Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Aliansi Ekonom Indonesia Nilai Arah Ekonomi Nasional Regresif

Kab. Sleman
3 min read
Aliansi Ekonom Indonesia Nilai Arah Ekonomi Nasional Regresif
Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) merilis laporan asesmen satu tahun terhadap 7 Desakan Darurat Ekonomi (7DDE) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (25/9/2026). (IDNTimes/Herlambang Jati)
  • AEI menilai kebijakan ekonomi nasional selama setahun terakhir regresif, ditandai kemunduran disiplin fiskal, tata kelola institusi, dan distorsi pasar yang membuat perekonomian semakin oleng.
  • Laporan AEI menyoroti meningkatnya kendali negara atas anggaran, kredit, dan perizinan melalui sejumlah entitas serta program, yang dinilai berpotensi menggeser sektor swasta dan UMKM.
  • Asesmen 7DDE mengevaluasi tujuh tuntutan ekonomi berdasarkan adopsi kebijakan, arah perubahan, serta dampak fiskal dan kesejahteraan, menggunakan data pemerintah, riset, dan literatur akademik.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Yogyakarta, IDN Times – Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) menilai arah kebijakan ekonomi nasional dalam setahun terakhir mengalami kemunduran dan cenderung regresif. Pemerintah dinilai semakin memperluas kendali terhadap alokasi anggaran, kredit, dan perizinan yang berpotensi mendistorsi pasar serta menggeser peran sektor swasta dan UMKM.

Temuan tersebut tertuang dalam Laporan Asesmen “1 Tahun 7 Desakan Darurat Ekonomi” (7DDE) yang dipaparkan AEI bersama Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (FEB UGM) di Gedung Learning Center FEB UGM, Yogyakarta, Jumat (25/9/2026).

Dalam laporan tersebut, AEI mengidentifikasi kecenderungan kebijakan yang disebut sebagai “Omni-Dominasi” atau “Ekonomi Komando”. Istilah ini merujuk pada semakin besarnya kendali negara terhadap titik-titik penentu alokasi sumber daya ekonomi.

  1. 1. Perekonomian dinilai semakin oleng

    Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) merilis laporan asesmen satu tahun terhadap 7 Desakan Darurat Ekonomi (7DDE) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis
    Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) merilis laporan asesmen satu tahun terhadap 7 Desakan Darurat Ekonomi (7DDE) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (25/9/2026). (IDNTimes/Herlambang Jati)

    Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Universitas Indonesia (LPEM UI), Jahen Fachrul Rezki, mengatakan asesmen dilakukan untuk melihat sejauh mana kebijakan pemerintah selama setahun terakhir mendekati prinsip teknokrasi berbasis bukti sebagaimana didesakkan AEI.

    “Setahun lalu, kami dari AEI merilis 7DDE yang merupakan respons keilmuan atas kegelisahan kami dalam melihat kemunduran disiplin fiskal, pelemahan tata kelola institusi, dan distorsi pasar yang terjadi,” ujar Jahen, Jumat (25/9/2026).

    Ia menyebut hasil evaluasi menunjukkan belum banyak perubahan berarti. Sebaliknya, AEI menemukan kecenderungan kemunduran yang dinilai memengaruhi kondisi perekonomian nasional. “Justru yang ada adalah kemunduran yang membuat perekonomian menjadi semakin oleng,” katanya.

  2. 2. Negara Dinilai Kian Menguasai Alokasi Anggaran, Kredit, dan Perizinan

    Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) merilis laporan asesmen satu tahun terhadap 7 Desakan Darurat Ekonomi (7DDE) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis
    Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) merilis laporan asesmen satu tahun terhadap 7 Desakan Darurat Ekonomi (7DDE) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (25/9/2026). (IDNTimes/Yogie Fadilla)

    Dalam asesmennya, AEI menyoroti semakin besarnya peran negara dalam menentukan alokasi sumber daya ekonomi melalui sejumlah entitas dan program. Di antaranya Danantara, BUMN ekspor Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI), hingga pelaksanaan terpusat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP).

    Menurut AEI, pola tersebut berpotensi menciptakan distorsi alokasi sumber daya karena entitas yang terlibat dinilai tidak menghadapi disiplin anggaran sebagaimana mekanisme pasar pada umumnya. Kondisi ini juga dikhawatirkan menggeser ruang gerak sektor swasta dan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dalam kegiatan ekonomi.

    Kecenderungan tersebut menjadi salah satu sorotan utama laporan 7DDE, yang sebelumnya disampaikan lebih dari 100 ekonom pada 9 September 2025 sebagai respons terhadap persoalan kebijakan ekonomi nasional. Hingga Januari 2026, desakan tersebut telah ditandatangani 436 ekonom dan 262 non-ekonom.

  3. 3. AEI Evaluasi Tujuh Desakan Darurat Ekonomi

    Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) merilis laporan asesmen satu tahun terhadap 7 Desakan Darurat Ekonomi (7DDE) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis
    Aliansi Ekonom Indonesia (AEI) merilis laporan asesmen satu tahun terhadap 7 Desakan Darurat Ekonomi (7DDE) di Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Gadjah Mada (UGM), Jumat (25/9/2026). (IDNTimes/Herlambang Jati)

    Laporan asesmen ini merupakan evaluasi atas tujuh desakan yang disampaikan AEI kepada penyelenggara negara pada 2025. Ketujuh desakan tersebut mencakup koreksi misalokasi anggaran, independensi lembaga negara, penghentian dominasi negara dan distorsi pasar, deregulasi iklim usaha, perlindungan sosial dan pengurangan ketimpangan, penguatan teknokrasi kebijakan, serta meritokrasi dan ruang sipil.

    Peneliti LPEM FEB UI, Rizki Nauli Siregar, mengatakan asesmen disusun sebagai tanggung jawab moral dan amanat keilmuan untuk mengevaluasi kinerja penyelenggara negara secara rasional, objektif, dan independen.

    “Pertanyaan yang ingin kami jawab sederhana: bagaimana arah kebijakan ekonomi nasional bergerak dalam setahun terakhir, di mana saja perbaikan yang perlu dilanjutkan, dan apa saja kebijakan ekonomi justru mengalami regresi sistemik yang menjauhkan bangsa dari cita-cita kesejahteraan dan keadilan sosial yang berkelanjutan,” ujar Rizki.

    Ia berharap hasil asesmen dapat digunakan berbagai kalangan untuk memahami kondisi kebijakan dan perekonomian nasional, termasuk dampaknya terhadap kehidupan masyarakat yang tidak selalu tergambarkan melalui angka-angka makroekonomi.

    AEI menilai setiap desakan berdasarkan tiga kriteria, yakni tingkat adopsi dalam regulasi dan aksi pemerintah, arah kebijakan yang dikategorikan membaik, stagnan, memburuk, atau regresif, serta dampaknya terhadap beban fiskal dan kesejahteraan masyarakat.

    Penyusunan asesmen mengacu pada sejumlah sumber, antara lain data APBN, Nota Keuangan, Badan Pusat Statistik (BPS), laporan Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), kajian lembaga riset, dan literatur akademik. Melalui laporan ini, AEI kembali menagih respons pemerintah terhadap tujuh desakan yang telah disampaikan setahun sebelumnya.

    Evaluasi tersebut diharapkan dapat menjadi bahan diskusi publik mengenai arah kebijakan ekonomi nasional, terutama terkait disiplin fiskal, tata kelola kelembagaan, dan peran negara dalam perekonomian.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More