- Golden Mahaditya Award: Niat Ingsun Ngaji karya Sri Rahmawati (Cilacap, Jawa Tengah)
- Silver Mahaditya Award: Naijan on Hai Aina karya Wisnu Febri Wardana (Timor Tengah Selatan, NTT)
- Jury Special Mention: Hope karya Angel Ching (Yogyakarta, DIY)
KHFF 2026 Diserbu Penonton hingga Website Down, Ini Para Juaranya

- KHFF 2026 berakhir pada 19 September di Yogyakarta setelah digelar tiga hari di Pasar Terban dan Gedung PDIN, dengan animo publik tinggi hingga beberapa program melebihi kapasitas.
- Festival menerima rekor 184 film dari 21 provinsi, memilih 27 film untuk delapan program pemutaran, serta mengusung kontekstualisasi heritage melalui film, diskusi, dan lokakarya.
- Pemenang utama kompetisi adalah Niat Ingsun Ngaji karya Sri Rahmawati untuk Mahaditya, Bong karya Destian Rendra untuk Karyanagri, dan Mupusti karya Ilya Fathimah Taqiyya untuk Purwaseswa.
Yogyakarta, IDN Times - Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 resmi menutup rangkaian penyelenggaraan keempatnya lewat Closing & Awarding Night di Gedung PDIN Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026). Festival Report sekaligus pengumuman pemenang kompetisi disampaikan kepada media di ARTOTEL Suites Bianti, Yogyakarta, pada hari yang sama.
Festival yang digelar Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta sejak 17 September ini berlangsung di dua lokasi, Pasar Terban dan Gedung PDIN. Sepanjang tiga hari penyelenggaraan, panitia mencatat sejumlah pencapaian sekaligus mengumumkan pemenang dari tiga kategori kompetisi. Berikut rangkumannya.
Animo publik di luar ekspektasi

Taklimat Media penutupan Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 di Kota Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026). (Dok. KHFF) Pembukaan festival digelar lewat Becak Drive-In Cinema di Pasar Terban, dengan Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja sebagai film pembuka. Sekitar seribuan pengunjung datang menyaksikan pengalaman menonton yang tak biasa ini, duduk di atas becak listrik yang disulap jadi kursi bioskop terbuka. Pasar Terban pun untuk sementara berubah fungsi jadi ruang sinema sekaligus ruang temu warga.
Direktur Festival KHFF 2026, Siska Raharja, mengungkapkan animo itu berlanjut di hari kedua. Dari tujuh program yang digelar di PDIN, tercatat total 321 peserta dari target kapasitas 350 orang, setara okupansi 91,7 persen. Bahkan sejumlah program okupansinya tembus 124 persen lantaran penonton membeludak hingga panitia terpaksa menambah kursi. Antusiasme serupa juga tercatat di hari ketiga penyelenggaraan.
"Antusiasme ini penting bagi kami karena menunjukkan bahwa pembicaraan mengenai film dan heritage semakin mendapatkan ruang di tengah publik. Tantangan KHFF sejak awal bukan hanya memperkenalkan apa itu warisan budaya, tetapi membuat kita menyadari bahwa heritage sebenarnya hidup sangat dekat dengan keseharian kita," jelas Siska.
Tingginya minat publik juga terlihat dari sistem pendaftaran daring yang baru pertama kali diterapkan KHFF tahun ini lewat situs resmi khffest.id. Menurut Siska, jumlah pendaftar yang membeludak bahkan sempat membuat situs itu tidak bisa diakses.
"Pendaftarannya sangat membludak sampai website sempat down, dan itu hal yang cukup mengagetkan di tahun keempat ini," katanya.
Perjalanan kuratorial dan ragam program yang ditayangkan

Taklimat Media penutupan Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 di Kota Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026). (Dok. KHFF) Direktur Program KHFF 2026, Suluh Pamuji, menjelaskan bahwa tema besar "Kontekstualisasi" yang diusung tahun ini merupakan puncak dari perjalanan kuratorial empat tahun festival, dimulai dari Introduksi pada 2023, berlanjut ke Interaksi, lalu Posisi, hingga akhirnya Kontekstualisasi pada 2026. Menurutnya, sejak awal KHFF tidak ingin berhenti sekadar pada urusan melestarikan warisan budaya.
"Kami selalu berorientasi tidak berhenti pada pelestarian, tetapi heritage itu selalu diorientasikan pada masa depan," ujar Suluh.
Dari sisi jumlah karya, KHFF 2026 menerima 184 film submission, jumlah tertinggi sepanjang empat tahun penyelenggaraan festival ini. Dari jumlah tersebut, terpilih 27 film untuk ditayangkan, terdiri dari 24 film nasional dan tiga film internasional, yang tersebar dalam delapan program pemutaran dan enam sesi tanya jawab dua arah. Sebagian besar sineas yang karyanya diputar turut hadir dalam sesi tanya jawab tersebut.
Selain program kompetisi, festival juga menghadirkan program non-kompetisi seperti Heritage in Indonesian Cinema, Heritage in Experimental Cinema, dan Panorama, serta tiga program non-pemutaran berupa Director Talk "Mistik Melampaui Ketakutan" bersama Wregas Bhanuteja, Heritage Workshop: Stop Motion, dan Heritage Talk "Merawat yang Hidup" bersama kurator Zaki Habibi dan Suluh Pamuji sendiri.
Suluh menambahkan, pendekatan kurasi tahun ini tak lagi memandang warisan budaya sekadar sebagai objek yang direkam dalam film.
"Penyelenggaraan tahun ini tidak hanya mencari film yang menampilkan heritage sebagai objek, tetapi juga melihat bagaimana sinema dapat menjadi cara untuk membaca kembali hubungan manusia dengan sejarah, lingkungan, tradisi, dan perubahan sosial," katanya.
Soal asal karya, film yang masuk berasal dari 21 provinsi di lima wilayah besar Indonesia. Yogyakarta jadi penyumbang terbanyak dengan 46 film, disusul Jawa Timur (32 film), Jawa Tengah (30 film), dan Jawa Barat (29 film). Di luar Jawa, submission juga datang dari berbagai daerah seperti Sumatera Utara, Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Bali, Nusa Tenggara Timur, sampai Sulawesi Selatan.
Kolaborasi lintas sektor jadi kunci penyelenggaraan

Taklimat Media penutupan Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026 di Kota Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026). (Dok. KHFF) Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyebut kolaborasi lintas sektor jadi kunci di balik penyelenggaraan KHFF tahun ini, terutama di tengah keterbatasan anggaran yang dihadapi pemerintah daerah.
"Kalau di pemerintah itu isu efisiensi, kemudian terjawab dengan kolaborasi juga," ujar Yetti saat menjelaskan alasan festival dipusatkan di dua lokasi, Pasar Terban dan PDIN, tahun ini.
Kolaborasi tersebut digalang bersama lima instansi pemerintah, yaitu Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Dinas Perhubungan DIY, Kementerian Kebudayaan RI, Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta, serta Dinas Perindustrian, Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah Kota Yogyakarta. Selain itu, festival turut didukung satu mitra korporasi dan 12 mitra perhotelan yang membantu akomodasi para sineas dari berbagai daerah.
Dari sisi tim penyelenggara, KHFF 2026 dijalankan oleh 20 orang tim inti festival bersama 68 volunteer yang terpilih dari lebih 700 pendaftar. Struktur tim yang lebih ramping ini diklaim membuat kerja tim jadi lebih fokus, sekaligus membuka ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam ekosistem festival film.
Menurut Yetti, film jadi medium yang tepat untuk membuka ruang pemaknaan warisan budaya yang lebih luas dan personal.
"Heritage tidak hadir dalam satu bentuk atau satu perspektif. Ia dapat lahir dari pengalaman personal, keluarga, komunitas, lembaga pendidikan, maupun institusi negara. Yang ingin kami lihat adalah bagaimana film membuat warisan tersebut kembali berbicara dengan kehidupan hari ini," paparnya.
Daftar Pemenang Kompetisi KHFF 2026

Poster film Niat Ingsun Ngaji, pemenang kategori Mahaditya KHFF 2026. (Dok. KHFF) Ada tiga kategori kompetisi yang dilombakan tahun ini, masing-masing merepresentasikan sudut pandang berbeda terhadap warisan budaya. Mahaditya jadi ruang untuk karya independen, Karyanagri menampung film yang didukung lembaga negara atau pemerintah, sementara Purwaseswa dikhususkan untuk karya pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.
Mahaditya Awards
Juri Muhammad Zamzam Fauzanafi menekankan, "Heritage bukan sesuatu yang selesai atau beku, melainkan sesuatu yang terus dihidupi, diperdebatkan, dirawat, dan diwariskan."
Karyanagri Awards
Juri Imam Karyadi menilai, "Pertanyaan pentingnya bukan semata-mata seberapa kuat negara hadir dalam merawat heritage, melainkan bagaimana kehadiran negara dapat berhubungan dengan pengetahuan, agensi, dan mekanisme perawatan yang telah hidup di dalam masyarakat."
- Golden Karyanagri Award: Bong karya Destian Rendra (Malang, Jawa Timur)
- Silver Karyanagri Award: Mateos Anin karya Gilang Akbar (Banyumas, Jawa Tengah)
- Jury Special Mention: Khatib Gantarang Lalang Bata karya Zhaddam A. Nurdin (Makassar, Sulawesi Selatan)
Purwaseswa Awards
Juri Nissa Fijriani mengatakan, "Yang lebih penting adalah bagaimana film menyusun gagasan, mengamati kehidupan, merekam pengetahuan, serta membuka kemungkinan untuk menjadi arsip yang dapat dibaca kembali oleh generasi mendatang."
- Golden Purwaseswa Award: Mupusti: Melestarikan dan Merawat, Bukan Menyembah karya Ilya Fathimah Taqiyya (Bandung, Jawa Barat)
- Silver Purwaseswa Award: Serada karya Septiyani Putri (Kebumen, Jawa Tengah)
- Jury Special Mention: Tuwuhè Rarè (Anak yang Bertumbuh) karya Gede Dika Dheva Ariadi (Denpasar, Bali)
Malam penghargaan tersebut ditutup dengan penampilan musik dari Sawung Jabo & Sirkus Barock, sekaligus jadi ruang pertemuan terakhir bagi para pemenang, sineas, komunitas, volunteer, dan mitra yang terlibat sepanjang festival.


















