Gerakan Sego Gudangan: Bebas Bersuara, Tetap Jaga Jogja

Gerakan Sego Gudangan dideklarasikan pelaku usaha, seniman, mahasiswa, pedagang, dan komunitas untuk menjaga keamanan, ketertiban, serta kedamaian kawasan Tugu-Malioboro-Titik 0 Yogyakarta.
Gerakan ini menegaskan kebebasan berpendapat dan demonstrasi tetap dihormati, selama berlangsung damai, bertanggung jawab, serta tidak mengganggu keamanan dan ketertiban ruang publik.
Lebih dari 25 elemen masyarakat mengusung semangat gotong royong untuk merawat budaya, ekonomi rakyat, kebersihan, pelayanan jujur, dan kenyamanan Malioboro sebagai wajah Yogyakarta.
Yogyakarta, IDN Times – Sejumlah pelaku usaha, pedagang, seniman, budayawan, mahasiswa, hingga komunitas di kawasan Tugu-Malioboro-Titik 0 Yogyakarta mendeklarasikan gerakan kebudayaan bertajuk Sego Gudangan. Gerakan ini mengajak masyarakat menjaga keamanan, ketertiban, dan kedamaian kawasan yang menjadi salah satu ikon wisata Yogyakarta tersebut.
Deklarasi yang dikemas dalam aksi damai dan makan Sego Gudangan bersama ini menjadi ajakan kepada seluruh elemen masyarakat untuk merawat ruang publik sekaligus menjaga keberlangsungan aktivitas ekonomi dan kebudayaan di kawasan Malioboro.
Pegiat Sego Gudangan, Rommy Heryanto, mengatakan gerakan tersebut merupakan inisiatif bersama berbagai elemen masyarakat, khususnya para pelaku ekonomi, seni, budaya, dan pariwisata di sepanjang kawasan Tugu, Malioboro, hingga Titik 0 Kilometer Yogyakarta.
"Jogja itu milik kita, Jogja itu potensi kita, kekuatan kita, mari kita jaga. Kami juga ingin menunjukkan kepada dunia luar, baik nasional maupun internasional, bahwa Jogja masih nyaman dan aman. Siapa lagi yang akan menjaga kalau bukan kita," ujar Rommy, di Kawasan Malioboro, Minggu (8/11/2026).
Rommy yang juga Wakil Ketua Umum Bidang Revitalisasi Vokasi, SDM dan Ketenagakerjaan Kadin DIY ini menegaskan, gerakan tersebut bukan dimaksudkan untuk membatasi kebebasan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi. Menurutnya, demonstrasi dan penyampaian kritik merupakan bagian dari kehidupan demokrasi yang perlu dihormati. Namun, ia berharap setiap aksi dilakukan secara damai dengan tetap memperhatikan ketertiban dan keamanan bersama.
"Silakan berdemo, silakan sampaikan pendapat. Tetapi harapan kami, mari kita jaga ketertiban dan keamanan, khususnya di kawasan Malioboro," katanya.
1. Libatkan lebih dari 25 elemen masyarakat

Deklarasi aksi damai gerakan Sego Gudangan, di kawasan Malioboro, Minggu (8/11/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Rommy menjelaskan, gerakan Sego Gudangan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Kadin DIY, pelaku usaha, pemilik hotel, pedagang, seniman, budayawan, hingga komunitas masyarakat.
Sedikitnya terdapat lebih dari 25 elemen masyarakat yang terlibat dalam gerakan tersebut. Melalui deklarasi ini, mereka ingin membangun kesadaran bahwa kawasan Malioboro bukan hanya destinasi wisata, melainkan ruang hidup bersama yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan ekonomi.
Rommy berharap Sego Gudangan tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Gerakan tersebut akan terus dikembangkan melalui berbagai program kebudayaan dan kegiatan kolaboratif di kawasan lain di Yogyakarta. "Kami berharap gerakan ini tidak berhenti di sini. Ini akan kita hidupkan dan tumbuhkan dalam bentuk program-program yang lain," ujarnya.
2. Filosofi Sego Gudangan sebagai simbol keberagaman

Deklarasi aksi damai gerakan Sego Gudangan, di kawasan Malioboro, Minggu (8/11/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Pemilihan Sego Gudangan sebagai nama gerakan juga memiliki makna tersendiri. Rommy menyebut sajian tradisional yang terdiri dari nasi, sayuran, dan beragam lauk tersebut menjadi simbol persatuan di tengah perbedaan.
Berbagai elemen masyarakat yang memiliki latar belakang dan kepentingan berbeda diharapkan bisa duduk bersama, membangun komunikasi, serta saling mendukung untuk menciptakan suasana yang nyaman di Yogyakarta. "Sego Gudangan itu persatuan dari banyak perbedaan. Ada nasi, ada lauk, ada sayur. Gabungan sesuatu yang berbeda ini menjadi sebuah harmoni," jelasnya.
Filosofi tersebut sekaligus menjadi gambaran komunitas Sego Gudangan yang mempertemukan pelaku seni budaya, pariwisata, ekonomi, pemilik hotel, hingga pedagang dalam satu gerakan bersama. Adapun Sego Gudangan merupakan akronim dari Semangat Gotong Royong, Guyub Damai Anggone Ngupakara Sandang Pangan.
3. Lima seruan untuk menjaga Jogja

Deklarasi aksi damai gerakan Sego Gudangan, di kawasan Malioboro, Minggu (8/11/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Dalam deklarasinya, komunitas Sego Gudangan menyampaikan lima seruan kepada masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan kawasan Tugu-Malioboro-Titik 0.
Pertama, menjaga ruang bersama dan kedamaian dengan menjadikan kawasan tersebut sebagai ruang publik yang aman, terbuka, ramah, inklusif, dan nyaman bagi warga maupun wisatawan. Mereka juga mendukung kebebasan berekspresi dan gerakan sosial selama dilakukan secara damai dan bertanggung jawab.
Kedua, mengedepankan sikap guyub, saling menghormati, serta menyelesaikan persoalan melalui dialog. Perbedaan kepentingan dan latar belakang diharapkan tidak menjadi pemicu konflik.
Ketiga, merawat budaya dan kehidupan ekonomi masyarakat. Kawasan Malioboro diharapkan tetap menjadi ruang budaya sekaligus ruang ekonomi rakyat yang mendukung pedagang, UMKM, pekerja, seniman, dan pelaku pariwisata.
Keempat, membangun kawasan yang ramah, tertib, dan beradab. Masyarakat diajak menjaga kebersihan, keamanan, serta memberikan pelayanan yang jujur dan profesional kepada pengunjung. Termasuk menghindari praktik kecurangan, penipuan, maupun tindakan yang merugikan wisatawan. Kelima, menjaga kawasan Tugu-Malioboro-Titik 0 sebagai wajah Yogyakarta di mata nasional maupun internasional.
Dalam deklarasi tersebut tampak warga yang biasa bekerja di kawasan Malioboro, hingga wisatawan membaur menyantap sego gudangan bersama. Beberapa perwakilan masyarakat dan wisatawan juga turut menyampaikan aspirasi mereka.























