Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Konsumsi Daging Kambing, 4 Warga Gunungkidul Positif Antraks

Kab. Gunung Kidul
3 min read
Konsumsi Daging Kambing, 4 Warga Gunungkidul Positif Antraks
Ilustrasi virus antrax. IDN Times/ istimewa
  • Empat warga Dusun Pelem, Semanu, Gunungkidul, positif antraks setelah mengonsumsi daging kambing yang mati mendadak dalam tradisi mbrandu pada awal September 2026.
  • Dinas Kesehatan menemukan 47 orang memiliki riwayat paparan; empat pasien membaik, sementara suspek dan kontak berisiko mendapat profilaksis serta dipantau sekitar 60 hari.
  • Belum ada kasus baru. Warga diimbau tidak mengolah atau mengonsumsi ternak sakit atau mati mendadak, serta segera melaporkannya agar pemeriksaan dan pencegahan dilakukan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gunungkidul, IDN Times - Empat warga Dusun Pelem, Semanu, Gunungkidul, terkonfirmasi positif terpapar antraks. Mereka diketahui memiliki riwayat mengonsumsi daging kambing yang sebelumnya mati mendadak.

Kasus ini bermula dari tradisi porak atau mbrandu yang dilakukan warga setempat pada awal September 2026. Masyarakat membeli ternak mati milik warga lain untuk membantu mengurangi kerugian pemiliknya.

  1. 1. Berawal dari warga mengonsumsi daging kambing mati mendadak

    Vaksinasi sapi, kerbau, hewan di Gunungkidul, Yogyakarta untuk pencegahan antrax. (dok. Kementan)
    Vaksinasi sapi, kerbau, hewan di Gunungkidul, Yogyakarta untuk pencegahan antrax. (dok. Kementan)

    Kepala Dinas Kesehatan Gunungkidul, Ismono, mengatakan warga yang terpapar antraks sebelumnya sempat mengikuti kegiatan mbrandu. Daging kambing yang mati mendadak dikonsumsi bersama-sama.

    "Intinya di brandu itu diporak itu saja, ya dikonsumsi dagingnya," kata Ismono saat dihubungi, Jumat (2/10/2026).

    Beberapa waktu setelah kejadian tersebut, sejumlah warga mulai mengalami gejala yang mengarah pada paparan antraks. Salah satunya ditandai dengan munculnya luka pada kulit yang menyerupai koreng.

    Petugas menetapkan tujuh orang sebagai suspek untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Penelusuran epidemiologi dilakukan untuk mengetahui sumber paparan serta kemungkinan kontak antara warga dengan hewan yang diduga menjadi sumber penularan.

    Hasil penyelidikan menunjukkan adanya riwayat kontak dengan kambing yang sempat mengalami kondisi lemas sebelum akhirnya mati tiba-tiba. "Karena ada suspek, kemudian diperiksa ke labkesmas. Hasil PCR-nya positif konfirmasi antraks ada empat," beber Ismono.

  2. 2. Puluhan orang masuk dalam penelusuran kontak

    Temuan empat kasus positif tersebut diikuti penelusuran terhadap orang-orang yang memiliki risiko terpapar. Dari proses tersebut, Dinas Kesehatan Gunungkidul menemukan 47 orang pernah bersentuhan dengan hewan maupun produk hewan yang berasal dari kambing tersebut.

    Empat warga yang terkonfirmasi positif telah mendapatkan penanganan medis, saat ini kondisi kesehatan mereka sudah membaik. "Sudah sehat, nggak nggak apa-apa, nggak ada masalah," klaim Ismono.

    Selain pengobatan dan penanganan terhadap warga yang terkonfirmasi, langkah pencegahan juga dilakukan kepada kelompok yang masuk kategori berisiko. Pemberian profilaksis diberikan kepada para suspek dan 47 orang yang diketahui memiliki riwayat paparan.

    Dinas Kesehatan Gunungkidul belum menghentikan pemantauan. Seluruh kontak dan populasi berisiko masih dipantau selama dua kali masa inkubasi, yakni sekitar 60 hari, guna mengantisipasi munculnya kasus tambahan.

  3. 3. Warga diminta tak konsumsi ternak yang sakit atau mati mendadak

    Ismono mengatakan sampai saat ini belum ditemukan kasus baru dari penelusuran tersebut. Kendati demikian, pemantauan tetap dilakukan untuk memastikan tidak ada penularan lanjutan.

    "Sampai saat ini sudah nggak ada kasus baru itu," ungkapnya.

    Di sisi lain, Dinas Kesehatan Gunungkidul terus mengingatkan masyarakat mengenai risiko mengolah ataupun mengonsumsi hewan yang sakit dan mati mendadak. Warga juga diminta tidak sembarangan menyembelih hewan dengan kondisi tersebut.

    Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menekankan pentingnya pelaporan apabila warga menemukan ternak mati tanpa diketahui penyebabnya. Informasi tersebut diperlukan agar petugas dapat segera melakukan pemeriksaan dan mengambil langkah pencegahan jika terdapat dugaan penyakit menular.

    Pengendalian antraks juga dilakukan melalui koordinasi lintas sektor. Dinas Kesehatan bekerja sama dengan pemerintah desa, Dinas Peternakan, Puskesmas, dan sejumlah pihak terkait untuk memantau kondisi di wilayah tersebut.

    Pemantauan tidak hanya dilakukan terhadap kasus pada manusia, tetapi juga kejadian kematian hewan ternak di lokasi terdampak dan wilayah sekitarnya. Masyarakat pun diminta segera melapor kepada petugas apabila menemukan hewan yang mati mendadak dengan penyebab yang belum diketahui.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More