Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Kumbung Jamur Paling Mewah dari Sisa Kayu Jati Ekspor Ada di Bantul

Kota Yogyakarta
4 min read
Kumbung Jamur Paling Mewah dari Sisa Kayu Jati Ekspor Ada di Bantul
Kumbung jamur BUMKal Mulyo Rahayu Tirtomulyo, Bantul, yang memanfaatkan sisa kayu jati dari produksi mebel PT BMN. (IDN Times/Tunggul Damarjati)
  • PT Berdikari Meubel Nusantara membangun kumbung jamur 48 meter persegi untuk BUMKal Mulyo Rahayu Tirtomulyo, Bantul, memakai sisa kayu jati produksi mebel.

  • Kumbung berukuran 6x8 meter itu menggunakan 10-20 meter kubik kayu jati, diperkirakan tahan 70-80 tahun, dan berkapasitas hingga 21 ton jamur per panen.

  • Proyek ini melibatkan PT BMN, Kemendes PDT, Pemkab Bantul, dan BUMKal untuk mengembangkan ekonomi desa melalui pemanfaatan material sisa serta budidaya jamur.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Bantul, IDN Times - PT Berdikari Meubel Nusantara (PT BMN) mendirikan sebuah kumbung jamur untuk BUMKal Mulyo Rahayu Tirtomulyo, Bantul. Uniknya, bangunan seluas 48 meter persegi itu menggunakan sisa kayu jati dari produksi mebel PT BMN.

Direktur PT Berdikari Meubel Nusantara, Andre Andika Adhiguna, menyebut kumbung berukuran sekitar 6x8 meter itu sebagai salah satu yang paling mewah di Indonesia.

"Ini memang yang berbeda dan spesial, ini memang material bahan bakunya itu dari kayu jati. Jadi memang tadi kami sempat bicara bahwa mungkin ini adalah kumbung jamur yang paling mewah se-Indonesia," kata Andre saat peresmian kumbung di Tirtomulyo, Kretek, Bantul, Kamis (24/9/2026).

  1. 1. Bisa tahan hingga 80 tahun

    Kumbung jamur BUMKal Mulyo Rahayu di Tirtomulyo, Bantul, memanfaatkan sisa kayu jati produksi mebel PT BMN.
    Direktur PT BMN, Andre Andika Adhiguna (kanan), di kumbung jamur BUMKal Mulyo Rahayu Tirtomulyo, Bantul. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

    Menurut Andre, penggunaan sisa kayu tersebut merupakan bagian dari upaya perusahaan memanfaatkan kembali material produksi yang masih layak. PT BMN membutuhkan sekitar 100-200 meter kubik kayu setiap tahun untuk produksi, dengan sekitar 30-40 persen di antaranya menjadi material sisa.

    "Jadi bisa mengolaborasikan kembali baik dalam bentuk CSR atau dalam pembangunan seperti kumbung jamur ini," ujarnya.

    Untuk membangun satu kumbung, PT BMN menggunakan sekitar 10-20 meter kubik kayu jati. Material serupa sebelumnya juga dimanfaatkan untuk membangun kandang domba di Pajangan, Bantul.

    Andre mengatakan kayu jati dipilih karena memiliki daya tahan tinggi. Usianya dapat mencapai sekitar 70-80 tahun.

    "Kalau kayu jati itu kita tahu kualitasnya luar biasa, artinya ketahanannya. Sampai mungkin anak cucunya masih bisa digunakan," klaim Andre.

  2. 2. Kapasitas produksi capai 21 ton sekali panen

    Bangunan kumbung jamur BUMKal Mulyo Rahayu di Tirtomulyo, Bantul, memanfaatkan sisa kayu jati dari produksi mebel.
    Kumbung jamur BUMKal Mulyo Rahayu Tirtomulyo, Bantul, yang memanfaatkan sisa kayu jati dari produksi mebel PT BMN. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

    Kumbung tersebut diperkirakan mampu menghasilkan hingga 21 ton jamur setiap kali panen. Selain membangun fasilitas, PT BMN juga memberikan bantuan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) untuk pengadaan sarana pendukung budidaya jamur.

    Andre mengatakan program tersebut dijalankan bersama Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dengan menyasar desa-desa yang memiliki potensi ekonomi. Ia menyebut dukungan Pemkab Bantul juga menjadi salah satu faktor penting dalam kelancaran kolaborasi tersebut.

    Menurutnya, selama dua tahun bekerja sama dengan desa di Bantul, koordinasi pemerintah daerah dinilai berjalan baik dan terdapat komitmen untuk mengembangkan BUMKal maupun BUMDes.

    "Kami bersinergi dengan Kementerian Desa mencari desa-desa potensial. Kebetulan alhamdulillah, Bantul kali ini dibantu," tuturnya.

    Andre berharap fasilitas di Tirtomulyo dapat menjadi proyek percontohan dalam pemanfaatan sisa material perusahaan untuk mendukung ekonomi desa.

    "Ini yang kami harapkan bisa terekspos ke skala nasional, bisa menjadi percontohan. Pilot project," harap Andre.

  3. 3. Kolaborasi perusahaan dan BUMKal

    Kumbung jamur BUMKal Mulyo Rahayu di Tirtomulyo, Bantul, memanfaatkan sisa kayu jati dari produksi mebel PT BMN.
    Kumbung jamur BUMKal Mulyo Rahayu Tirtomulyo, Bantul, yang memanfaatkan sisa kayu jati dari produksi mebel PT BMN. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

    Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Dudi Nugroho, mengatakan pembangunan kumbung merupakan bagian dari upaya pemerintah mempertemukan dunia usaha dengan BUMDesa atau BUMKal.

    Menurut Dudi, kolaborasi tersebut ditujukan untuk membuka peluang usaha sekaligus mengembangkan potensi ekonomi desa. PT BMN sendiri telah menjalankan pola kerja sama serupa selama dua tahun.

    "Kami mendapatkan tugas mempertemukan perusahaan dengan BUMDesa untuk membuka peluang kolaborasi dan pengembangan ekonomi desa," ujar Dudi.

    Sebelumnya, PT BMN berkolaborasi dengan BUMDes Guwosari. Tahun ini, kerja sama dilanjutkan bersama BUMKal Mulyo Rahayu Tirtomulyo.

    Pembangunan kumbung tersebut merupakan tindak lanjut Nota Kesepahaman Bersama antara Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal dengan PT BMN tentang pengembangan usaha pada BUM Desa di sektor peternakan dan usaha lainnya.

  4. 4. Pemerintah dorong ekonomi lokal

    Lumbung jamur BUMKal Mulyo Rahayu di Tirtomulyo, Bantul, memanfaatkan sisa kayu jati dari produksi mebel PT BMN.
    Kumbung jamur BUMKal Mulyo Rahayu Tirtomulyo, Bantul, yang memanfaatkan sisa kayu jati dari produksi mebel PT BMN. (IDN Times/Tunggul Damarjati)

    Staf Ahli Bupati Bantul Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan, Bobot Ariffi Aidin, yang mewakili Bupati Bantul, menyebut program tersebut menunjukkan pentingnya kerja sama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat dalam mengembangkan ekonomi lokal.

    "Ini adalah salah satu langkah yang positif dan menunjukkan bahwa pemberdayaan ekonomi masyarakat membutuhkan kolaborasi dan gotong royong dari semua pihak," kata Bobot.

    Menurut Bobot, pemerintah berperan melalui kebijakan dan fasilitasi, sedangkan dunia usaha memberikan dukungan melalui investasi dan kepedulian sosial. BUMKal bersama masyarakat kemudian menjadi penggerak kegiatan ekonomi di lapangan.

    Pengembangan usaha berbasis potensi lokal tersebut juga sejalan dengan Asta Cita ke-6 Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pembangunan dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi serta pemberantasan kemiskinan.

    Pemanfaatan sisa kayu jati untuk pembangunan kumbung juga sejalan dengan TPB/SDGs Nomor 12 tentang Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab.

    Program tersebut menjadi bagian dari komitmen PT BMN sebagai bagian dari PT Berdikari (Persero) dalam menciptakan manfaat ekonomi dan sosial sekaligus mendorong pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More