Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

BPDP Genjot SDM Sawit di 26 Provinsi, Ada 5 Ribu Beasiswa

Kota Yogyakarta
4 min read
BPDP Genjot SDM Sawit di 26 Provinsi, Ada 5 Ribu Beasiswa
Konferensi pers Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit 2026 yang digelar di LPP Agro Nusantara, Yogyakarta, Kamis (24/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • BPDP dan Ditjenbun menjalankan Program Pengembangan SDM Sawit 2026 di 26 provinsi untuk pekebun, keluarga, pekerja, penyuluh, dan pemangku kepentingan.
  • Program menyediakan 5.000 beasiswa melalui 42 perguruan tinggi, meningkat dari 4.000 penerima sebelumnya, guna mendorong kompetensi dan produktivitas sawit nasional.
  • LPP Agro Nusantara telah menggelar 211 kelas bagi 6.439 peserta dalam tiga tahun, mencakup budidaya, ISPO, pemetaan lahan, pupuk, panen, dan pasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Yogyakarta, IDN Times – Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) bersama Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) Kementerian Pertanian terus memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) perkebunan kelapa sawit melalui Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit 2026. Program ini menyasar pekebun sawit swadaya, keluarga pekebun, hingga tenaga kerja dan pemangku kepentingan lainnya.

Sasaran program peningkatan kapasitas SDM ini berada di 26 provinsi penghasil sawit di Indonesia. Langkah tersebut dilakukan untuk meningkatkan produktivitas sekaligus menjawab tantangan industri sawit yang semakin kompleks.

  1. 1. Produktivitas Pekebun Sawit Masih Jadi Tantangan

    Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan, Iim Mucharam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan, Iim Mucharam. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Direktur Tanaman Kelapa Sawit dan Aneka Palma Ditjen Perkebunan, Iim Mucharam, mengatakan program pengembangan SDM merupakan implementasi arahan Presiden dalam Asta Cita, terutama terkait ketahanan pangan dan energi sebagai prioritas pembangunan nasional. Menurutnya, kelapa sawit memiliki peran strategis karena tidak hanya menjadi sumber devisa negara, tetapi juga tulang punggung pengembangan energi terbarukan nasional.

    "Komoditas sawit tidak lagi hanya dipandang sebagai komoditas ekspor, tetapi juga sebagai instrumen strategis untuk memperkuat kemandirian energi nasional," ujarnya saat konferensi pers Program Pengembangan SDM Perkebunan Kelapa Sawit 2026 yang digelar di LPP Agro Nusantara, Yogyakarta, Kamis (24/9/2026).

    Iim menyebut, Indonesia telah meluncurkan program B50 di Cikampek pada 9 Juli 2026 sebagai salah satu tonggak menuju swasembada energi. Pada 2025, produksi minyak sawit Indonesia mencapai sekitar 51 juta ton dengan luas areal perkebunan 16,83 juta hektare. Sebanyak 42 persen luas perkebunan tersebut dikelola oleh perkebunan rakyat.

    Meski demikian, produktivitas sawit nasional masih menjadi tantangan. Rata-rata produktivitas tercatat sekitar 3,6 ton minyak sawit per hektare, masih di bawah rata-rata negara produsen lain yang mencapai 4–5 ton per hektare.

    "Kelapa sawit tidak hanya sebagai penggerak ekonomi nasional, tetapi juga sumber kehidupan bagi jutaan keluarga petani. Oleh karena itu, sektor kelapa sawit ini menjadi sektor yang sangat strategis ke depannya," kata Iim.

    Untuk meningkatkan produktivitas, BPDP mendukung berbagai kegiatan pengembangan SDM, mulai dari pendidikan, pelatihan, penyuluhan, pendampingan, hingga fasilitasi bagi pekebun. Program ini juga menyasar penyuluh, petugas pendamping, karyawan, pekerja sawit, pengurus kelembagaan pekebun, aparatur sipil negara (ASN), dan masyarakat yang berkaitan dengan industri sawit.

    Selain pelatihan, program beasiswa SDM sawit pada 2026 bekerja sama dengan 42 perguruan tinggi dengan jumlah penerima mencapai 5.000 mahasiswa, meningkat dari 4.000 penerima pada tahun sebelumnya. Iim berharap peningkatan kapasitas SDM dapat melahirkan tenaga kerja yang kompeten, inovatif, dan adaptif terhadap perubahan industri.

  2. 2. BPDP Pastikan Penyaluran Dana Berdampak bagi Pekebun

    Kepala Divisi Penyaluran Dana SDM Perkebunan BPDP, Sudi Bawa Swita. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Kepala Divisi Penyaluran Dana SDM Perkebunan BPDP, Sudi Bawa Swita. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Kepala Divisi Penyaluran Dana SDM Perkebunan BPDP, Sudi Bawa Swita, mengatakan pengembangan SDM merupakan investasi jangka panjang untuk memperkuat ekosistem sawit nasional. BPDP berupaya memastikan dana yang dikelola dapat memberikan manfaat nyata bagi penguatan industri sawit, termasuk meningkatkan kapasitas kelembagaan dan taraf hidup petani serta praktisi sawit.

    Menurut Sudi, pengembangan SDM harus dilakukan secara selaras, baik di sektor hulu maupun hilir. Petani yang memiliki pengetahuan tentang praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practices (GAP), serta memahami tata kelola hilir, diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan bersaing dalam rantai pasok global.

    "Tantangan industri sawit ke depan semakin kompleks. Mulai dari isu-isu keberlanjutan, regulasi pasar internasional, hingga tuntutan digitalisasi. Untuk menjawab tantangan tersebut, kunci utama terletak pada kolaborasi," ujarnya.

    Ia menambahkan, BPDP terus memperkuat sinergi dengan Ditjen Perkebunan dan mitra pelaksana, termasuk LPP Agro Nusantara, melalui program pelatihan, beasiswa, serta berbagai kegiatan peningkatan keterampilan tenaga kerja. BPDP juga berkomitmen memastikan penyaluran dana untuk pengembangan SDM berjalan tepat sasaran, akuntabel, transparan, dan berkelanjutan.

    Melalui program ini, BPDP berharap semakin banyak SDM unggul, pekebun muda inovatif, serta tenaga ahli yang mampu mendukung industri sawit Indonesia.

  3. 3. LPP Agro Nusantara Gelar 211 Kelas Pelatihan dalam Tiga Tahun

    Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Direktur LPP Agro Nusantara, Pranoto Hadi, mengatakan pengembangan SDM menjadi salah satu kunci penting dalam mendorong kemajuan industri kelapa sawit. Menurutnya, keberhasilan industri sawit tidak hanya bergantung pada teknologi maupun sarana dan prasarana, tetapi juga pengetahuan, pemahaman, keterampilan, serta kemampuan orang-orang yang menjalankan aktivitas perkebunan.

    "Pengembangan SDM tidak kemudian secara dimensi adalah pembelajaran yang relatif jangka pendek. Artinya, itu harus dilakukan secara berkelanjutan sehingga aspek-aspek fundamental yang berdampak dalam jangka panjang perlu dipersiapkan dari sekarang," kata Pranoto.

    Dalam tiga tahun terakhir hingga 2026, LPP Agro Nusantara dipercaya melaksanakan sekitar 211 kelas pelatihan dengan total 6.439 peserta. Program tersebut menjangkau hampir 24 kabupaten di tujuh provinsi, termasuk Sumatra Utara, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan.

    Pranoto menegaskan, capaian pelatihan tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi juga penerapan pengetahuan yang diperoleh dalam kegiatan perkebunan maupun pengelolaan usaha. Pada 2026, terdapat tujuh jenis pelatihan yang diselenggarakan, yakni pelatihan budidaya kelapa sawit, pelatihan Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), pelatihan sarana dan prasarana, pelatihan pemetaan lahan kelapa sawit, pelatihan pembuatan dan aplikasi pupuk organic, pelatihan panen dan pascapanen, dan pelatihan informasi pasar dan promosi.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More