Guru di Jogja Dipacu Melek AI Demi Tekan Beban Administrasi

- Pura Nusantara, Solana, dan Kadin DIY meluncurkan Yogyakarta Digital Sovereignty Initiative (YDSI) untuk memperkuat kesiapan SDM menghadapi era AI dengan tetap menjaga nilai budaya lokal.
- Sebagai langkah awal, digelar pelatihan AI Teaching Power DIY bagi sekitar 200 guru guna memanfaatkan teknologi AI untuk efisiensi administrasi dan peningkatan fokus pada proses belajar mengajar.
- Para pemangku kepentingan menegaskan bahwa transformasi digital di Yogyakarta harus berlandaskan budaya, menjadikan manusia, teknologi, dan nilai kejogjaan sebagai pilar utama pembangunan daerah.
Yogyakarta, IDN Times - Pura Nusantara bersama Solana dan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) meluncurkan Yogyakarta Digital Sovereignty Initiative (YDSI). YDSI adalah sebuah kerangka kolaborasi lintas sektor yang ditujukan untuk memperkuat kesiapan sumber daya manusia (SDM) menghadapi era kecerdasan buatan (AI) dan transformasi digital tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya lokal.
Peluncuran YDSI dilakukan di Yogyakarta, Selasa (9/6/2026), bertepatan dengan penyelenggaraan AI Teaching Power DIY yang diikuti sekitar 200 guru SMA, SMK, dan pesantren se-DIY. Kegiatan ini menjadi langkah awal membangun ekosistem digital yang melibatkan dunia pendidikan, teknologi, pemerintah, dunia usaha, dan komunitas.
Tak lagi pusing dengan beban administrasi, fokus didik siswa
CEO Pura Nusantara, Brian Tobing, menjelaskan bahwa YDSI dirancang sebagai wadah kolaborasi jangka panjang untuk memastikan masyarakat mampu memanfaatkan perkembangan teknologi secara produktif, aman, dan bertanggung jawab.
"Edukasi menjadi tulang punggung komunitas dan negara kita. Kami ingin membangun platform kolaborasi yang menghubungkan berbagai pihak dari luar negeri maupun dari DIY sendiri," kata Brian.
Menurutnya, tantangan utama saat ini bukan lagi akses terhadap teknologi, melainkan kesiapan manusia dalam memanfaatkannya. Karena itu, YDSI diharapkan menjadi jembatan yang menghubungkan potensi Yogyakarta dengan berbagai peluang dan perkembangan teknologi di tingkat global.
"Jogja memiliki talenta dan institusi yang kuat, dan kami ingin menghubungkannya dengan dunia. Kami membuat ruang kolaborasi yang sesuai dengan karakter masyarakat kita," ujarnya.
Sebagai implementasi awal semangat YDSI, digelar AI Teaching Power DIY yang menghadirkan pelatihan pemanfaatan AI bagi para tenaga pendidik. Program hasil kolaborasi Pura Nusantara, Solana, Microsoft Elevate, Kadin DIY, dan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga DIY itu memperkenalkan berbagai teknologi AI yang dapat membantu proses pembelajaran sekaligus mengurangi beban administratif guru.
Brian mengatakan, para peserta juga mendapatkan akses pembelajaran serta fasilitas pendukung dari Microsoft Elevate untuk memperkuat pemahaman mereka mengenai pemanfaatan AI di lingkungan sekolah.
Ia menegaskan bahwa kehadiran AI bukan untuk menggantikan peran guru maupun mengubah kurikulum yang selama ini telah berjalan baik. Teknologi tersebut justru diharapkan menjadi alat bantu yang dapat mempercepat pengelolaan data dan pekerjaan rutin sehingga tenaga pendidik dapat lebih fokus pada proses belajar mengajar.
"AI ini hadir sebagai solusi budaya kerja. Kita ingin guru-guru tidak lagi terjebak dan dipusingkan oleh urusan administratif yang menumpuk. Biarkan sistem yang mempercepat itu, sehingga guru bisa kembali fokus pada tugas intinya, yaitu mendidik dengan hati untuk murid dan generasi masa depan," tegasnya.
"Kami ingin para guru terbiasa menggunakan AI dari ruang kelas. Agar para guru bisa terus mengikuti perkembangan zaman dan lebih banyak memikirkan cara memaksimalkan potensi serta mimpi anak-anak di kelas daripada disibukkan pekerjaan repetitif yang menyita waktu," kata Brian.
Antusiasme para guru kuasai AI

Antusiasme terhadap pemanfaatan AI juga datang dari kalangan peserta. Guru Informatika SMA Negeri 1 Ngaglik, Hari Widayat, menilai berbagai fitur berbasis AI yang diperkenalkan dalam pelatihan dapat membantu penerapan Kurikulum Merdeka, khususnya dalam proses penilaian siswa yang semakin kompleks.
"Sekarang guru dituntut untuk menerapkan pendidikan berdiferensiasi. Di mana penilaian siswa tidak lagi hanya dilihat dari satu atau dua aspek saja, melainkan seluruh aspek. Dengan dukungan AI, proses mengoreksi dan mengolah nilai menjadi jauh lebih mudah dan praktis," kata Hari.
Meski demikian, tantangan terkait kesiapan perangkat teknologi di sekolah masih menjadi perhatian. Guru Biologi SMA Negeri 8 Yogyakarta, Ari Nuraini, menyebut sejumlah platform AI membutuhkan spesifikasi perangkat yang memadai agar dapat digunakan secara optimal.
"Platform tertentu fiturnya memang sangat kaya, tapi terkadang terasa agak berat dijalankan. Itu sangat tergantung pada spesifikasi perangkat yang dimiliki oleh guru maupun sekolah," ungkap Ari.
Ia berharap pemanfaatan AI di sekolah dapat mendorong kreativitas siswa tanpa membuat mereka bergantung pada teknologi.
"Harapannya anak-anak bisa lebih kreatif dan tidak ketergantungan. AI harus diposisikan sebagai fasilitator atau alat bantu saja untuk menggali potensi diri mereka, bukan penentu segalanya," tuturnya.
Teknologi tumbuh bersama dengan budaya
Sementara itu, perwakilan Solana melalui Superteam Indonesia, Mario Nurcahyanto, menilai Yogyakarta memiliki posisi strategis sebagai salah satu pusat pengembangan talenta digital nasional. Menurutnya, perkembangan teknologi dapat berjalan beriringan dengan pelestarian budaya.
"Ini menjadi sinyal baik dari Jogja bagi kami untuk mendukung dan mendorong keberadaan budaya serta eksistensinya dengan bantuan alat-alat berbasis teknologi," ucap Mario.
Pandangan serupa disampaikan Wakil Ketua Umum Kadin DIY, Rommy Heryanto. Ia menegaskan bahwa penguatan SDM harus menjadi fondasi utama dalam proses transformasi digital di Yogyakarta.
"Transformasi digital itu penting, begitu juga green economy. Namun semuanya harus tetap dipayungi oleh kebudayaan," katanya.
Menurut Rommy, keterbatasan sumber daya alam membuat Yogyakarta harus mengandalkan kualitas manusianya sebagai modal pembangunan. Ia meyakini budaya akan tetap menjadi nilai pembeda Yogyakarta di tengah kompetisi global yang semakin ketat.
"Ke depan, kemampuan dan keterampilan bisa saja sama, tetapi nilai yang dimiliki akan berbeda karena ada karakter dan nilai kejogjaan yang melekat. Tidak ada pertentangan antara budaya dan teknologi, justru keduanya saling menguatkan," tegas Rommy.
Melalui YDSI, para penggagas berharap kolaborasi yang terbangun tidak hanya memperkuat sektor pendidikan, tetapi juga menjangkau bidang ekonomi kreatif, UMKM, hingga pengembangan talenta digital. Inisiatif ini diharapkan menjadi fondasi bagi terwujudnya kedaulatan digital Yogyakarta yang menempatkan manusia, budaya, dan teknologi sebagai tiga pilar utama pembangunan.














