Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Dies Natalis ke-75, UIN Sunan Kalijaga Jawab Tantangan di Era AI

Kota Yogyakarta
3 min read
Dies Natalis ke-75, UIN Sunan Kalijaga Jawab Tantangan di Era AI
Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75 di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga, Senin (28/9/2026). (Dok. UIN Sunan Kalijaga)
  • UIN Sunan Kalijaga memperingati Dies Natalis ke-75 dengan membahas tantangan pendidikan akibat AI yang mampu memproses data, menemukan pola, dan menghasilkan karya.
  • Rektor Noorhaidi Hasan menekankan perguruan tinggi perlu menghubungkan riset, pendidikan, teknologi, industri, dan kebijakan agar pengetahuan melahirkan inovasi serta dampak bagi masyarakat.
  • UIN mengenalkan konsep Smart University with Human Touch, yang memanfaatkan teknologi sambil menguatkan kemampuan logis, kritis, kreatif, etis, serta tanggung jawab manusia dalam mengambil keputusan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Yogyakarta, IDN Times - UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta memperingati 75 tahun kiprahnya sebagai Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri (PTAIN). Dalam orasi ilmiah pada Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75 di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga, Senin (28/9/2026), Rektor Prof. Noorhaidi Hasan membahas tantangan pendidikan di era Akal Imitasi (AI) atau kecerdasan buatan.

Kemampuan AI dalam memproses data, menemukan pola, hingga menghasilkan karya membuat perguruan tinggi menghadapi tantangan baru. Perkembangan tersebut memunculkan pertanyaan mengenai kemampuan yang perlu tetap dikembangkan melalui pendidikan ketika teknologi semakin mampu mengerjakan berbagai hal.

  1. Belajar dari China

    Rektor UIN Sunan Kalijaga Prof. Noorhadi Hasan berbicara dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75.
    Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof. Noorhaidi Hasan, dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75 di Gedung Multipurpose, Senin (28/9/2026). (Dok. UIN Sunan Kalijaga)

    Dalam orasinya, Prof. Noorhaidi mengaitkan perkembangan teknologi dengan arah pengembangan perguruan tinggi. Sekitar dua pekan sebelumnya, ia mengunjungi Wuxi University of Technology untuk memperkuat kerja sama dan menghadiri forum internasional pendidikan vokasi di Yichang, China. Dari kunjungan tersebut, ia melihat keterkaitan antara riset, pendidikan, teknologi, industri, dan kebijakan pembangunan dalam satu ekosistem.

    “Kunjungan itu memberikan pengalaman yang sangat berharga. Saya melihat sesuatu yang mungkin selama ini hanya kita saksikan melalui layar televisi atau media sosial, bagaimana ilmu pengetahuan, teknologi, pendidikan tinggi, industri, dan kebijakan pembangunan dirangkai menjadi sebuah ekosistem yang terintegrasi,” ujarnya.

    Menurutnya, perguruan tinggi perlu mendorong hasil kerja akademik, seperti penelitian, jurnal, buku, dan lulusan, agar terhubung dengan inovasi serta penerapannya di masyarakat. Ia menegaskan, “Pengetahuan harus melahirkan inovasi. Inovasi harus menemukan aplikasinya. Dan aplikasi harus menghasilkan dampak,” ujarnya.

  2. Kenalkan gagasan Smart University with Human Touch

    Peserta menghadiri Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75 di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga.
    Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75 di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga, Senin (28/9/2026). (Dok. UIN Sunan Kalijaga)

    Gagasan tersebut menjadi bagian dari pemaknaan tema Dies Natalis ke-75 UIN Sunan Kalijaga, 'Dari Keunggulan Akademik Menuju Dampak Global.' Menurut Prof. Noorhaidi, keunggulan akademik tidak cukup hanya diukur dari pengakuan terhadap mutu perguruan tinggi, tetapi perlu diwujudkan melalui gagasan dan karya yang dapat menjawab persoalan serta memberi manfaat lebih luas.

    Prof. Noorhaidi juga mengingatkan agar kemajuan teknologi dan pengalaman dari negara lain tidak diterapkan begitu saja. Setiap hal perlu diseleksi dan disesuaikan dengan kebutuhan Indonesia serta kapasitas akademik UIN Sunan Kalijaga, termasuk dalam pemanfaatan AI. Ia memperkenalkan gagasan Smart University with Human Touch, yaitu perguruan tinggi yang memanfaatkan teknologi sekaligus memperkuat kualitas manusia sebagai penggunanya.

    Karena itu, ia menilai kemampuan berpikir logis, kritis, kreatif, dan etis tetap menjadi dasar pendidikan di tengah perkembangan AI. Teknologi dapat membantu mempercepat analisis dan menyediakan berbagai pilihan, tetapi manusia tetap berperan dalam merumuskan pertanyaan, mempertimbangkan makna, menentukan keadilan, serta bertanggung jawab atas keputusan.

    “Jawabannya membawa kita kembali kepada hakikat pendidikan. Manusia harus mampu berpikir logis. Manusia harus mampu berpikir kritis. Manusia harus mampu berpikir kreatif. Dan yang semakin penting, manusia harus mampu bertindak secara etis,” jelasnya.

  3. Peran manusia dalam menghadapi perkembangan AI

    Suasana Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75 di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga pada Senin, 28 September 2026.
    Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-75 di Gedung Multipurpose UIN Sunan Kalijaga, Senin (28/9/2026). (Dok. UIN Sunan Kalijaga)

    Prof. Noorhaidi menekankan kembali peran manusia dalam menghadapi perkembangan AI. Menurutnya, teknologi dapat memberikan jawaban dan menemukan pola, tetapi manusia tetap menentukan pertanyaan yang perlu diajukan serta makna dari informasi yang dihasilkan.

    “AI dapat memberikan jawaban, tetapi manusia harus menentukan pertanyaan apa yang layak diajukan. AI dapat menemukan pola, tetapi manusia harus menilai makna dari pola tersebut,” ujarnya.

    Menurutnya, kemampuan teknologi dalam menyediakan pilihan dan mempercepat pengambilan keputusan tidak menghilangkan tanggung jawab manusia untuk menentukan hal yang benar, adil, dan bermartabat. Prinsip tersebut dinilai sejalan dengan tradisi akademik UIN Sunan Kalijaga yang mempertemukan pengembangan ilmu dengan pertimbangan etis dan nilai kemanusiaan agar pengetahuan dapat berkembang menjadi inovasi dan memberi dampak tanpa kehilangan orientasi manfaatnya.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More