Fakta-Fakta Dugaan Keracunan MBG di SMPN 3 Jetis Bantul

- Puluhan siswa dan guru SMPN 3 Jetis Bantul mengalami gejala keracunan seperti mual dan diare setelah mengonsumsi makanan bergizi gratis pada Senin, 13 April 2026.
- Sekitar 75 siswa dan 30 guru terdampak, diduga akibat lauk ayam bakar yang tidak segar; kegiatan belajar dihentikan sementara dan penyaluran MBG distop oleh pihak sekolah.
- Pihak sekolah memberi izin istirahat bagi korban keracunan, sementara SPPG menghentikan distribusi MBG hingga waktu yang belum ditentukan sambil menunggu hasil laboratorium.
Bantul, IDN Times - Puluhan siswa dan guru di SMPN 3 Jetis, Kabupaten Bantul, diduga mengalami keracunan makanan bergizi gratis (MBG) pada Selasa (14/4/2026), sehari setelah mengonsumsi MBG yang dilayani Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Parangtritis KM 15, Padukuhan Kategan, Kalurahan Patalan, Kapanewon Jetis, Bantul, Senin (13/4/2026).
Kepala SMPN 3 Jetis, Widodo, mengatakan dugaan keracunan bermula saat siswa dan guru mengonsumsi MBG seperti biasa pada Senin (13/4/2026), lalu pulang ke rumah masing-masing setelah kegiatan belajar selesai.
"Selanjutnya pada Selasa (14/4/2026) pagi siswa dan guru kembali melaksanakan pembelajaran seperti biasanya," ungkapnya, Rabu (15/4/2026).
1. Sekitar pukul 08.00 WIB banyak siswa yang izin ke toilet karena diare

Sekitar pukul 08.00 WIB, banyak siswa mengeluh sakit perut dan diare hingga izin ke toilet. Sejumlah guru juga mengalami keluhan serupa, sehingga proses belajar mengajar terganggu.
"Karena banyak siswa yang izin ke toilet dengan alasan sakit perut dan mual-mual serta pusing akhirnya guru membawa siswa ke Puskesmas Jetis 2 untuk mendapatkan penanganan medis. Namun jumlahnya terus bertambah siswa yang merasa mual dan diare sehingga langsung dibawa ke Puskesmas Jetis 2," ujar Widodo.
2. 30 guru juga terdampak keracunan usai mengonsumsi MBG

Widodo menjelaskan kegiatan belajar mengajar dihentikan karena kondisi tidak kondusif. Siswa kemudian dipulangkan ke rumah masing-masing.
"Jadi siswa yang diduga keracunan itu ada 75 anak dan untuk guru ada sekitar 30 guru. Penerima manfaat MBG di SMPN 3 Jetis sebanyak 658 siswa dan 50 guru," ungkapnya.
"Karena banyak siswa dan guru yang mengeluh gejala yang mengarah keracunan makanan maka penyaluran MBG pada hari Selasa (14/4/2026) kita minta untuk distop dahulu dari SPPG," tambahnya.
Ia menyebut dugaan sementara keracunan berasal dari lauk ayam bakar yang dibagikan dalam menu MBG karena diduga tidak segar. Namun, kepastiannya masih menunggu hasil laboratorium.
"Dari siswa dan guru yang terdampak keracunan MBG mereka bilang lauk ayam bakar terasa agak bau basi," tandasnya.
3. Siswa dan guru yang diduga keracunan diperbolehkan tidak masuk sekolah

Widodo mengatakan siswa dan guru yang diduga mengalami keracunan diperbolehkan beristirahat di rumah. Sementara itu, siswa yang tidak terdampak tetap mengikuti kegiatan belajar seperti biasa.
"Kita beri kesempatan untuk memulihkan kesehatan dan psikisnya terlebih dahulu (boleh tidak masuk sekolah)," tuturnya.
Ia menambahkan penyaluran MBG untuk sementara ditiadakan hingga batas waktu yang belum ditentukan, sesuai informasi dari SPPG.
"Jadi kita diberitahu SPPG bahwa penyaluran MBG dihentikan sementara hingga batas waktu yang tidak ditentukan," tandasnya.
4. Guru yang tidak mengalami gejala keracunan sedang puasa sehingga tidak konsumsi MBG

Salah satu guru SMPN 3 Jetis berinisial R mengaku mengalami gejala keracunan seperti mual dan diare hingga bolak-balik ke toilet sekolah.
"Jadi guru yang diduga terdampak keracunan MBG ada sekitar 30 orang dan sisanya tidak mengkonsumsi MBG karena berpuasa tetap aman," ujarnya. "Saya tidak berobat meski sempat diare beberapa kali sama seperti siswa dan guru lainnya," tambahnya.
Sementara, Ketua SPPG, Hanif Saka, enggan berkomentar banyak terkait dugaan keracunan tersebut.
"Secepatnya kita akan membuat pers rilisnya. Nanti pokoknya kita kasih informasi secepatnya kepada media," katanya.


















