja, Raksasa Penjaga Gunung Merapi di Plawangan

Legenda Reksapraja, Raksasa Penjaga Gunung Merapi di Plawangan
ilustrasi Gunung Merapi di Indonesia (pexels.com/mpo atm)
Intinya Sih
  • Panembahan Senopati khawatir akan ancaman letusan Gunung Merapi yang bisa membahayakan rakyat Mataram, lalu meminta petunjuk spiritual melalui Ki Juru Mertani.
  • Dalam pertapaannya di Nglipura, Panembahan Senopati bertemu Kanjeng Ratu Kidul di Laut Selatan dan menerima telur sakti bernama Endhog Degan sebagai solusi atas masalahnya.
  • Telur itu ditelan oleh Reksapraja hingga berubah menjadi raksasa penjaga Gunung Merapi di Plawangan, dipercaya melindungi Mataram dari lahar serta menjadi asal tradisi Labuhan Merapi tahunan.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Gunung Merapi adalah salah satu gunung berapi paling aktif di dunia. Meski gunung ini beberapa kali mengalami letusan dahsyat, masyarakat Yogyakarta tetap hidup berdampingan dengan Gunung Merapi selama berabad-abad.

Konon, ada sosok raksasa yang mendiami Bukit Plawangan bernama Reksapraja. Raksasa itu ditugaskan oleh Panembahan Senopati untuk menjaga rakyat Bumi Mataram dari erupsi Merapi.

1. Kekhawatiran Panembahan Senopati atas keselamatan rakyat Mataram

Potret Panembahan Senopati (kebudayaan.jogjakota.go.id)
Potret Panembahan Senopati (kebudayaan.jogjakota.go.id)

Dalam buku Antologi Cerita Rakyat Daerah Istimewa Yogyakarta yang ditulis Dhanu Priyo Prabowo, diceritakan bahwa Panembahan Senopati, sang Raja Mataram, memendam kekhawatiran terhadap ancaman Gunung Merapi. Ia merasa cemas karena sewaktu-waktu gunung tersebut dapat meletus dan menyemburkan lahar panas yang mengalir ke arah selatan.

Jika letusan besar terjadi, maka seluruh rakyat yang berada di sisi selatan gunung, termasuk Istana Mataram, akan tersapu oleh lahar panas tersebut dan luluh lantak. Masalah ini dianggap sebagai persoalan yang sangat berat karena menyangkut keselamatan dan kesejahteraan seluruh kawula Mataram.

Untuk mengatasi masalah besar ini, Panembahan Senopati meminta nasihat kepada orang kepercayaannya, Ki Juru Mertani. Dari petunjuk gaib yang diterimanya, Ki Juru Mertani kemudian menyarankan sang raja untuk bertapa di Desa Nglipura (sekarang bernama Bambanglipura di wilayah Bantul) guna memohon petunjuk Tuhan.

2. Pertemuan dengan Kanjeng Ratu Kidul

Pesona pantai Parangtritis
Pesona pantai Parangtritis (unsplash.com/Elang Wardhana)

Tempat bertapa yang ditunjuk oleh Ki Juru Mertani berada di sebuah sungai yang berair jernih dan cukup dalam. Sungai itu memiliki aliran ke sungai Opak. Selama masa pertapaannya, Panembahan Senopati mendengar suara gaib yang memerintahkannya untuk menaiki sebuah kayu besar di tepi sungai yang berfungsi sebagai perahu.

Kayu yang ditumpangi Panembahan Senopati itu membawanya hingga ke Laut Selatan. Sesampainya di sana, ia bertemu dengan Nyi Ajeng Ratu Kidul, penguasa makhluk halus di laut selatan Jawa. Saat berjumpa, Kanjeng Ratu Kidul dan Panembahan Senopati saling jatuh cinta.

Ratu Kidul pun bersedia membantu memecahkan masalah sang raja. Ia memberikannya sebuah telur istimewa bernama Endhog Degan.

3. Endhog Degan mengubah Reksapraja menjadi raksasa

Merapi Turgo—Plawangan (commons.wikimedia.org/Bakti Wawan Kartyawan)
Merapi Turgo—Plawangan (commons.wikimedia.org/Bakti Wawan Kartyawan)

Setelah Panembahan Senopati kembali ke istana, Ki Juru Mertani menjelaskan bahwa telur pemberian Ratu Kidul tersebut harus ditelan oleh seorang juru taman istana yang bernama Reksapraja. Setelah Panembahan Senopati menyampaikan maksudnya kepada sang juru taman, Reksapraja pun mengikuti perintah raja dengan taat.

Begitu Reksapraja menelan telur tersebut, tubuhnya berubah menjadi raksasa yang sangat besar. Panembahan Senopati merasa kasihan namun bertanggung jawab atas nasib Reksapraja, sehingga ia menugaskan raksasa tersebut untuk menjaga Gunung Merapi.

Raksasa Reksapraja kemudian diperintahkan untuk tinggal di Plawangan, sebuah gunung kecil di sebelah selatan Gunung Merapi, dengan tugas utama melindungi rakyat Mataram dari amukan lahar panas. Sejak saat itu, konon setiap kali Gunung Merapi meletus, laharnya tidak pernah mengalir ke selatan (arah Mataram), melainkan dialihkan ke sungai-sungai yang melewati wilayah Magelang atau Klaten.

Sebagai tanda terima kasih atas jasa raksasa Reksapraja, Keraton Mataram secara rutin mengadakan upacara sesaji di Gunung Merapi setiap satu tahun sekali. Tradisi ini masih hidup hingga kini lewat Upacara Labuhan Merapi yang diadakan setiap 30 Rajab dalam kalender Jawa untuk memohon keselamatan dan berkah Tuhan bagi DIY.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Paulus Risang
EditorPaulus Risang
Follow Us

Latest Travel Jogja

See More