Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cerita Usaha Kuliner Jogja: Menukar Tabung Gas, Menghapus Waswas

Kota Yogyakarta
Cerita Usaha Kuliner Jogja: Menukar Tabung Gas, Menghapus Waswas
Fasilitas Pressure Reducing Station (PRS) PGN di Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Pelaku usaha kuliner di Yogyakarta menilai layanan gas terintegrasi PGN menghilangkan kekhawatiran kehabisan tabung, memudahkan pembayaran berdasarkan meter, dan tetap memakai kompor lama.
  • Nasi Goreng Mas Wit menurunkan biaya gas dari hampir Rp2 juta menjadi sekitar Rp680 ribu per bulan, sementara RM Padang Payakumbuah menghemat energi hingga 30 persen.
  • PGN menekankan jaringan bertekanan rendah, tim siaga 24 jam, serta pasokan domestik; di Sleman, pelanggan telah mencapai 4.545 rumah tangga, 6 kecil, dan 4 komersial-industri.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Sleman, IDN Times - Bagi pelaku usaha kuliner, gas bukan sekadar kebutuhan dapur. Ketersediaan bahan bakar menentukan apakah aktivitas memasak dan pelayanan kepada pelanggan dapat terus berjalan, terutama bagi usaha yang beroperasi hingga larut malam.

Pengalaman itu dirasakan Elin Aryanita, pemilik Nasi Goreng Mas Wit di kawasan Gejayan, Yogyakarta. Sebelum menggunakan layanan gas terintegrasi dari Perusahaan Gas Negara (PGN), Elin harus menyiapkan sejumlah tabung gas untuk memastikan kebutuhan dapur tetap aman sepanjang jam operasional. Warung yang buka mulai pukul 10.00 hingga 24.00 WIB itu sebelumnya menggunakan berbagai jenis tabung gas. Stok cadangan menjadi keharusan karena Elin tidak ingin aktivitas memasak terhenti ketika gas tiba-tiba habis.

"Dulu kita harus punya stok tabung gas banyak sekali karena takut pada saat jualan ternyata habis gasnya. Kalau sekarang kita sudah tidak pernah lagi khawatir kehabisan gas saat berjualan," ujar Elin, Kamis (13/8/2026).

  1. Pelanggan merasa lebih hemat dan praktis

    WhatsApp Image 2026-08-13 at 18.21.49.jpeg
    Pemanfaatan gas dari PGN di Nasi Goreng Mas Wit di kawasan Gejayan. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Sekitar satu hingga satu setengah tahun lalu, Elin mendapat penawaran untuk menggunakan layanan gas terintegrasi. Setelah melalui proses instalasi, layanan tersebut mulai digunakan pada tahun berikutnya.

    Sejak beralih, persoalan ketersediaan gas yang sebelumnya menjadi kekhawatiran praktis hilang. Elin tidak lagi perlu memperkirakan berapa banyak tabung yang harus disiapkan untuk memastikan dapur tetap beroperasi hingga tengah malam.

    “Kalau sekarang kita tidak pernah lagi khawatir kehabisan gas saat berjualan. Saat toko-toko sudah tutup pun kita tetap nyaman,” katanya.

    Efisiensi juga menjadi perubahan yang paling dirasakan Elin setelah menggunakan layanan gas terintegrasi.  “Kalau dulu untuk warung ini kami budget gas sendiri mungkin di atas Rp1 juta, hampir Rp2 juta. Sekarang hanya sekitar Rp680 ribu. Pokoknya sepertiganya,” ujar Elin.

    Menurut Elin, ia tidak lagi mengeluarkan biaya untuk menyiapkan banyak tabung cadangan. Penggunaan gas juga dibayarkan berdasarkan pemakaian yang tercatat pada meter. “Biayanya sesuai dengan yang digunakan, seperti ada di meter,” katanya.

    Pembayaran tagihan dilakukan setiap bulan melalui layanan perbankan digital. Elin mengatakan tagihan penggunaan gas sudah tersedia sehingga ia dapat melakukan pembayaran tanpa harus melakukan proses pemesanan atau penukaran tabung.

    Efisiensi tidak hanya dirasakan dari sisi biaya. Peralihan dari tabung gas ke layanan terintegrasi juga tidak mengharuskan Elin membeli kompor baru. “Kompor biasa, yang sudah kami punya. Tidak perlu pengadaan baru,” ujarnya.

    Instalasi disesuaikan dengan kebutuhan tempat usaha. Elin sebelumnya dapat menentukan sendiri titik pemasangan sesuai posisi kompor di dapur. Saat ini terdapat empat titik yang digunakan untuk mendukung aktivitas memasak.

    Proses perpindahan dari tabung gas ke sistem terintegrasi juga dinilai mudah karena perubahan utamanya berada pada instalasi. “Penyesuaian switching dari penggunaan tabung ke jargas tidak ada kesulitan. Seperti biasa saja, karena hanya instalasinya yang berbeda,” kata Elin.

    Selain efisiensi, keamanan menjadi pertimbangan lain bagi pelaku usaha dalam menggunakan gas untuk kebutuhan operasional. Elin mengatakan selama menggunakan layanan gas terintegrasi, tidak pernah mengalami persoalan kebocoran gas. “Sejauh ini tidak pernah ada keluhan mengenai kebocoran atau apa,” ujarnya.

  2. Kepastian pasokan dan keamanan

    WhatsApp Image 2026-08-13 at 20.43.27.jpeg
    Pemanfaatan gas dari PGN di Payakumbuah Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Hal serupa disampaikan Adi Saputra dari Manajemen RM Padang Payakumbuah Yogyakarta. Restoran tersebut telah menggunakan layanan gas dari PGN sejak November 2024. Menurut Adi, kepastian pasokan dan keamanan menjadi dua manfaat yang penting bagi bisnis kuliner yang membutuhkan bahan bakar setiap hari.

    “Benefit-nya semua itu aman pastinya. Terus ketersediaan bahan bakar juga setiap hari itu tidak ada yang kosong atau habis,” kata Adi.

    Kondisi tersebut, lanjut dia, membuat operasional usaha tetap dapat berjalan pada hari libur maupun periode dengan aktivitas tinggi. “Jadi tanggal merah maupun libur Lebaran atau tahun baru itu selalu ada. Ini sangat bisa menjawab tantangan untuk usaha-usaha yang memungkinkan tidak ada libur,” ujarnya.

    Dari sisi keamanan, Adi mengatakan terdapat dukungan layanan untuk memastikan kondisi instalasi tetap terpantau. “Dari segi servisnya juga luar biasa. Kita bisa saling mengecek terkait keamanan gasnya. Kalau ada gas yang bocor, dari tim juga sangat rutin,” katanya.

    Efisiensi penggunaan gas juga dirasakan Payakumbuah. Adi menyebut restoran tersebut dapat menghemat biaya energi hingga sekitar 30 persen setelah menggunakan layanan gas PGN. “Pastinya efisiensi kita bisa mencapai angka 30 persen,” ujar Adi.

    Dalam kondisi penggunaan normal, pengeluaran gas Payakumbuah berada di kisaran Rp20 jutaan per bulan.  “Kalau gas bisa sampai diangka Rp35 juta sampai Rp40 jutaan,” ungkap Adi.

  3. Faktor keamanan dan keberlanjutan jadi perhatian

    WhatsApp Image 2026-08-13 at 21.01.39.jpeg
    Fasilitas Pressure Reducing Station (PRS) PGN di Yogyakarta. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Dari sisi PGN, aspek keamanan menjadi salah satu bagian yang diperhatikan dalam layanan gas rumah tangga dan komersial. Area Head Semarang PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk, Sugianto Eko Cahyono menjelaskan jaringan gas rumah tangga PGN menggunakan tekanan yang sangat rendah, sekitar 0,03. Kondisi tersebut membuat risiko dampak akibat tekanan gas menjadi lebih kecil.

    “Untuk gas rumah tangga ini dengan tekanan yang sangat rendah di 0,03 sehingga kemungkinan-kemungkinan terjadinya dampak akibat tekanan yang ada di gas itu sangat minim,” kata Sugianto.

    PGN juga menyiapkan tim yang siaga 24 jam apabila pelanggan melaporkan adanya gangguan atau kebocoran. “Kalau terjadi kebocoran di rumah tangga, kami juga ada tim yang standby 24 jam. Ketika ada laporan itu kita langsung datang ke rumah,” ujarnya.

    Sugianto menjelaskan gas alam memiliki karakteristik berbeda dari LPG. Massa jenis gas alam lebih ringan dibandingkan udara. sehingga dengan ventilasi yang memadai, gas lebih mudah keluar dari ruangan ketika terjadi kebocoran.

    “Ketika gas bocor, itu langsung menguap ke udara dan tidak terjadi akumulasi gas di ruangan tersebut,” katanya.

    Ia menambahkan tim operasional juga disiagakan untuk menangani gangguan pada jaringan, termasuk apabila terjadi kerusakan akibat aktivitas pihak ketiga. “Tim kami selalu stand by untuk melakukan penanganan gangguan. Jadi ketika terjadi kebocoran atau terjadi gangguan, misal pipanya putus, tim langsung melakukan penanganan,” ujarnya.

    Sugianto mengatakan pengembangan jaringan gas rumah tangga PGN di Yogyakarta saat ini masih terkonsentrasi di wilayah tertentu dengan mempertimbangkan aspek keekonomian. Sejak proyek pertama pada 2023 hingga 2026, jumlah pelanggan PGN di Sleman telah mencapai 4.545 pelanggan rumah tangga (SRT), 6 Pelanggan Kecil (PK), 4 Komersial Industri (KI).

    Sugianto mengatakan kapasitas jaringan yang terpasang masih memungkinkan untuk dikembangkan. Namun, pada 2026 PGN lebih memfokuskan pengembangan kepada pelanggan komersial, sementara pengembangan pelanggan rumah tangga masih menunggu keberlanjutan kontrak pembangunan jaringan.

    Dari sisi pasokan, PGN juga menyatakan gas bumi memiliki sumber domestik sehingga tidak bergantung sepenuhnya pada impor LPG. Untuk pelanggan rumah tangga dan komersial kecil, keberlanjutan pasokan menjadi salah satu prioritas. “Untuk pelanggan yang komersial kecil, apalagi rumah tangga, ini yang paling dijamin,” ujar Sugianto.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More