Soal jual ternak untuk beli air bersih ini, Sutopo termasuk di antaranya. Ia mengaku sudah dua kali menjual ayam kampung miliknya selama musim kemarau tahun ini.
Menurutnya, seekor ayam dewasa dihargai sekitar Rp40 ribu. Ditambah uang hasil ia bekerja, maka baru cukup untuk membeli satu tangki air seharga Rp120 ribu. Biasanya ia beli dari daerah Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.
"Ya, kurang lebih (cukup) sekitar dua minggu untuk keperluan air semuanya, dari mandi, mencuci, kemudian memasak, kemudian memberikan air minum untuk ternak begitu," urainya.
Bagi warga Kemesu, menjual sebagian ternak untuk membeli air bersih telah menjadi kebiasaan setiap musim kemarau.
Sutopo yang asli Sukoharjo, Jawa Tengah mengaku sudah menetap di Kemesu sejak menikah 2012 silam. Sejak saat itu pula dia merasakan atau melihat bagaimana warga menjual ternak mereka setiap kemarau tiba.
"Semenjak sudah berkeluarga 2012, sesudah musim hujan selesai, kemudian berganti bulan kemarau, apa yang kami miliki terus kalau pas saya bekerja mungkin bisa untuk dapat tambahan untuk bisa membeli air tersebut, begitu," kata Sutopo.
Ia mengatakan warga bertahan dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, dibantu distribusi air bersih dari pemerintah maupun berbagai pihak. Sebagai anggota Relawan Muslim Gunungkidul, Sutopo juga kerap memanfaatkan jejaring relawan untuk mendatangkan bantuan air bagi masyarakat.
Meski begitu, ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi jangka panjang melalui pencarian sumber air bawah tanah dan pembangunan sumur bor agar warga tidak terus bergantung pada bantuan.
"Kami memang sudah bertahun-tahun tidak mendapati sumber air, baik itu sungai maupun sungai bawah tanah," tutupnya.