Universitas Ahmad Dahlan Kukuhkan 4 Guru Besar Perempuan

- Universitas Ahmad Dahlan mengukuhkan empat guru besar perempuan dari bidang bahasa, farmakologi, herbal halal, dan evaluasi pembelajaran fisika di Kampus IV Yogyakarta.
- Rektor UAD menegaskan pengukuhan ini menambah total 50 guru besar dan mendorong peningkatan kualitas SDM serta integrasi nilai keislaman dalam pengembangan ilmu.
- Pihak LLDIKTI dan Muhammadiyah menekankan peran guru besar sebagai motor riset, inovasi, serta inspirasi akademik yang berdampak nyata bagi masyarakat dan dunia pendidikan tinggi.
Yogyakarta, IDN Times – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) kukuhkan empat guru besar baru di Amphitarium Gedung Utama Kampus IV UAD, Sabtu (18/4/2026). Empat guru besar yang dikukuhkan diharap memberi dampak yang nyata bagi masyarakat.
Empat dosen yang dikukuhkan yaitu Prof. Rika Astari Kepakaran Bahasa dan Media, Prof. Wahyu Widyaningsih Kepakaran Farmakologi dan Toksikologi, Prof. Nina Salmah Kepakaran Autentikasi Herbal dan Analisis Halal, dan Prof. Dian Artha Kusumaningtyas Kepakaran Evaluasi Pembelajaran Fisika.
1. UAD miliki 50 guru besar

Rektor UAD, Prof. Muchlas mengatakan UAD saat ini memiliki 50 guru besar, 150 lektor kepala , 411 lektor, dan 90 asisten ahli. Ia menyebut peningkatan kualitas sumber daya manusia terus dilakukan melalui program percepatan lektor kepala dan guru besar.
“Kepada guru besar harapan saya terus menjaga marwah keilmuan UAD dan juga persyarikatan Muhammadiyah. Terus menghasilkan pengetahuan, ilmu, karya yang spektakuler, dan pada akhirnya berdampak bagi masyarakat, bangsa dan negara,” ujar Prof. Muchlas.
Dia juga berharap para guru besar yang baru dikukuhkan dapat menjadi inspirasi dosen lainnya. Selain itu, dirinya juga mengharapkan dengan adanya guru besar baru ini bisa terus menguatkan program S3 yang ada di UAD. “Juga mengintegrasikan ilmu yang didalami dengan nilai-nilai keislaman dan kemuhammadiyahan,” harap Prof. Muchlas.
2. Diharap dapat mendukung penambahan guru besar

Kepala LLDIKTI Wilayah V, Prof. Setyabudi Indartono mengapresiasi para srikandi yang dikukuhkan menjadi guru besar. Ia berharap guru besar yang telah dikukuhkan dapat mendampingi koleganya menjadi guru besar.
“Tugas guru besar harus mampu mengawal quality assurance di perguruan tingginya. Dengan kemampuan dan perjalanan yang panjang, pengalaman ini harus bisa diturunkan kepada kolega yang lain,” kata Prof. Setyabudi.
Prof. Seyabudi mengingatkan tugas dosen tidak hanya berhenti setelah guru besar. Ia mendorong agar guru besar terus melakukan riset yang memberi dampak. “Peran guru besar jadi garda terdepan inovasi di pendidikan tinggi,” ucap Prof. Setyabudi.
3. Beri dampak ke masyarakat

Koordinator Kopertais Wilayah III DIY, Prof. Noorhaidi Hasan mengungkapkan pengukuhan guru besar ini bukan hanya acara seremonial akademik, tapi merupakan momentum penting. “Momentum bersejarah menyaksikan lahirnya intelektual terdepan yang memiliki kematangan intelektual, kedalaman ilmu, serta jejak pengabdian yang panjang terhadap ilmu pengetahuan dan kemasyarakatan,” ujar Prof. Noorhaidi.
Momentum kali ini semakin istimewa karena keempatnya perempuan. Ia menyebut pengukuhan guru besar ini sekaligus menjadi indikator utama tentang keberhasilan UAD menempatkan diri sebagai perguruan tinggi unggul dan memiliki daya saing nasional bahkan internasional.
Sekretaris Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah sekaligus Ketua Badan Pembina Harian (BPH) UAD, Prof. Ahmad Muttaqin berpesan agar kewajiban riset dan mengembangkan ilmu harus tetap berjalan.
“Kalau dilihat dari keempat bidang keahlian dari setiap guru besar ini, apabila dikolaborasikan akan menghasilkan unifikasi ilmu. Orientasi ilmu yang kita kembangkan harus transenden, kita tetaplah hamba Allah yang diberi fasilitas ilmu untuk memberikan manfaat kepada sesama,” ucap Prof. Ahmad.

















