Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Ciri Kos yang Rawan Tipu-tipu, Mahasiswa Baru di Jogja Wajib Tahu

Kota Yogyakarta
Ciri Kos yang Rawan Tipu-tipu, Mahasiswa Baru di Jogja Wajib Tahu
ilustrasi survei kos-kosan (pexels.com/Pavel Danilyuk)
Intinya Sih
  • Mahasiswa baru di Jogja perlu mewaspadai penawaran kos dengan harga jauh di bawah pasaran, fasilitas terlalu bagus, serta permintaan uang muka sebelum sempat survei langsung.

  • Tanda lain yang patut dicurigai adalah foto kos yang tidak sesuai, pemilik enggan memberikan alamat lengkap, hingga memberi tekanan agar calon penyewa segera mentransfer uang.

  • Untuk menghindari penipuan, pastikan ada survei lokasi, perjanjian sewa tertulis, simpan bukti percakapan, dan segera laporkan jika menjadi korban.

This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Musim cari kos di Jogja selalu menjadi momen yang dimanfaatkan para penipu. Begitu pengumuman "lolos SNBT" atau "lolos jalur mandiri" keluar, grup Facebook dan akun Instagram penyedia kos langsung dipenuhi unggahan kamar berharga murah, fasilitas lengkap, hingga lokasi yang diklaim dekat kampus. Buat mahasiswa baru yang belum pernah tinggal di Jogja, semuanya tampak meyakinkan, sampai uang muka terlanjur dikirim dan nomor pemilik kos mendadak tidak bisa dihubungi.

Masalahnya bukan sekadar iming-iming harga murah. Modus yang kini makin marak justru lebih rapi, seperti meminta uang muka dengan alasan kamar harus segera dipesan, menjanjikan pengembalian dana jika batal, lalu menghilang setelah transfer diterima. Supaya kamu gak ikut jadi korban, kenali dulu tanda-tanda kos yang patut diwaspadai berikut ini.

1. Harga jauh di bawah pasaran tapi fasilitasnya berlebihan

Kos AC, kamar mandi dalam, WiFi kencang, dan lokasi lima menit dari kampus biasanya punya harga sewa yang sepadan dengan fasilitasnya. Kalau ada postingan yang menawarkan paket lengkap seperti itu dengan harga separuh dari kos sejenis di sekitarnya, jangan buru-buru senang. Justru itu saat yang tepat untuk curiga, karena harga properti jarang banget jauh melenceng dari kisaran wajar tanpa alasan yang jelas.

Sebelum percaya sama satu postingan, coba riset dulu kisaran harga kos di area yang kamu incar. Seturan, Babarsari, Sagan, Gejayan, sampai Mrican masing-masing punya rentang harga berbeda tergantung fasilitas dan jarak ke kampus, jadi bandingkan minimal tiga sampai empat listingan sejenis dulu. Kalau sempat, tanya juga ke senior atau mahasiswa yang sudah lama tinggal di area itu, biasanya mereka lebih tahu harga pasaran yang realistis.

2. Diminta DP sebelum sempat survei langsung

ilustrasi kos-kosan
ilustrasi kos-kosan (magnific.com/rawpixel)

Ini pola paling umum yang dipakai pelaku. Korban dihubungi lewat WhatsApp, lalu diminta transfer setengah harga sewa dengan dalih kamar keburu diambil orang lain, padahal belum pernah lihat kondisi aslinya sama sekali. Bahkan beberapa pelaku menjanjikan uang bisa dikembalikan penuh kalau penyewaan dibatalkan, biar korban makin percaya.

Padahal, survei ke lokasi kos biasanya gratis dan gak ada kewajiban bayar apa pun sebelum kamu benar-benar sepakat sama pemiliknya. Kalau ada admin atau pemilik yang maksa DP dulu baru kasih alamat lengkap, itu tanda bahaya paling jelas dan sebaiknya langsung kamu hindari. Simpan saja uangmu sampai kamu benar-benar yakin sudah lihat kondisi kamarnya sendiri.

3. Foto gak sesuai aslinya dan susah dimintai alamat lengkap

Beberapa pelaku memakai foto kos milik orang lain atau hasil edit yang dipercantik berlebihan supaya kelihatan lebih menarik dari kenyataannya. Selain itu, saat kamu tanya alamat detail atau titik lokasi di peta, jawabannya sering muter-muter atau baru dikasih setelah kamu bayar. Dua hal ini biasanya jalan bareng, karena penipu memang sengaja menyembunyikan lokasi asli biar korban gak bisa cek langsung.

Sebelum percaya seratus persen sama foto di postingan, coba cocokkan dengan Google Maps atau minta video call langsung ke lokasi kamarnya. Kos yang beneran ada biasanya gak keberatan kasih titik lokasi persis, apalagi kalau kamu sudah bilang mau survei langsung ke sana. Kalau pengelola menolak dengan berbagai alasan yang gak masuk akal, mending cari kos lain saja daripada ambil risiko.

4. Pemilik terkesan buru-buru dan menekan biar kamu cepat transfer

ilustrasi transfer uang
ilustrasi transfer uang (unsplash.com/Atlantic Money)

Waspada kalau chat dari pemilik atau adminnya penuh kalimat mendesak, seperti "buruan, banyak yang nanya" atau "kalau gak DP sekarang hangus". Beberapa bahkan bernada agak marah atau menyudutkan saat kamu bilang mau diskusi dulu sama orang tua, seolah-olah kamu yang salah karena berhati-hati. Tekanan semacam ini bukan kebetulan, tapi memang taktik supaya kamu gak sempat mikir panjang.

Penjual kos yang beneran biasanya santai saja dan gak masalah kalau kamu butuh waktu buat mempertimbangkan. Kalau kamu ketemu pola tekanan psikologis kayak gini, anggap saja itu alarm buat mundur pelan-pelan dari percakapan. Jangan pernah merasa gak enak buat menolak, karena keputusan finansial sebesar sewa kos memang wajar dipikirkan matang-matang.

5. Nomor kontak menghilang begitu transferan masuk

Ini merupakan pola yang paling sering dialami para korban. Setelah uang muka ditransfer, nomor pelaku langsung diblokir atau tidak lagi bisa dihubungi. Diskominfo DIY dalam materi edukasinya menjelaskan modus serupa, yakni pelaku meminta uang muka sekitar setengah dari biaya sewa dengan janji akan mengembalikan dana jika calon penyewa membatalkan, tetapi kemudian memutus komunikasi begitu uang diterima. Jika mengalami hal seperti ini, segera tangkap layar seluruh percakapan sebagai bukti.

6. Gak ada surat perjanjian sewa yang jelas hitam di atas putih

ilustrasi surat perjanjian (pexels.com/Andrea Piacquadio)
ilustrasi surat perjanjian (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Hal yang sering luput dari perhatian mahasiswa baru adalah transaksi sewa kos sebaiknya gak hanya mengandalkan kesepakatan lisan. Perjanjian sewa yang jelas umumnya memuat jangka waktu sewa, nominal dan jadwal pembayaran, ketentuan uang jaminan beserta syarat pengembaliannya, hingga aturan yang berlaku selama tinggal di kos.

Tanpa dokumen tersebut, posisi kamu akan lebih lemah jika sewaktu-waktu muncul masalah, mulai dari harga yang tiba-tiba naik, uang jaminan tidak dikembalikan, hingga diminta keluar secara sepihak. Jangan ragu meminta perjanjian tertulis meski kamu hanya menyewa satu kamar, bukan satu rumah.

Cari kos memang butuh usaha ekstra, apalagi buat kamu yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Jogja. Tapi selangkah lebih waspada jauh lebih baik daripada kehilangan uang di awal semester, apalagi kalau itu duit hasil kerja keras orangtua. Kalau kamu terlanjur jadi korban atau menemukan akun mencurigakan yang menawarkan kos, laporkan lewat patrolisiber.id atau hubungi call center 110, dan bagikan pengalamanmu supaya calon maba lain gak kena jebakan yang sama.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More