Delegasi Welcome Clubs International (WCI) Biennial Conference dari belasan klub perempuan internasional mengunjungi Kampung Batik Giriloyo, Imogiri, Bantul. (Dok. Istimewa)
Selain praktik membatik, kegiatan ini juga menghadirkan diskusi panel dengan dua narasumber yang memiliki perhatian besar terhadap pelestarian batik, pusaka budaya, dan pemberdayaan perempuan. Pembicara pertama, Laretna Adhisakti, arsitek dan pengajar di Universitas Gadjah Mada dan Ketua 1 PPBI Sekar Jagad, memaparkan sejarah, filosofi, serta pengembangan batik di Yogyakarta. Sebagai pegiat pelestarian pusaka, Laretna menekankan pentingnya melihat batik sebagai bagian dari ekosistem warisan budaya yang mencakup pengetahuan, nilai, keterampilan, dan identitas komunitas. Ia juga menyoroti perjalanan perempuan pembatik di Imogiri yang terdampak gempa bumi 2006, namun kemudian mampu bangkit, membangun kemandirian, dan memperkuat kehidupan komunitas melalui batik.
Pembicara kedua, Afif Syakur, praktisi batik dan Ketua 2 PPBI Sekar Jagad, berbagi mengenai peran batik dalam pendidikan budaya serta pemberdayaan masyarakat. Lahir dari keluarga pembatik ternama di Pekalongan, Afif merupakan generasi keempat yang meneruskan tradisi batik melalui inovasi desain, edukasi, dan ketelitian dalam setiap proses penciptaan karya. Melalui kiprahnya di PPBI Sekar Jagad Yogyakarta, ia turut mendorong berbagai program pengembangan kapasitas perempuan agar semakin mandiri melalui keterampilan, kreativitas, dan penguatan ekonomi berbasis budaya.
Ketua Program WCI Biennial Conference di Yogyakarta, Danie Prakosa, menyampaikan apresiasinya atas kehadiran para delegasi internasional di Giriloyo. “Kami sangat menghargai kehadiran para delegasi dari mancanegara yang telah meluangkan waktu untuk datang ke Giriloyo dan belajar langsung dari para perajin batik. Kehadiran ini menjadi bentuk penghormatan yang bermakna bagi masyarakat lokal, sekaligus membuka ruang dialog budaya antara komunitas internasional dan para pelaku budaya di Yogyakarta,” ujar Danie.