Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Cegah TPPO, Imigrasi Yogyakarta Gandeng Warga lewat Ketahanan Pangan

Kab. Gunung Kidul
3 min read
Cegah TPPO, Imigrasi Yogyakarta Gandeng Warga lewat Ketahanan Pangan
Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul, Selasa (29/9/2026). (Dok.Istimewa)
  • Imigrasi Yogyakarta mencegah TPPO dan migrasi nonprosedural dengan memperkuat ketahanan pangan, karena kerentanan ekonomi desa dapat membuat warga tergiur tawaran kerja ilegal di luar negeri.

  • Program penanaman jagung di lahan 2,5 hektare pada lima kelurahan melibatkan kelompok tani dan penyuluh pertanian untuk menyediakan alternatif penghidupan serta memperkuat ekonomi keluarga.

  • Sebanyak 15 desa binaan didampingi delapan PIMPASA, sementara edukasi migrasi aman dan bahaya TPPO juga disampaikan lewat pertunjukan wayang kulit bagi warga dan pelajar.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Gunungkidul, IDN Times - Imigrasi Yogyakarta menggunakan pendekatan berbeda untuk mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) dan migrasi nonprosedural. Selain memperkuat edukasi, upaya pencegahan dilakukan dengan menyasar akar persoalan melalui ketahanan pangan dan pendekatan budaya.

Strategi tersebut dijalankan melalui peran Petugas Imigrasi Pembina Desa (PIMPASA), program ketahanan pangan, serta pertunjukan wayang kulit untuk menyampaikan edukasi tentang migrasi aman kepada masyarakat.

Direktur Jenderal Imigrasi Hendarsam Marantoko mengatakan, kerentanan ekonomi di wilayah perdesaan menjadi salah satu faktor yang dapat mendorong masyarakat tergiur tawaran pekerjaan di luar negeri melalui jalur ilegal. Hal itu disampaikannya saat menghadiri Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul, Selasa (29/9/2026).

"Kami coba mencegah migrasi nonprosedural dengan menyasar dari sisi ketahanan pangan. Mengapa, karena kerentanan ekonomi dan kesulitan pangan membuat masyarakat di daerah rentan tergiur oleh iming-iming janji pekerjaan bergaji tinggi di luar negeri melalui jalur ilegal," ujar Hendarsam.

  1. 1. Tanam jagung di lahan 2,5 hektare

    WhatsApp Image 2026-09-29 at 18.01.11.jpeg
    Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul, Selasa (29/9/2026). (Dok.Istimewa)

    Menurut Hendarsam, penguatan ekonomi masyarakat menjadi bagian dari strategi pencegahan migrasi nonprosedural. Salah satunya dilakukan melalui program ketahanan pangan dengan menanam jagung di lahan seluas 2,5 hektare yang tersebar di lima kelurahan.

    Program tersebut dilaksanakan bersama kelompok tani dan penyuluh pertanian. Harapannya, masyarakat memiliki sumber penghidupan alternatif yang dapat membantu memperkuat perekonomian keluarga.

    Dengan begitu, masyarakat tidak mudah tergiur tawaran pekerjaan di luar negeri yang menjanjikan penghasilan tinggi tetapi ditempuh melalui jalur nonprosedural.

  2. 2. Ada 15 desa binaan dan 8 PIMPASA

    WhatsApp Image 2026-09-29 at 18.01.12-2.jpeg
    Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul, Selasa (29/9/2026). (Dok.Istimewa)

    Upaya pencegahan juga dilakukan melalui Desa Binaan Imigrasi di wilayah kerja Kanwil Ditjen Imigrasi Yogyakarta. Program tersebut menjadi ruang kolaborasi antara Imigrasi dan masyarakat untuk mendapatkan informasi keimigrasian serta migrasi aman.

    Saat ini terdapat 15 desa binaan imigrasi yang didampingi oleh delapan PIMPASA. Desa binaan tersebut tersebar di Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunungkidul, dan Kota Yogyakarta. 

    PIMPASA berperan dalam membangun komunikasi langsung dengan masyarakat sekaligus memperluas penyebaran informasi mengenai keimigrasian, migrasi aman, pencegahan TPPO, serta risiko keberangkatan pekerja migran secara nonprosedural.

    Hendarsam berharap program ketahanan pangan dan edukasi berbasis budaya tersebut dapat membuat kehadiran Imigrasi semakin dekat dengan masyarakat.

    "Kami harapkan melalui panen raya serta edukasi melalui pertunjukan wayang ini, Imigrasi bisa hadir lebih dekat, memberikan edukasi, mencegah kerentanan, serta memberdayakan masyarakat, tentunya sejalan dengan semangat Imigrasi untuk Rakyat," tutup Hendarsam.

  3. 3. Edukasi migrasi melalui wayang kulit

    WhatsApp Image 2026-09-29 at 18.01.10.jpeg
    Panen Raya Jagung di Tahunan, Bulurejo, Kapanewon Semin, Gunungkidul, Selasa (29/9/2026). (Dok.Istimewa)

    Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Imigrasi Daerah Istimewa Yogyakarta, Yuni Santi Nurani, mengatakan pencegahan TPPO tidak hanya dilakukan melalui pendekatan ekonomi. Imigrasi juga menggunakan pendekatan kultural agar pesan mengenai migrasi aman dan risiko keberangkatan nonprosedural lebih mudah diterima masyarakat.

    Salah satunya melalui pertunjukan wayang kulit yang menyasar masyarakat umum hingga generasi muda. "Kami adakan pertunjukan wayang kulit yang menjangkau warga umum hingga generasi muda di SMK Muhammadiyah Semin dan SMAN 1 Semin, bekerja sama dengan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta," jelas Yuni. 

    Pendekatan budaya tersebut diharapkan dapat menjadi sarana komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat, khususnya dalam menyampaikan informasi mengenai bahaya TPPO dan pentingnya mengikuti prosedur ketika bekerja ke luar negeri.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More