Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Hanung Adaptasi Film Iran Children of Heaven, Angkat Pendidikan Karakter
Nonton bareng Film Children of Heaven bersama PP Muhammadiyah di XXI Empire, Rabu (20/5/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Hanung Bramantyo mengadaptasi film Iran Children of Heaven ke versi Indonesia dengan fokus pada pesan pendidikan karakter, ketangguhan anak, dan perjuangan keluarga di tengah keterbatasan ekonomi.
  • Film ini diharapkan menjadi sarana pembelajaran bagi anak-anak agar mandiri, tidak mudah mengeluh, serta mampu membantu orang tua menghadapi situasi ekonomi yang sulit.
  • PP Muhammadiyah menilai film tersebut sarat nilai pendidikan karakter bagi anak dan orang tua, menggambarkan pentingnya keharmonisan keluarga serta peran bersama dalam membentuk generasi tangguh.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)

Yogyakarta, IDN Times - Sutradara Hanung Bramantyo mengadaptasi film legendaris asal Iran, Children of Heaven karya Majid Majidi, ke dalam versi Indonesia. Film produksi MD Pictures tersebut tidak hanya menghadirkan kisah menyentuh tentang kakak-adik, tetapi juga membawa pesan kuat tentang pendidikan karakter, ketangguhan anak, dan perjuangan keluarga di tengah keterbatasan ekonomi.

Hanung mengatakan, film ini dibuat dengan alasan yang sangat personal. Ia ingin menghadirkan karya yang bisa ditonton oleh anak-anaknya, sesuatu yang jarang terjadi pada film-film garapannya sebelumnya.

“Saya berharap untuk kali ini anak-anak saya juga ikut menonton, ikut menikmati, dan teman-teman anak saya juga ikut menikmati. Syukur-syukur bisa ikut bangga,” ujar Hanung, seusai acara nonton bareng bersama PP Muhammadiyah di XXI Empire, Rabu (20/5/2026).

1. Pembelajaran dari dua tokoh utama

Sutradara Hanung Bramantyo. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Menurut Hanung, kisah Ali dan Zahra dalam film tersebut mengajarkan bagaimana anak-anak menghadapi kesulitan tanpa terus-menerus mengeluh atau membebani orang tua. Karakter kedua tokoh itu dinilai memiliki ketahanan diri yang kuat demi menjaga perasaan keluarganya.

“Ali dan Zahra itu punya semacam self defensive, pertahanan diri, yang mana pertahanan diri itu ditujukan agar supaya tidak membebani pikiran orang tuanya,” katanya.

Hanung mengaku sangat tersentuh saat pertama kali menonton Children of Heaven pada 1998 ketika masih kuliah. Ia merasa film itu menjadi tamparan bagi dirinya yang saat itu mudah mengeluh menghadapi persoalan hidup.

“Sedikit-sedikit saya ngeluh, sedikit-sedikit saya drama. Kalau sekarang sedikit-sedikit kita curhat di media sosial, ada masalah dikit langsung menyalahkan keadaan,” ungkapnya.

Ia menilai karakter Ali justru menunjukkan sikap berbeda. Meski hidup dalam kemiskinan dan menghadapi masalah besar setelah kehilangan sepatu adiknya, Ali tidak menyalahkan siapa pun, termasuk orang tuanya.

“Tidak ada kalimat kenapa sih kita harus miskin. Itu tidak keluar dari mulut Ali,” lanjut Hanung.

2. Diharap anak zaman sekarang bisa belajar melalui Children of Heaven

Kerja sama MD Pictures dan PP Muhammadiyah. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Melalui film tersebut, Hanung berharap anak-anak masa kini bisa belajar membantu orang tua di tengah situasi ekonomi yang sulit. Ia menyinggung kondisi harga kebutuhan pokok yang terus naik dan pentingnya anak-anak belajar mandiri serta mencari jalan keluar atas persoalan yang dihadapi. “Setidaknya jangan meminta satu hal yang orang tua kita berat. Mari kita berusaha untuk memecahkan persoalan kita sendiri,” ujarnya.

Dalam proses produksinya, Hanung juga menggandeng Muhammadiyah sebagai mitra pendukung film. Ia menilai organisasi tersebut memiliki tradisi pendidikan karakter yang kuat dan berpengaruh dalam pembentukan dirinya. “Saya adalah lulusan Muhammadiyah. Guru-guru saya mengajarkan bagaimana supaya kita tidak cepat mengeluh, tapi mencari jalan keluar,” katanya.

Hanung menjelaskan latar sekolah Muhammadiyah dalam film dipilih karena sesuai dengan setting waktu tahun 1988, ketika Muhammadiyah menjadi salah satu institusi pendidikan yang berani memperbolehkan siswi mengenakan jilbab di tengah kebijakan Orde Baru saat itu.

3. Sarat pesan pendidikan karakter

Ketua PP Muhammadiyah Prof. Irwan Akib. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Prof. Irwan Akib menilai film tersebut sarat pesan pendidikan karakter, bukan hanya bagi anak-anak tetapi juga orang tua. “Ini pendidikan karakter yang cukup bagus bagi kita semua. Menurut saya bukan hanya untuk anak-anak, tapi juga untuk orang tua bagaimana mendidik anak menjadi kuat dan kompak,” ujar Irwan.

Ia menyoroti hubungan Ali dan adiknya yang harmonis sebagai hasil dari pola pendidikan keluarga yang baik. Menurutnya, perjuangan Ali dalam menggapai harapan menjadi pelajaran penting bagi anak-anak masa kini. “Film ini betul-betul menggambarkan bagaimana pendidikan karakter yang kuat di dalam sebuah keluarga,” katanya.

Irwan berharap para orang tua, guru, hingga anak-anak dapat menonton film tersebut bersama agar masing-masing memahami peran dan tanggung jawab dalam keluarga. “Kalau perlu satu keluarga melihat secara bersama-sama supaya saling memahami, sebagai anak posisinya seperti apa, sebagai ibu seperti apa, sebagai bapak posisinya seperti apa,” tandasnya.

Hal senada diungkapkan Perwakilan MD Pictures, Firauzi Cece yang mengharapkan film ini bisa menjadi media pembelajaran. “Agar bisa memberi informasi pembangunan karakter anak-anak, mendidik anak supaya lebih baik lagi,” ucapnya.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Editorial Team