Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Kekeringan, Warga Kemesu Gunungkidul Jual Ternak demi Beli Air Bersih
ilustrasi tanah kering dan retak dengan batang padi yang menggambarkan kekeringan (pexels.com/Kevin Yung)
  • Sedikitnya 68 KK di Kemesu, Gunungkidul, kesulitan air bersih sejak April-Mei 2026 karena tandon air hujan hanya cukup sekitar sebulan dan aliran PDAM terbatas.
  • Warga petani menjual ayam atau kambing muda untuk membeli satu tangki air seharga Rp120 ribu, yang umumnya mencukupi kebutuhan mandi, memasak, mencuci, dan ternak selama dua minggu.
  • BPBD Gunungkidul telah menyalurkan 128 tangki air berkapasitas 5.000 liter hingga akhir Juli; Rongkop menerima terbanyak, 56 tangki, sementara warga meminta pencarian sumber air dan sumur bor.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Gunungkidul, IDN Times - Musim kemarau membawa persoalan tahunan bagi warga Kemesu, Kalurahan Semugih, Kapanewon Rongkop, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Keterbatasan akses air bersih membuat sebagian warga terpaksa menjual ternak untuk memenuhi kebutuhan air sehari-hari.

"Untuk bisa membeli (air bersih), dari warga kami karena mayoritas para petani, mereka mempunyai ternak ayam ataupun ternak yang lainnya, ya memang harus menjual untuk membeli tersebut," kata salah seorang warga Kemesu, Sutopo (46) saat dihubungi, Selasa (28/7/2026).

Tandon penampung hujan cuma cukup sebulan, air habis harus beli

Menurut Sutopo, selama ini warga hanya mengandalkan penampungan air hujan (PAH) karena tidak punya sumber air. Aliran PDAM tersedia di tiga titik, tapi maksimal cuma bisa mengalir sekitar sepekan sekali.

Dengan kondisi itu, ketika habis masa musim penghujan warga sudah harus bersiap-siap. Tandon penampungan air hujan biasanya cuma cukup untuk sebulan saja.

Kata Sutopo, sudah sejak April-Mei 2026 lalu, sedikitnya 68 kepala keluarga (KK) di Kemesu mulai mengalami kesulitan air bersih.

"Jadi sudah harus membeli air di kala tandon-tandon pribadi-pribadi warga itu sudah habis," kata Sutopo.

"Kami memang sudah bertahun-tahun kesulitan dalam hal air tersebut," ujarnya menambahkan.

Jual ayam atau kambing yang masih kecil

Ilustrasi ternak kambing peliharaan warga. (IDN Times/Indiana Malia)

Mayoritas warga yang berprofesi sebagai petani akhirnya memilih menjual sebagian ternak untuk membeli air bersih. Ternak yang dijual umumnya ayam, meski ada pula yang melepas kambing muda jika memiliki lebih dari satu ekor.

Menurut Sutopo, banyak anak muda di Kemesu merantau ke luar daerah, sehingga para orang tua yang tinggal di kampung terpaksa mengandalkan harta yang dimiliki untuk memenuhi kebutuhan air bersih selama musim kemarau.

"Jadi ya hanya tinggal orang tuanya yang sudah sepuh, yang sudah tua, ya apa yang mereka miliki saja untuk bisa dijual buat bisa membeli air (termasuk ternak)," jelas Sutopo.

Warga sudah rutin jual ternak, butuh bantuan deteksi sumber air

Soal jual ternak untuk beli air bersih ini, Sutopo termasuk di antaranya. Ia mengaku sudah dua kali menjual ayam kampung miliknya selama musim kemarau tahun ini.

Menurutnya, seekor ayam dewasa dihargai sekitar Rp40 ribu. Ditambah uang hasil ia bekerja, maka baru cukup untuk membeli satu tangki air seharga Rp120 ribu. Biasanya ia beli dari daerah Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah.

"Ya, kurang lebih (cukup) sekitar dua minggu untuk keperluan air semuanya, dari mandi, mencuci, kemudian memasak, kemudian memberikan air minum untuk ternak begitu," urainya.

Bagi warga Kemesu, menjual sebagian ternak untuk membeli air bersih telah menjadi kebiasaan setiap musim kemarau.

Sutopo yang asli Sukoharjo, Jawa Tengah mengaku sudah menetap di Kemesu sejak menikah 2012 silam. Sejak saat itu pula dia merasakan atau melihat bagaimana warga menjual ternak mereka setiap kemarau tiba.

"Semenjak sudah berkeluarga 2012, sesudah musim hujan selesai, kemudian berganti bulan kemarau, apa yang kami miliki terus kalau pas saya bekerja mungkin bisa untuk dapat tambahan untuk bisa membeli air tersebut, begitu," kata Sutopo.

Ia mengatakan warga bertahan dengan kemampuan ekonomi yang terbatas, dibantu distribusi air bersih dari pemerintah maupun berbagai pihak. Sebagai anggota Relawan Muslim Gunungkidul, Sutopo juga kerap memanfaatkan jejaring relawan untuk mendatangkan bantuan air bagi masyarakat.

Meski begitu, ia berharap pemerintah dapat memberikan solusi jangka panjang melalui pencarian sumber air bawah tanah dan pembangunan sumur bor agar warga tidak terus bergantung pada bantuan.

"Kami memang sudah bertahun-tahun tidak mendapati sumber air, baik itu sungai maupun sungai bawah tanah," tutupnya.

Rongkop terbanyak terima bantuan air bersih

Ilustrasi warga antri air bersih bantuan BPBD. (IDN Times/Candra Irawan)

Sementara itu, mengacu data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Kecamatan atau Kapanewon Rongkop ini jadi daerah dengan jumlah kiriman tangki air bersih terbanyak sejauh ini.

BPBD tercatat telah menyalurkan sebanyak 56 tangki air bersih ke Rongkop. Terbanyak kedua adalah Tepus 40 tangki, disusul Panggang dan Wonosari masing-masing 16 tangki.

Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul, Purwono, mengatakan hingga akhir Juli pihaknya telah mendistribusikan 128 tangki berkapasitas 5.000 liter ke sejumlah wilayah terdampak kekeringan.

Penyaluran air bersih tidak hanya dilakukan BPBD, tapi juga oleh sebagian kapanewon yang memang menganggarkan untuk distribusi air, seperti Purwosari, Panggang, Paliyan, Tanjungsari, Tepus, Rongkop dan beberapa lainnya.

"Bantuan terus disalurkan dengan catatan ada permintaan secara resmi," kata Purwono.

Curated For You

Editorial Team

Related Article