Konferensi Republik di UGM, Cari Jalan Keluar Atasi Persoalan Bangsa
- Konferensi Republik di UGM mempertemukan tokoh nasional, akademisi, dan masyarakat sipil dari 130 organisasi untuk mencari solusi atas berbagai persoalan bangsa melalui kolaborasi lintas generasi dan profesi.
- Sudirman Said menyoroti adanya defisit intelektual, moral, dan spiritual yang menyebabkan kemunduran ekonomi, hukum, serta hilangnya keteladanan pemimpin dalam menjaga arah demokrasi.
- Dalam konferensi ini ditawarkan tiga bentuk kepemimpinan: institusional untuk memperkuat kelembagaan, kolektif agar tidak bergantung pada figur tunggal, dan intrinsik yang berlandaskan nilai kejujuran serta integritas.
Sleman, IDN Times – Sejumlah tokoh nasional, akademisi, masyarakat sipil dari berbagai elemen berkumpul dalam Konferensi Republik, di University Club Universitas Gadjah Mada (UC UGM), Sabtu (30/5/2026). Konferensi Republik menjadi satu langkah mencari solusi berbagai persoalan bangsa saat ini.
Ketua Umum Panitia Konferensi Republik, Sudirman Said, menjelaskan pertemuan ini menjadi wadah lintas generasi, lintas profesi, berbagai latar belakang dengan dukungan sekitar 130 organisasi. “Menyatukan pikiran tidak mudah, tapi kita menyadari collective thinking, kerja bersama akan menghasilkan sesuatu lebih mendalam, memberi manfaat,” ungkap Sudirman Said.
1. Cari solusi hadapi persoalan bangsa
Sudirman Said menyebut Konferensi Republik sebagai sebuah proses co-creation, berpikir bersama untuk mencari jalan keluar. “Jadi kalau ditanya polanya bagaimana, pertemuan semacam ini mungkin akan disambung dengan berbagai pertemuan di kota-kota lain,” kata Sudirman Said.
Ia melanjutkan pertemuan di berbagai kota lainnya nanti akan mengusung semangat yang sama. Melibatkan sebanyak mungkin masyarakat sipil, terlebih ketika struktur negara tidak berjalan dengan baik.
“Ujungnya tadi yang konkret misalnya kita ingin menjaga supaya regresi demokrasi tidak terus berlanjut. Kerusakan tata kelola jangan terus berlanjut,” ungkap Mantan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) itu.
2. Tiga defisit yang terjadi

Sudirman Said menyinggung belakangan ini terjadi defisit intelektual, moral, hingga spiritual. Sudirman mengkahawtirkan dengan deifisit tersebut segala cara dihalalkan untuk mendapat kekuasaan.
“Saya khawatir negara kita jatuh pada suasana apapun bisa dilakukan. Dengan kata lain apakah maunya penguasa, akan dicari cara menghalalkannya. Bagaimana jika hukum melarang? Hukum kita ubah saja,” sentil Sudirman Said.
Ia juga menyinggung saat ini tengah terjadi kemunduran dalam berbagai bidang. Mulai dari kemerosotan ekonomi, kehancuran hukum, keluluhan sistem kontrol, dan melebarnya kesenjangan. “Yang lebih serius adalah absennya keteladanan para pemimpin negara,” ungkap Sudirman Said.
3. Tawarkan bentuk kepemimpinan

Sudirman Said juga menawarkan tiga bentuk kepemimpinan. Pertama kepemimpinan institusional, bukan populis. Kepemimpinan yang mampu membangun kelembagaan negara yang mengalami kerusakan luar biasa. “Harus ada proses berpikir bersama. Harus ada proses untuk menghadirkan solusi bagi masyarakat,” ujarnya.
Oleh karena itu, kata Sudirman membutuhkan jenis kepemimpinan kedua yaitu kepemimpinan kolektif bukan personal atau figur tunggal. “Figur-figur rendah hati yang bersedia bekerja di arus bawah bersama-sama, dengan keberanian,” ungkap Sudirman Said.
Ketiga yaitu kepemimpinan intrinsik bukan nominal. Kepemimpinan sejati yang didasari pada nilai-nilai keluhuran. “Bukan oleh status, jabatan, bukan oleh simbol sumber kekuasaan, tetapi kepemimpinan yang dipandu kejujuran, integritas, kompetensi, visi, panggilan untuk berkorban,” ucapnya.
















