Mitos Sendang Seliran Kotagede, Ada Lele Penjaga yang Dikeramatkan

- Kotagede, Jogja, adalah kawasan bersejarah dengan mitos Sendang Seliran yang dijaga dan diterapkan nilai-nilai kehidupan lokalnya.
- Sendang Seliran adalah situs bersejarah dengan empat sumber air utama, tempat ritual warga, dan mitos ikan lele sebagai penjaga.
- Mitos Sendang Seliran menciptakan pola interaksi baik, memotivasi mempertahankan hubungan sosial harmonis di tengah keberagaman. Prinsip rukun dan hormat terlihat dalam merawat Sendang Seliran.
Kawasan Kotagede di Yogyakarta dikenal sebagai jejak sejarah Mataram Islam yang masih terjaga hingga kini. Di balik kompleks Makam Raja-Raja Mataram, tersimpan sebuah kisah yang terus hidup di tengah masyarakat, yakni mitos Sendang Seliran. Tak sekadar tempat bersejarah, sendang ini juga dipercaya sebagai lokasi pemandian raja sekaligus ruang spiritual yang sarat makna bagi warga sekitar.
Cerita tentang sendang ini tak hanya soal masa lalu, tapi juga tentang kepercayaan yang masih dijaga hingga sekarang, termasuk keberadaan ikan lele yang diyakini sebagai penjaga tempat tersebut.
1. Ikan lele penjaga sendang diperlakukan layaknya manusia

Juga disebut Sendang Selirang, situs bersejarah yang letaknya di kompleks Makam Raja-Raja Mataram Kotagede, Yogyakarta, dibangun tahun 1584 oleh Panembahan Senopati yaitu Kyai Ageng Mataram. Di areanya terdapat empat sumber air utama yaitu, Sendang Kakung, Sendang Puteri, Sumber Kemuning, dan Sumber Bendha.
Sendang Seliran hanya merujuk pada Sendang Kakung dan Puteri. Sumber mata air Sendang Kakung berasal dari aliran bawah tanah yang mengalir ke makam Raja-Raja. Sementara, Sendang Puteri mendapatkan air dari akar pohon beringin besar yang tumbuh di gerbang kompleks makam.
Sendang ini telah berusia ratusan tahun dan masih digunakan sebagai lokasi ritual masyarakat. Malam Jumat Kliwon tempat ini banyak dikunjungi warga untuk berziarah. Ada kepercayaan bahwa berdoa di tempat dan waktu tersebut, maka akan mempercepat proses terkabulnya keinginan.
Salah satu mitos yang berkembang di sekitar Sendang Seliran yaitu ikan lele. Masyarakat percaya bahwa ikan lele yang dipelihara di sana sebagai penjaga sendang kakung. Oleh karena itu, cara memeliharanya istimewa dan diperlakukan dengan baik. Konon, kalau ada yang berbuat buruk kepada ikan lele tersebut, maka akan mendapat kesialan.
Setelah ikan lele mati, juga tetap diperlakukan baik sebagaimana manusia. Ikan yang sudah mati akan dikafani, lalu dikuburkan di sekitar makam Raja-Raja.
2. Mitos Kiai Reges Truno Lele yang dipercaya membawa keberuntungan

Di Sendang Seliran, masyarakat juga mengenal sosok lele mistis yang disebut Kiai Reges atau Kiai Truno Lele. Reges sendiri dalam bahasa Jawa artinya tidak berdaging. Berbeda dari lele pada umumnya, makhluk ini dipercaya memiliki wujud tak lazim, hanya berupa kepala dan tulang tanpa daging, tapi tetap hidup dan bergerak di dalam sendang. Keberadaannya tidak bisa dilihat setiap saat, dan konon hanya orang-orang tertentu yang bisa menyaksikannya.
Konon, Ikan lele tersebut merupakan titisan dari ikan lele yang disantap oleh Panembahan Senopati. Setelah selesai disantap, ikan yang tinggal duri dilempar ke sendang dan langsung bisa hidup kembali.
Dalam kepercayaan setempat, kemunculan Kiai Reges Truno Lele dianggap sebagai pertanda baik. Mereka yang beruntung melihatnya diyakini akan mendapatkan keberkahan, mulai dari terkabulnya doa hingga datangnya rezeki.
3. Gotong Royong dalam pelestarian Sendang Seliran

Adanya kepercayaan masyarakat terhadap mitos ini mampu menciptakan pola interaksi yang baik. Warga bergotong royong menjaga dan merawat area kompleks Raja-Raja secara berkala. Seperti yang dijelaskan oleh Lailul Ilham dalam Mitos Sendang Seliran dan Perilaku Sosial Masyarakat, warga secara rutin membersihkan area makam.
Sebagai penghormatan kepada leluhur, masyarakat juga mengadakan ritual tahunan yaitu Nahwu Sendang, prosesi menguras sendang. Tradisi ini menarik perhatian banyak orang, sehingga gak hanya diikuti masyarakat setempat, tapi juga pengunjung makam dari berbagai daerah pun ikut menyaksikan.
4. Mitosnya menjadi perekat hubungan antarumat

Tak hanya sebagai warisan budaya, namun dengan adanya mitos ini juga jadi motivasi masyarakat dalam mempertahankan hubungan sosial yang harmonis. Bukti nyatanya ada dalam penelitian Ghafur dalam jurnal Dialektika Agama dan Budaya dalam “Berkah” Nawu Sendang Selirang. Di satu sisi, ada sekelompok masyarakat yang mengikuti pengajian di Masjid, sementara sisi lainnya juga banyak orang yang lalu lalang menuju kompleks makam dan sendang untuk berziarah maupun ritual tertentu.
Situasi ini menggambarkan kehidupan sosial masyarakat sekitar yang harmonis di tengah keberagaman. Terlebih ketika malam 1 Sura, jumlah peziarah yang datang bisa jauh lebih banyak dari peserta pengajian di Masjid Mataram. Meski ada perbedaan, masyarakat tetap hidup tenteram.
Seperti yang disampaikan Suseno dalam buku Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, masyarakat Jawa mengatur interaksinya berdasarkan prinsip kerukunan dan hormat. Prinsip ini terlihat jelas dalam pola hidup masyarakat setempat dalam merawat Sendang Seliran.
Lebih dari sekadar cerita turun-temurun, mitos Sendang Seliran mencerminkan cara masyarakat menjaga harmoni dalam kehidupan sosial. Nilai rukun dan saling menghormati terlihat dari bagaimana warga merawat kawasan ini, sekaligus menerima keberagaman praktik spiritual yang ada.
Di tengah perubahan zaman, tradisi yang tetap hidup di Sendang Seliran menjadi bukti bahwa warisan budaya tak hanya disimpan, tapi juga terus dirawat dan dimaknai oleh generasi ke generasi.
















