Menanggapi hal tersebut, Taufiq menegaskan bahwa secara umum ketersediaan LPG non-subsidi di wilayah Jawa Tengah dan DIY dalam kondisi aman, bahkan mengalami peningkatan permintaan dalam beberapa waktu terakhir.
"Sebetulnya di kami, untuk permintaan LPG non-subsidi itu malah meningkat tajam 15 persen semenjak kepolisian itu melakukan tindakan atau pengungkapan untuk kasus-kasus LPG oplosan yang menyuntik LPG 3 kilo subsidi ke LPG non-subsidi. Itu permintaan kita meningkat. Nah, di kita sebetulnya stok aman," kata Taufiq, Rabu (15/4/2026).
Ia menambahkan, kesulitan yang dialami sejumlah SPPG dalam mendapatkan LPG 12 kilogram bukan disebabkan oleh kelangkaan stok, melainkan adanya indikasi penggunaan jalur distribusi tidak resmi sebelumnya.
"Nah, SPPG yang kekurangan 12 kilo, sulit cari 12 kilo, itu diindikasi SPPG-nya membeli LPG oplosan karena harganya lebih murah. Semenjak oplosan ditertibkan oleh kepolisian, mereka otomatis kesulitan," paparnya.
"Dan ya, diindikasi saat ini memang beberapa SPPG itu membeli LPG yang tidak resmi atau bisa diindikasi dari oplosan tadi," sambungnya menegaskan.
Pertamina pun menyatakan dukungannya terhadap langkah aparat kepolisian dalam menindak praktik oplosan LPG yang merugikan masyarakat.
"Kita dukung terus pengungkapan dari kepolisian karena sebetulnya LPG ini stoknya aman, tetapi oknum-oknum yang sudah diungkap kepolisian beberapa minggu lalu ini yang menyebabkan LPG ini menjadi susah di pasaran," tegasnya.