KHFF 2026 Tegaskan Warisan Budaya Bukan Cuma Soal Masa Lalu

- KHFF 2026 digelar 17-19 September di Kotabaru, Yogyakarta, memakai film untuk menghidupkan kawasan cagar budaya dan memaknai heritage sebagai nilai yang relevan bagi generasi kini.
- Festival mengandalkan kolaborasi meski anggaran menipis; program EduScreen meraih 300 pendaftar dalam dua hari, sementara Drive-In Cinema kembali hadir dengan dukungan sineas dan Netflix.
- Dari 184 film yang masuk, 19 karya terpilih untuk kompetisi dan panorama; KHFF juga menampilkan film Indonesia-Belanda tentang repatriasi, pemutaran, workshop, diskusi, serta pertunjukan penutup gratis.
Yogyakarta, IDN Times - Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) kembali digelar untuk keempat kalinya oleh Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Festival film tahunan bertema warisan budaya ini akan berlangsung pada 17-19 September 2026 di Pasar Terban dan Gedung PDIN, Kotabaru, Yogyakarta.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti, menyebut KHFF sebagai bagian dari strategi menghidupkan kawasan cagar budaya Kotabaru lewat aktivitas yang relevan dengan masyarakat hari ini.
"Film menjadi medium yang strategis karena tidak hanya mendokumentasikan warisan budaya, tetapi juga membuka ruang bagi generasi baru untuk mengenal, menafsirkan, dan membicarakannya kembali. Karena itu, kami melihat sinergi antara heritage, film, dan ruang kota sebagai bagian penting dalam menjaga kawasan cagar budaya tetap hidup dan memiliki makna bagi masyarakat," ujar Yetti dalam taklimat media KHFF 2026 yang digelar di Kota Yogyakarta, Kamis (10/9/2026) sore.
Heritage menjadi nilai tradisi yang terus dihidupkan di masa kini

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti (tengah), dalam taklimat media Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026, Kamis (10/9/2026) sore. (Dok. KHFF) Ia juga mengakui, anggaran dan dana keistimewaan untuk festival ini kian menipis. Namun, jumlah program yang dihadirkan justru bertambah Untuk mengatasi keterbatasan sumber daya, KHFF menjalin kolaborasi dengan banyak pihak.
"PR kami adalah bagaimana membumikan pemaknaan heritage agar mudah dipahami masyarakat luas melalui film. Heritage bukan sekadar masa lalu yang kuno, melainkan nilai-nilai tradisi yang tetap dihidupkan oleh generasi muda saat ini," katanya.
Yetti mencontohkan becak listrik yang dipakai sebagai kursi bioskop di Becak Drive-In Cinema. Becak tersebut bukan kendaraan baru, melainkan becak kayuh yang sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda, hanya ditambah tenaga penguat listrik. Menurutnya, becak listrik menjadi warisan budaya yang kontekstual.
"Artinya, bagaimana kemudian kami menghadirkan becak listrik dengan tenaga listrik yang mungkin dulu pada masa lalu menggunakan becak kayuh. Sekarang, karena terkait dengan konteks hari ini yang harus diselaraskan, bagaimana pengemudi becak juga mungkin tidak seperti dulu," jelas Yetti.
Tren sinema bawa identitas budaya lokal

Direktur Festival KHFF, Siska Raharja (tengah), dalam taklimat media Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026, Kamis (10/9/2026) sore. (Dok. KHFF) Direktur Festival KHFF, Siska Raharja, menyoroti tren sinema dunia yang belakangan justru kembali mencari identitas lokal di tengah arus globalisasi.
"Sinema dunia saat ini justru mencari sebuah perbedaan, dan itu ada pada identitas. Semakin banyak filmmaker yang berani membawa identitas dan budaya lokal ke dalam film melalui bahasa, tradisi, sejarah, dan perspektif komunitasnya sendiri. Yang juga penting, komunitas tidak lagi sekadar menjadi objek yang direkam, tetapi semakin memiliki ruang sebagai pemilik perspektif dan pencipta cerita," ujarnya.
Menurut Siska, tren itu tidak lepas dari data Warisan Budaya Takbenda yang belakangan jadi rujukan banyak pembuat film.
"Film-film yang memiliki identitas itu sekarang kembali ke warisan budaya masing-masing, dari bahasa, tingkah laku, dan semuanya, dari Warisan Budaya Takbenda yang UNESCO katakan ada di 77 negara saat ini, dengan 64 di antaranya telah dicatat," jelasnya.
Siska menyebut geliat serupa juga tergambar dari respons publik terhadap KHFF tahun ini, termasuk program baru KHFF EduScreen yang menyasar pelajar, mahasiswa, dan komunitas yang datang berombongan, lengkap dengan e-sertifikat dari Dinas Kebudayaan dan snack kit untuk tiap peserta.
"Pada tahun keempat ini, hampir seluruh program berjalan melalui kolaborasi. Hasilnya sangat positif, contohnya program KHFF EduScreen yang baru dibuka dua hari pendaftarannya sudah mencapai 300 peserta. Kami juga menghadirkan kembali Drive-In Cinema yang sempat viral pada penyelenggaraan tahun 2023, dan sineas internasional seperti Wregas Bhanuteja serta platform streaming Netflix turut mendukung penuh penyelenggaraan KHFF 2026," katanya.

Direktur Program KHFF, Suluh Pamuji, dalam taklimat media Kotabaru Heritage Film Festival (KHFF) 2026, Kamis (10/9/2026) sore. (Dok. KHFF) Sementara itu, Direktur Program KHFF, Suluh Pamuji, mengungkapkan proses kurasi tahun ini menyaring 184 film yang masuk lewat submission menjadi 19 film. Sebanyak 15 film masuk program kompetisi yang terbagi dalam tiga kategori, yaitu Mahaditya untuk suara independen, Karya Nagri untuk representasi pemerintah yang berkolaborasi dengan masyarakat, dan Purwasiswa untuk sudut pandang pelajar. Empat film lainnya ditempatkan di program non-kompetisi, KHFF Panorama.
"Tantangannya adalah menemukan karya yang memenuhi kualifikasi sinematik sekaligus memuat kriteria heritage secara tepat," kata Suluh.
Selain film hasil submission, KHFF 2026 juga menghadirkan lima film co-production Indonesia-Belanda dalam program Heritage in Experimental Cinema, merespons isu repatriasi yang belakangan ramai dibicarakan.
"Repatriasi itu barang yang dulunya di sini, lalu diambil dan dipulangkan lagi. Tahun ini momentum repatriasi sepertinya harus direspons di KHFF," jelas Suluh.
Ia menegaskan gagasan besar KHFF 2026, Contextualization, berangkat dari cara memandang heritage bukan sebagai warisan yang statis.
"KHFF 2026 mengajak kita tidak sekadar melihat warisan sebagai sesuatu yang harus dijaga, tetapi juga mempertanyakan siapa yang mewarisi, siapa yang menentukan, siapa yang memiliki, dan bagaimana warisan itu dapat terus hidup tanpa kehilangan keberagamannya," ujarnya.
Rangkaian acara KHFF 2026 dibuka pada 17 September dengan Jelajah Kotabaru menggunakan becak listrik, sebelum dilanjutkan pemutaran film pembuka Para Perasuk karya Wregas Bhanuteja lewat Becak Drive-In Cinema di Pasar Terban. Pada 18-19 September, program pemutaran film, workshop, dan diskusi berpindah ke Gedung PDIN mulai pukul 13.00 WIB hingga malam. Festival ditutup pada 19 September dengan penampilan Sawung Jabo & Sirkus Barock, sekaligus memperingati 50 tahun perjalanan Sirkus Barock dan usia Sawung Jabo yang menginjak 75 tahun.
Seluruh rangkaian KHFF 2026 tidak dipungut biaya. Informasi lengkap program dan jadwal bisa dipantau lewat Instagram @kotabaruheritagefilmfestival atau situs khffest.id.


















