Makam Raja Kotagede, Saksi Sejarah Kebesaran Mataram Islam

- Makam Raja Kotagede di Yogyakarta menjadi destinasi wisata sejarah yang memadukan nilai spiritual dan budaya Jawa, serta dikelola bersama oleh Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta.
- Kompleks makam memiliki tiga bangunan utama bergaya campuran Eropa dan Jawa, serta sendang bernama Seliran yang dipercaya memiliki makna spiritual bagi para peziarah.
- Tokoh penting seperti Panembahan Senopati, Ki Ageng Pemanahan, dan Sultan Hadiwijaya dimakamkan di sini, dengan aturan kunjungan ketat termasuk jadwal terbatas dan pakaian tradisional khusus.
Makam Raja-raja Mataram di Kotagede menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang masih terjaga hingga kini. Berlokasi tak jauh dari pusat Kota Yogyakarta, kawasan ini bukan hanya tempat peristirahatan para pendiri Mataram Islam, tetapi juga ruang budaya yang mempertahankan tradisi Jawa secara turun-temurun. Pengunjung pun bisa merasakan langsung nuansa sakral sekaligus historis dalam satu kawasan.
Selain berziarah, pengunjung dapat berfoto menggunakan pakaian tradisional hingga berbincang dengan para abdi dalem. Wisatawan yang ingin mengunjungi makam ini tidak dipungut biaya. Cari tahu sejarah dan fakta Makam Kotagede di bawah ini!
1. Sejarah pembangunan Makam Kotagede

Awalnya, wilayah Kotagede merupakan Ibu Kota Kerajaan Mataram Islam yang berdiri pada akhir abad ke-16. Di sana juga berdiri pasar tradisional tertua di Yogyakarta, yaitu Sargede atau saat ini disebut dengan Pasar Legi Kotagede.
Tak jauh dari Sargede, terdapat Makam Kotagede yang secara administratif termasuk wilayah Dusun Sayangan, Jagalan, Banguntapan, Bantul. Bangunan bersejarah itu dibangun oleh Panembahan Senopati pada tahun 1589 dan rampung pada tahun 1606.
Pemakaman ini dikelola oleh Kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, beserta dengan Masjid Agung Kotagede.
2. Bagian Makam Kotagede

Makam Kotagede dikelilingi tembok berbahan batu yang menjadi satu dengan tembok barat Masjid Agung Kotagede, sementara pintu masuk ke area makam berada di selatan halaman masjid.
Ada tiga bangunan utama yang berada dalam kompleks makam yang berfungsi sebagai cungkup makam. Yang pertama yaitu Bangsal Prabayaksa, Bangsal Witana, dan Bangsal Tajug.
Mengutip dari laman Jogja Cagar, Bangsal Prabayaksa memiliki desain yang berbeda dari dua bangsal lainnya karena memiliki arsitektur Eropa sedangkan Bangsal Witana dan Bangsal Tajug bergaya tradisional Jawa.
Selain bangunan utama, Makam Kotagede juga terdapat sendang atau mata air yang bernama Sendang Seliran. Sendang dibagi menjadi dua yaitu Sendang Saliran Lanang dan Sendang Saliran Putri. Air dari sendang tersebut dipercaya terdapat lele putih suci. Di zaman sekarang, sendang banyak dikunjungi para peziarah dengan maksud untuk mandi dan mengucapkan permintaan.
3. Tokoh-tokoh yang dimakamkan di Makam Kotagede

Terdapat puluhan makam yang berada di kompleks tersebut. Di antaranya adalah makam Sultan Hadiwijaya, Raja Pajang, Ki Ageng Pemanahan, Sultan Hamengku Buwono II, dan Danang Sutawijaya yang kemudian bergelar Raja Panembahan Senopati.
Sementara itu, ada makam Ki Ageng Mangir, makam tersebut adalah menantu sekaligus musuh Panembahan Senopati yang letaknya berada di luar kompleks pemakaman. Tak jauh dari makam Ki Ageng Mangir atau sekitar seratus meter, terdapat 'Watu Gilang' yang tak lain merupakan batu yang digunakan Panembahan Senopati untuk menghantam kepala Ki Ageng Mangir hingga tewas.
4. Aturan mengunjungi Makam Kotagede

Sementara itu, Makam Panembahan Senopati atau yang disebut juga Pasarean Mataram hanya dibuka saat hari tertentu, yaitu setiap hari Senin, Kamis, dan Jumat setelah selesai Salat Jumat. Sementara selama Bulan Ramadan, makam ditutup untuk umum.
Sebelum memasuki kawasan Makam Panembahan Senopati, pengunjung diminta mengisi buku tamu. Pada waktu tertentu, pengunjung juga wajib mengenakan busana adat Jawa yang telah disediakan pengelola. Bagi pengunjung laki-laki menanggalkan baju dan hanya mengenakan lilitan kain panjang, sementara pengunjung perempuan mengenakan kemben untuk menutupi dada dan bagian bawahnya mengenakan kain panjang.
Lebih dari sekadar wisata religi, Makam Kotagede menghadirkan pengalaman yang memadukan sejarah, budaya, dan tradisi yang masih hidup. Dengan aturan khas yang tetap dijaga, tempat ini menjadi pengingat bahwa warisan Mataram Islam tak hanya tersimpan dalam cerita, tetapi juga terus dijalankan hingga sekarang.
















