Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

FKY 2026 Ditutup, Jadi Ruang Bersama Membaca Kebudayaan Jogja

Kota Yogyakarta
4 min read
FKY 2026 Ditutup, Jadi Ruang Bersama Membaca Kebudayaan Jogja
Penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 resmi ditutup di Lapangan Beran Sleman, Eks Pabrik Gula Beran-Area Pemda, Sabtu (19/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • FKY 2026 resmi ditutup di Lapangan Beran Sleman pada 19 September, mengusung tema Bahasa melalui tajuk Aksara untuk membaca kebudayaan Yogyakarta.
  • Festival melibatkan pengalaman kebudayaan lintas komunitas, termasuk 600 penari, perpaduan tradisi dan kontemporer, serta kolaborasi dengan berbagai lembaga dan pelaku budaya.
  • Hingga 18 September, FKY mencatat 53.299 pengunjung, 1.767 seniman, transaksi lebih dari Rp1 miliar, 336 pemberitaan, dan pengelolaan 1.230 kilogram sampah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Yogyakarta, IDN Times – Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 resmi ditutup di Lapangan Beran Sleman, berlokasi di Bekas Pabrik Gula Beran-Area Pemda, Sabtu (19/9/2026). Penutupan menjadi penanda berakhirnya rangkaian festival yang tahun ini mengangkat tema bahasa dengan tajuk aksara sebagai cara membaca kebudayaan Yogyakarta.

Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutan yang dibacakan Wakil Gubernur DIY, Paku Alam X mengatakan berakhirnya rangkaian FKY tidak berarti berakhir pula makna yang dihadirkan selama festival. “Seperti aksara, berakhirnya sebuah rangkaian bukan berarti berakhir pula maknanya,” ujarnya dalam sambutan.

Menurutnya, selama festival berlangsung, masyarakat diajak membaca Yogyakarta melalui berbagai bahasa, mulai dari gerak, bunyi, karya, ruang hidup, tradisi, hingga perjumpaan antarmanusia. Beragam bentuk tersebut menunjukkan bahwa kebudayaan tidak pernah hadir dalam satu bentuk saja.

Kebudayaan, lanjutnya, terus hidup karena dibaca, dirasakan, ditafsirkan, dan diwariskan. Karena itu, ia berharap FKY tidak berhenti sebagai perayaan tahunan, tetapi menjadi jejak yang terus terbaca dan ruang lahirnya aksara-aksara baru kebudayaan Yogyakarta.

Dalam penutupan FKY 2026 menampilkan YKHC, Ngatmombilung, Jahanam, hingga Kiai Kanjeng, dan berbagai penampil lainnya.

  1. 1. Lima tema menjadi cara membaca Yogyakarta

    Penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 resmi ditutup di Lapangan Beran Sleman, Eks Pabrik Gula Beran-Area Pemda, Sabtu (19/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Penutupan Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY) 2026 resmi ditutup di Lapangan Beran Sleman, Eks Pabrik Gula Beran-Area Pemda, Sabtu (19/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Kepala Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta (Disbud DIY), Dian Lakshmi Pratiwi mengatakan FKY 2026 merupakan bagian dari perjalanan tema yang telah dibangun sejak beberapa tahun terakhir. Rangkaian tema tersebut dimulai dari Pangan pada 2023, Benda/Wujud pada 2024, Adat Istiadat pada 2025, Bahasa pada 2026, dan akan berlanjut dengan tema Aji Budaya pada 2027 di Kota Yogyakarta.

    “Kelima tema tersebut merupakan lima cara dalam membaca Yogyakarta. Pada tahun ini, kita membacanya melalui Aksara,” kata Dian.

    Menurutnya, tema tersebut tidak hanya diwujudkan dalam bentuk pertunjukan, tetapi menjadi pengalaman kebudayaan yang melibatkan masyarakat. Pada pembukaan FKY 2026, misalnya, sekitar 600 penari dari lima kabupaten/kota di DIY dipertemukan dalam pertunjukan kolosal Tubuhku Aksaraku.

    Pertunjukan tersebut mempertemukan berbagai ekspresi kebudayaan dalam satu panggung. Kunto Aji melantunkan Macapat, sementara Sri Sultan Hamengku Buwono X membacakan puisi atau geguritan. “Tradisi dan ekspresi kontemporer saling bertegur sapa dan menyatu,” ujarnya.

    Dian mengatakan, FKY 2026 juga menjadi bagian dari upaya rebranding Festival Kebudayaan Yogyakarta agar semakin kuat sebagai festival yang berakar pada kebudayaan Yogyakarta sekaligus mampu berdialog dengan masyarakat luas dan perkembangan zaman.

  2. 2. FKY ingin lebih dekat dengan kehidupan masyarakat

    Suasana Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY), Sabtu (19/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Suasana Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY), Sabtu (19/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Dian menuturkan, penyelenggaraan FKY tahun ini dirancang dengan wajah yang lebih terbuka, segar, dan dekat dengan kehidupan masyarakat. Menurutnya, panggung tidak hanya diposisikan sebagai tempat pertunjukan. Begitu pula pasar tidak sekadar menjadi tempat berjualan. Seluruh elemen festival dirancang sebagai bagian dari perjalanan kebudayaan.

    “Bagi saya, capaian penting dari hasil FKY bukan hanya seberapa banyak acara yang terselenggara, melainkan bagaimana masyarakat luas merasa bahwa acara ini adalah milik kita bersama,” katanya.

    Upaya tersebut diwujudkan melalui berbagai kolaborasi lintas komunitas dan lembaga.  FKY juga melibatkan Dinas Kebudayaan DKI Jakarta, Festival Film Pelajar Yogyakarta, Pekan Klangenan Kotagede, serta berbagai komunitas dan pelaku kebudayaan lainnya.

  3. 3. FKY catat puluhan ribu pengunjung dan transaksi Rp1 miliar

    Suasana Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY), Sabtu (19/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
    Suasana Festival Kebudayaan Yogyakarta (FKY), Sabtu (19/9/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)

    Dian menyebut capaian FKY 2026 juga dapat dilihat melalui sejumlah indikator selama pelaksanaan festival hingga Jumat (18/9/2026). Tercatat sebanyak 53.299 orang mengunjungi rangkaian FKY. Sementara seniman yang terlibat mencapai 1.767 orang, dengan kolaborasi bersama 41 paguyuban, komunitas seni, dan kolaborator.

    Dari sisi ekonomi, transaksi penjualan selama festival mencapai Rp1 miliar lebih. Sementara pemberitaan media dan kemitraan tercatat sebanyak 336 berita, dengan jumlah tayangan media sosial mencapai 6.196.993 views.

    Dari aspek lingkungan, sebanyak 1.230 kilogram sampah berhasil dikelola selama penyelenggaraan festival. Namun, Dian menekankan angka-angka tersebut bukan sekadar statistik. Di balik setiap angka terdapat manusia, proses kreatif, kerja keras, serta pengalaman yang dibawa pulang oleh masyarakat.

    “Di balik kualitas sebuah pertunjukan, ada latihan. Di balik satu transaksi penjualan, ada kerja keras para pengrajin. Di balik sebuah pameran, ada karya dan kesehatan/kesejahteraan. Serta di balik seorang penonton, ada pengalaman yang akan dibawa pulang,” ujarnya.

    Ia menilai seluruh pengalaman tersebut pada akhirnya menjadi bagian dari catatan perjalanan kebudayaan Yogyakarta. FKY pun diharapkan tidak hanya meninggalkan rangkaian acara, tetapi juga pengetahuan, karya, dan pengalaman yang ikut menuliskan masa depan kebudayaan Yogyakarta.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More