Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install
For
You

Akademisi UGM Kritik Narasi Optimisme Pemerintah

Akademisi UGM Kritik Narasi Optimisme Pemerintah
Gambar Universitas Gadjah Mada (ugm.ac.id)
Intinya Sih
  • Akademisi UGM Media Wahyudi Askar menilai narasi optimisme ekonomi pemerintah tidak sejalan dengan realitas masyarakat yang menghadapi tekanan sosial, sulitnya pekerjaan, dan menurunnya daya beli.
  • Ia mengkritik kebijakan pemerintah yang belum berbasis riset kuat serta terlalu bergantung pada pidato politik, sehingga berisiko menghasilkan program tidak efektif dan membebani keuangan negara.
  • Media menegaskan kritik akademisi lahir dari kepedulian terhadap bangsa, menyerukan agar pemerintah melihat akademisi sebagai mitra berpikir dan membuka ruang dialog yang sehat berbasis data.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?
Share Article

Yogyakarta, IDN Times - Akademisi Manajemen dan Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada, Media Wahyudi Askar, menilai pemerintah terlalu fokus menjaga stabilitas narasi dibanding membaca realitas yang dihadapi masyarakat sehari-hari.

Pernyataan itu disampaikan menanggapi narasi optimisme ekonomi yang terus disampaikan pemerintah di tengah tekanan sosial dan ekonomi masyarakat.

Menurutnya, publik saat ini semakin kritis dan mampu merasakan langsung tekanan ekonomi melalui sulitnya mencari pekerjaan, meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja, hingga menurunnya daya beli. Kondisi tersebut memunculkan jarak yang semakin besar antara optimisme pemerintah dan pengalaman hidup masyarakat di lapangan.

Menurut Media, pertumbuhan ekonomi yang selama ini diklaim pemerintah belum tentu mencerminkan kualitas kesejahteraan masyarakat secara luas. Angka pertumbuhan ekonomi tidak otomatis menunjukkan kondisi sosial masyarakat benar-benar membaik.

Ia mengungkapkan sebagian besar manfaat pertumbuhan ekonomi justru dinikmati kelompok elite yang memiliki akses terhadap modal, aset, dan proyek strategis nasional. Sementara itu, masyarakat kelas menengah dan kelompok rentan menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat dalam kehidupan sehari-hari.

“Ekonomi itu memang tumbuh, tapi ekonomi itu hanya dinikmati oleh kelas atas, oleh orang superkaya, oleh mereka yang punya kapital, aset, properti, dan saham,” ujarnya dikutip laman resmi UGM, Kamis (21/5/2026).

1. Keresahan publik lahir dari pengalaman

ilustrasi pecahan uang rupiah Indonesia
ilustrasi pecahan uang rupiah Indonesia (pexels.com/Ahsanjaya)

Media menilai pemerintah gagal melihat keresahan publik lahir dari pengalaman hidup yang nyata, bukan sekadar persepsi di media sosial. Ia menjelaskan masyarakat saat ini mampu membaca situasi ekonomi secara lebih kritis, termasuk masyarakat desa yang mulai memahami persoalan subsidi, pajak, hingga nilai tukar rupiah.

Dalam kondisi seperti sekarang, publik akan sulit menerima narasi optimisme apabila kondisi ekonomi yang mereka rasakan justru bergerak ke arah sebaliknya. Media menilai pemerintah perlu lebih jujur membaca tekanan sosial ekonomi yang berkembang di masyarakat.

“Problem terbesar hari ini adalah terlalu jauh antara angka yang dinarasikan oleh pemerintah dengan realita di lapangan,” jelasnya.

2. Kebijakan belum berbasis riset

Seorang pria berbicara dengan mikrofon dan seorang wanita duduk sambil melihat ponsel di depan warung kecil bertuliskan Pojok Bulaksumur.
Dosen Departemen Manajemen Kebijakan Publik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UGM, Media Wahyudi Askar dalam Diskusi Pojok Bulaksumur pada Selasa (19/5/2026). (Dok. UGM)

Ia juga turut menyoroti arah kebijakan pemerintah yang dinilai belum berbasis pada riset dan kebutuhan riil masyarakat. Media menjelaskan banyak kebijakan publik lahir tanpa kajian akademik yang kuat dan tidak melibatkan hasil penelitian lembaga-lembaga riset maupun perguruan tinggi. Baginya, negara seharusnya membangun kebijakan berbasis evidence agar mampu menjawab tantangan ekonomi secara lebih rasional dan kontekstual.

Media menambahkan pola pengambilan kebijakan yang terlalu bertumpu pada pidato politik berisiko melahirkan program yang tidak efektif dan membebani fiskal negara. “Beliau menciptakan kebijakan hanya dengan sebuah pidato politik, lalu hadir kebijakan setelah beliau pidato,” katanya.

3. Kritis sejumlah program pemerintah

ICON UGM (34).JPG
Universitas Gajah Mada (dok. UGM)

Selain mengkritik kebijakan ekonomi, Media juga menyoroti cara pemerintah merespons kritik publik. Ia mengungkapkan kritik yang lahir dari akademisi dan peneliti sering kali diposisikan sebagai bentuk pesimisme terhadap negara. Padahal menurutnya, kritik berbasis data dan riset justru menjadi bagian penting dalam proses evaluasi kebijakan publik. Ia menilai pemerintah seharusnya melihat akademisi sebagai mitra berpikir yang membantu negara memitigasi risiko sosial dan ekonomi, bukan sebagai lawan politik. Dalam situasi seperti sekarang, ruang dialog yang sehat dinilai menjadi kebutuhan penting agar pemerintah tidak semakin jauh dari realitas masyarakat.

“Kalau pemerintah melihat para pengamat dan akademisi sebagai kawan berpikir, pemerintah akan merefleksikan dirinya dan merespons kritik itu dengan data juga. Kritis dan pesimisme itu dua hal yang berbeda,” ujarnya.

4. Kritik lahir dari kepedulian

Ratusan buruh menggelar demonstrasi memperingati May Day 2026 di Jl AP Pettarani Makassar, Sulawesi Selatan (1/5/2026). IDN Times/Darsil Yah
Ratusan buruh menggelar demonstrasi memperingati May Day 2026 di Jl AP Pettarani Makassar, Sulawesi Selatan (1/5/2026). IDN Times/Darsil Yahya

Media menegaskan kritik yang disampaikan akademisi lahir dari kepedulian terhadap masa depan bangsa dan kondisi masyarakat. Ia menjelaskan banyak akademisi memilih tetap bekerja dan mengabdi di Indonesia karena memiliki harapan terhadap masa depan negara.

Media berujar keberanian menyampaikan kritik merupakan bagian dari tanggung jawab moral akademisi untuk menjaga kualitas kebijakan publik dan demokrasi. Ia berharap pemerintah lebih terbuka terhadap masukan serta tidak memandang kritik sebagai ancaman terhadap kekuasaan.

“Kalau saya tidak optimis dengan negara ini, saya mungkin memilih tetap tinggal di luar negeri. Tapi kami kembali karena percaya Indonesia membutuhkan orang-orang yang mau berpikir, mengkritik, sekaligus mencari solusi. It takes someone who really loves the country in order to be critical against it,” katanya.

Share Article
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Febriana Sintasari
EditorFebriana Sintasari

Latest News Jogja

See More