Sejarah Cherrypop Festival, Bermula 2022 Kini Jadi Lebaran Skena

- Cherrypop Festival adalah ajang musik dan budaya tahunan di Yogyakarta gagasan Swasembada Kreasi, yang mempertemukan musisi, seni visual, film, kuliner, serta subkultur anak muda.
- Dimulai pada 25 Juni 2022 di Bantul pascapandemi, Cherrypop berkembang lewat program lintas disiplin seperti Rekam Skena, record store, pameran, kelas, dan ruang jurnalisme musik.
- Memasuki penyelenggaraan kelima pada 2026, Cherrypop bertema “Repelita Musik” digelar di Candi Prambanan dengan special set dan kolaborasi, sambil mempertahankan musik sebagai pintu ekosistem kreatif.
Cherrypop Festival mungkin sudah akrab di kalangan penikmat musik dan skena di Jogja. Namun, festival ini ternyata punya perjalanan panjang sebelum tumbuh sebesar sekarang. Ada cerita menarik di balik kemunculannya yang mungkin belum banyak diketahui.
Sejak awal, Cherrypop tidak hanya ingin menjadi tempat untuk menonton pertunjukan musik. Festival ini berkembang bersama komunitas, musisi, dan berbagai elemen yang membuat skena musik terasa hidup. Lalu, dari mana sebenarnya perjalanan Cherrypop dimulai? Yuk, simak selengkapnya berikut ini!
1. Apa itu Cherrypop Festival?

Sejarah Cherrypop Festival (instagram.com/cherrypopfest) Cherrypop Festival adalah festival musik dan budaya tahunan di Yogyakarta yang digagas oleh Swasembada Kreasi. Di sini, musik menjadi pintu masuk untuk mempertemukan berbagai kreativitas, mulai dari musisi, perupa, pembuat film, hingga pegiat kuliner. Beragam bidang tersebut hadir dalam satu ruang untuk berkreasi, berdialog, dan berbagi energi.
Lebih dari sekadar tempat menikmati pertunjukan musik, Cherrypop juga menjadi ruang bagi subkultur anak muda untuk bertemu dan membangun jejaring. Setiap elemennya membawa cerita, gagasan, dan cara pandang yang kemudian bertemu dalam semangat kolaborasi. Karena itu, Cherrypop bukan hanya tentang festival, tetapi juga tentang bagaimana musik dan budaya bisa menjadi ruang untuk merayakan keberagaman.
Menariknya, nama Cherrypop sendiri ternyata tak punya makna khusus. “Cherrypop Fun” dipilih karena namanya mudah diucapkan dan gampang diingat, sederhana, tapi kemudian melekat pada perjalanan festival ini.
2. 2022 — Awal Mula Cherrypop

Cherrypop Festival 2022. (Dok. Istimewa) Cherrypop pertama kali digelar pada 25 Juni 2022 di Panggung Alpha Bravo, Jalan Parangtritis, Bantul. Saat itu, Cherrypop hadir setelah dua tahun pandemi dengan semangat mengubah kepanikan dan keterbatasan menjadi energi positif. Konsepnya sejak awal memang tidak hanya menghadirkan musik, tetapi juga pemutaran film dokumenter, pop-up market, records store, dan pameran seni.
Musiknya sendiri mempertemukan band dari berbagai daerah dengan Yogyakarta sebagai melting point. Ada Silampukau dari Surabaya, The Dare dari Mataram, Teenage Death Star dari Bandung, serta Melancholic Bitch, Skandal, dan Sangkakala dari Jogja. Salah satu program pentingnya adalah Rekam Skena, yang menayangkan lima film dokumenter tentang skena musik Jogja.
3. 2023 — Swasembada Musik
Jumpa pers Cherrypop Festival 2023 'Swasembada Musik'. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Setahun kemudian, Cherrypop kembali hadir pada 19–20 Agustus 2023 di Asram Edupark. Di tahun ini, mereka menggelar tema “Swasembada Musik” yang mengambil gagasan tentang kemandirian dari istilah “swasembada pangan”, dan menerjemahkannya ke dalam konteks skena musik, yakni tentang bagaimana ekosistem musik bisa tumbuh, bekerja, dan menciptakan ruangnya sendiri.
Konsepnya semakin luas dengan 42 penampil dari berbagai genre. Di tahun tersebut juga menjadi penanda Cherrypop Festival yang kian besar dengan berdirinya tiga panggung, toko rilisan fisik yang melibatkan puluhan record store, pemutaran dokumenter Rekam Skena, hingga berbagai aktivitas lintas disiplin. Ada pula kolaborasi dengan Mojok yang menghadirkan kelas menyambal, melipat kain, melipat daun, menari, dan live podcast.
4. 2024 — Selamet Bermusik
Penampilan Seringai dalam event Cherrypop 2024 di Lapangan Kenari, Minggu (11/8/2024). (Dok. Istimewa) Memasuki tahun ketiga, Cherrypop membawa tema “Selamet Bermusik” dan digelar pada 10–11 Agustus 2024. Tak lagi di tempat semula, melainkan di Lapangan Panahan Kenari, Yogyakarta. Tahun ini terasa seperti perayaan untuk musisi dan band yang telah bertahan serta memberi pengaruh dalam perjalanan musik independen Indonesia.
Ada 41 nama dalam keseluruhan line-up, termasuk sejumlah band yang mendapat ruang khusus untuk merayakan usia karya mereka. Majelis Lidah Berduri merayakan 15 tahun Balada Joni dan Susi, Risky Summerbee & The Honeythief merayakan 15 tahun The Place I Wanna Go, sementara Seringai merayakan dua dekade High Octane Rock. Cherrypop juga melanjutkan program lintas ekosistem seperti Pena Skena, yang memberi ruang bagi jurnalis musik muda untuk mencatat dan membicarakan skena dari perspektif pelakunya sendiri.
5. 2025 — Gelanggang Musik

Crowd penonton Cherrypop 2025. (Official Dokumentasi Cherrypop 2025) Pada 2025, Cherrypop mengangkat tema “Gelanggang Musik” yang terinspirasi dari Surat Kepercayaan Gelanggang tahun 1950. Gagasan ini membawa Cherrypop pada pembicaraan yang lebih luas. Bukan sekadar musik, tapi juga kebudayaan dengan musik sebagai pintu masuk untuk mempertemukan seni visual, film, fesyen, merchandise, desain, zine, hingga gerakan kolektif.
Festival yang berlangsung 9–10 Agustus 2025 tersebut kemvali bertempat di Lapangan Panahan Kenari. Namun, mereka memperluas format panggungnya dengan menghadirkan Chilli Stage, ruang intim yang ditujukan untuk format musik di luar struktur band. Ada pula kolaborasi khusus antara musisi dan seniman visual, misalnya The Adams dengan Eko Nugroho dan FSTVLST dengan Angki Pu.
6. 2026 — Repelita Musik

Penampilan Majelis Lidah Berduri di Cherrypop Festival 2026, Sabtu (22/8/2026). (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo) Tahun ini, Cherrypop memasuki penyelenggaraan kelima dengan tema “Repelita Musik". Menarik, festival ini mengambil lokasi yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, yakni Candi Prambanan pada 22–23 Agustus 2026. Tema tersebut menjadi babak baru perjalanan Cherrypop, sementara format festivalnya tetap mempertahankan gagasan tentang musik sebagai pintu masuk menuju berbagai ekosistem kreatif.
Ada yang menarik dari program tahun ini dengan semakin berani bermain dengan special set dan kolaborasi. Beberapa contohnya adalah FSTVLST yang membawakan album Paradoks Diametral secara utuh, Reality Club dengan special set album What Do You Really Know?, serta Jimi Multhazam yang membawa proyek solonya, Mollydenvm, ke panggung Cherrypop 2026.
Setiap tahun, Cherrypop datang dengan tema yang berbeda, tetapi semangatnya tetap sama yakni merayakan musik, kreativitas, dan orang-orang di baliknya. Dari festival kecil hingga menjadi ruang temu yang dinanti, perjalanannya menunjukkan bagaimana skena musik terus tumbuh dan berubah. Pada akhirnya, Cherrypop bukan sekadar festival tahunan, melainkan bagian dari cerita perjalanan musik dan budaya anak muda di Jogja.


















