Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Sonobudoyo, Museum Bergaya Modern dengan 60 Ribu Koleksi Sejarah

Sonobudoyo, Museum Bergaya Modern dengan 60 Ribu Koleksi Sejarah
Museum Sonobudoyo wisata sejarah di Yogyakarta (https://sonobudoyo.jogjaprov.go.id/)
Intinya Sih
  • Museum Sonobudoyo di Yogyakarta memadukan arsitektur joglo tradisional dengan rancangan modern karya Thomas Karsten, mencerminkan filosofi hubungan manusia dan nilai spiritual Jawa.
  • Didirikan pada 1935 atas prakarsa Java Instituut dan dukungan Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, museum ini menjadi pusat pelestarian budaya Jawa, Madura, Bali, dan Lombok.
  • Dengan lebih dari 60 ribu koleksi artefak bersejarah serta fasilitas modern seperti AR, VR, dan bioskop mini, Museum Sonobudoyo menghadirkan pengalaman edukatif sekaligus interaktif bagi pengunjung.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Saat menyusuri sisi utara Alun-Alun Utara di Kota Yogyakarta, kamu akan melihat sebuah bangunan megah dengan arsitektur Jawa. Tempat ini bukan sekadar bangunan biasa, melainkan rumah bagi ribuan jejak peradaban yang tersusun rapi, yaitu Museum Sonobudoyo.

Sebagai salah satu museum tertua di Indonesia, Sonobudoyo menyimpan kisah panjang. Saat mampir di museum ini, kamu akan diajak melintasi lorong waktu ke masa kejayaan kebudayaan Nusantara. Tak ketinggalan, berbagai koleksi melimpah mulai naskah kuno hingga wayang, menjadi daya tarik yang dititipkan oleh para leluhur. Supaya lebih tahu, yuk simak sejarah, dan koleksi Museum Sonobudoyo.

1. Makna bangunan Museum Sonobudoyo

Museum Sonobudoyo Yogyakarta. Instagram/museumsonobudoyo
Museum Sonobudoyo Yogyakarta. (Instagram/museumsonobudoyo)

Bangunan Museum Sonobudoyo mengusung gaya rumah joglo yang dipadukan dengan arsitektur Masjid Keraton Kesepuhan Cirebon Desainnya merupakan karya Herman Thomas Karsten yang dikenal lewat sentuhan arsitektur khas pada bangunan bersejarah.

Thomas Karsten sengaja membuat bangunan yang fungsional, yaitu sebagai museum sekaligus ruang pamer dengan seni bangunan tradisional Jawa.

Dilansir laman jogjacagar.jogjaprov.go.id, bangunan museum ini diberi nama rumah Limasan Lambang Teplok, tapi memiliki sistem penataan ruang untuk kebutuhan ruang pamer koleksi museum. Setiap bagiannya terdiri atas bagian pendapa, dan pringgitan. Dalam filosofi Jawa memiliki makna berupa hubungan manusia dengan hal transendental yang tampak pada bagian dalam, dan makna hubungan sosial antar manusia di sisi pendapa.

Dalam rancangannya, arsitek asal Belanda ini memodifasi senthong atau kamar kiwa dan senthong tengen menjadi ruang pamer koleksi museum yang memiliki jalur pameran. Nah, untuk bagian senthong tengah atau petanen tetap dipertahankan sebagai gambaran kehadiran Dewi Sri melalui simbol keberadaan tempat tidur untuk mengisi ruang seperti lazimnya rumah tradisional Jawa. 

2. Sejarah Museum Sonobudoyo

Pameran AMEX di Museum Sonobudoyo 2024. (Instagram.com/sonobudoyo)
Pameran AMEX di Museum Sonobudoyo 2024. (Instagram.com/sonobudoyo)

Menurut laman resmi Museum Sonobudoyo, cikal bakal museum ini berawal dari Java Instituut yang merupakan yayasan kebudayaan dan berfokus pada tradisi Jawa, Madura, Bali, dan Lombok yang didirikan di Surakarta pada 1919.

Berdasarkan keputusan kongres tahun 1924, lembaga ini sepakat membangun sebuah museum di Yogyakarta, yang kemudian dilanjutkan dengan proses pengumpulan data kebudayaan dari berbagai daerah tersebut pada 1929. Pada 1931, Panitia Perencana Pendirian Museum dibentuk dengan melibatkan tokoh-tokoh seperti Thomas Karsten, P.H.W. Sitsen, dan Koeperberg.

Museum ini menempati tanah bekas shouten atau yang merupakan pemberian Sri Sultan Hamengkubuwono VIII, dengan penanda sengkalan “Buta ngrasa estining lata” yang menunjukkan tahun 1865 Jawa atau 1934 Masehi. Setelahnya, museum diresmikan oleh Sri Sultan Hamengkubuwana VIII pada Rabu Wage, 9 Ruwah 1866 Jawa. Momen bersejarah tersebut diabadikan melalui candrasengkala “Kayu Winayang Ing Brahmana Budha” yang bertepatan dengan tanggal 6 November 1935 dalam penanggalan Masehi.

Sedangkan pada masa pendudukan Jepang, pengelolaan Museum Sonobudoyo berada di bawah Bupati Paniradyapati Wiyata Praja, yang saat itu termasuk dalam Kantor Sosial bagian pengajaran. Selanjutnya di masa kemerdekaan, pengelolaannya beralih pada Bupati Utorodyopati Budaya Prawito sebagai bagian dari jajaran Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta. Peralihan ini menunjukkan museum tetap dijaga keberadaannya di tengah perubahan zaman dan sistem pemerintahan.

Perjalanan kelembagaan museum ini terus berlanjut hingga akhir tahun 1974, diserahkan kepada Pemerintah Pusat melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Saat itu, Museum Sonobudoyo berada di bawah tanggung jawab langsung Direktorat Jenderal, seiring dengan berlakunya Undang-undang No. 22 tahun 2000 tentang kewenangan Pemerintah dan Provinsi sebagai bagian dari otonomi daerah.

Memasuki Januari 2001, museum bergabung dengan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi DIY dan diusulkan menjadi UPTD berdasarkan Perda No. 7 Tahun 2002 serta diperkuat dengan SK Gubernur No. 161 Tahun 2002 yang mengatur tugas dan fungsinya.

Mengutip laman Wonderful Indonesia, nama Sonobudoyo memiliki makna mendalam. Diambil dari bahasa Jawa, artinya adalah tempat pelestarian kebudayaan yang sesuai dengan tujuan utama museum sebagai penjaga warisan budaya bangsa.

3. Fasilitas Museum Sonobudoyo

Pagelaran di Museum Sonobudoyo (instagram.com/sonobudoyo)
Pagelaran di Museum Sonobudoyo (instagram.com/sonobudoyo)

Siapa sangka, Museum Museum Sonobudoyo merupakan salah satu museum budaya paling lengkap di Indonesia karena menyimpan lebih dari 60 ribu artefak bersejarah dari berbagai daerah, seperti Jawa, Bali, Madura, sampai Lombok. Koleksi unggulannya mencakup beragam jenis wayang, keris peninggalan masa kerajaan, serta naskah dan benda budaya lain yang sarat nilai historis. Semua koleksi tersebut ditata dalam bangunan bergaya arsitektur tradisional Jawa yang estetik sehingga menambah kesan klasik yang kental tapi tetap nyaman bagi pengunjung.

Tak hanya menyajikan benda bersejarah, Museum Sonobudoyo juga menghadirkan pengalaman belajar budaya melalui pertunjukan wayang kulit dan gamelan yang rutin digelar untuk pengunjung. Pengalaman pengunjung juga semakin kaya karena museum ini terbilang modern dengan adanya teknologi AR (Augmented Reality) dan VR (Virtual Reality) seperti jemparingan atau panahan tradisional.

Soal fasilitas, tak perlu diragukan lagi. Museum Sonobudoyo bahkan memiliki jadwal pemutaran film edukatif melalui bioskop mini informatif yang menambah proses belajar sejarah terasa lebih menarik. Dalam beberapa periode waktu tertentu, juga diadakan pameran tematik dengan tema kebudayaan Nusantara.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari
Follow Us

Latest Travel Jogja

See More