Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Pakualaman Kecamatan Terkecil di Indonesia, Tempat Tinggal Adipati Paku Alam

Kota Yogyakarta
Pakualaman Kecamatan Terkecil di Indonesia, Tempat Tinggal Adipati Paku Alam
Persiapan Dhaup Ageng di Pura Pakualaman. (IDN Times/Herlambang Jati Kusumo)
  • Pakualaman di Kota Yogyakarta memiliki luas 0,63 km² atau 63 hektare, menjadikannya kecamatan terkecil di DIY dan Indonesia, sekitar 1,94 persen dari luas kota.
  • Kawasan ini berpusat pada Puro Pakualaman, istana sekaligus pusat Kadipaten Pakualaman; kini terdiri atas Kelurahan Gunungketur dan Purwokinanti dengan tujuh kampung.
  • Pakualaman menawarkan Museum Puro, kawasan cagar budaya, aktivitas di Kampung Wisata Gunungketur, serta kuliner tradisional seperti jamu, enting-enting, Gudeg Permata, dan Ayam Goreng Bu Tini.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Di tengah ramainya Kota Yogyakarta, terdapat kawasan yang luas wilayahnya tak sampai satu kilometer persegi, yaitu Pakualaman. Jika diukur dari luasnya, bahkan lebih kecil dibandiing area Bandara Internasional Adisutjipto (YIA) dan Kompleks Gelora Bung Karno (GBK). Meski mungil, wilayah ini menyimpan jejak sejarah yang mempunyai banyak kisah

Nama Pakualaman tentu sudah tak asing bagi masyarakat Yogyakarta, karena berkaitan erat dengan trah Mataram Islam. Selain itu, lokasinya yang berada di tengah denyut kehidupan perkotaan Yogyakarta, menjadikannya cukup mudah buat dikunjungi. Lantas, seperti apa Kecamatan Pakualaman dan apa saja yang menarik dari wilayah mungil ini?

  1. 1. Pakualaman jadi kecamatan wilayah terkecil di DIY dan Indonesia

    Kadipaten Pakualaman, wilayah pecahan dari Ngayogyakarta Hadiningrat (dpad.jogjaprov.go.id)
    Kadipaten Pakualaman, wilayah pecahan dari Ngayogyakarta Hadiningrat (dpad.jogjaprov.go.id)

    Secara administratif, luas Pakualaman hanya 0,63 km² atau setara dengan 63 hektare. Hal ini lantas membuat Pakualaman menjadi kecamatan dengan wilayah terkecil di Kota Yogyakarta, bahkan di Indonesia. Angka tersebut mungkin terdengar kecil untuk ukuran sebuah kecamatan atau yang di Yogyakarta bisa disebut Kemantren, apalagi jika dibandingkan dengan luas wilayah perkotaan secara keseluruhan.

    Nah, kalau disandingkan dengan luas Kota Yogyakarta yang punya luas wilayah sekitar 32,5 km², wilayah Pakualaman hanya mencakup sekitar 1,94 persen dari keseluruhan kota. Artinya, porsi ruang Kecamatan Pakualaman di dalam wilayah administratif Kota Yogyakarta memang relatif kecil. Namun ibarat pepatah 'kecil-kecil cabai rawit, meski mungil, di kawasan ini terdapat lingkungan permukiman, aktivitas masyarakat, serta jejak sejarah yang menarik buat ditelusuri.

  2. 2. Sejarah terbentuknya wilayah Pakualaman

    Ijab kabul dhaup ageng Pakualaman. (Dok. Tim Dhaup Ageng Pakualaman 2024)
    KGPAA Paku Alam X dan GKBRAA Paku Alam. (Dok. Tim Dhaup Ageng Pakualaman 2024)

    Nama Kecamatan Pakualaman tidak bisa dilepaskan dari keberadaan Puro Pakualaman sebagai Kompleks Istana Keluarga Paku Alam, sekaligus menjadi pusat pemerintahan Kadipaten Pakualaman. Dalam perkembangannya, Kecamatan Pakualaman kini terdiri dua kelurahan, yakni Gunungketur dan Purwokinanti,yang terbagi menjadi tujuh kampung.

    Kadipaten Pakualaman merupakan salah satu dari empat kerajaan berstatus swapraja pada masa kolonial Belanda, bersama Kasunanan Surakarta, Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat, dan Praja Mangkunegaran. Puro Pakualaman dibangun dengan pola dasar kompleks kerajaan yang mencakup istana, alun-alun, masjid, dan pasar sebagai bagian dari kehidupan masyarakat di sekitarnya. Hingga kini, Puro Pakualaman masih menjadi kediaman Sri Paduka Paku Alam X beserta keluarganya sebagai keturunan Paku Alam I.

    Jejak sejarah tersebut turut membentuk karakter kampung di Kecamatan Pakualaman yang memiliki kemiripan dengan kawasan Mangkunegaran, terutama dalam tradisi dan penamaan wilayah atau toponimi.

    Di Kelurahan Gunungketur terdapat Kampung Margoyasan, Gunungketur, dan Kauman, sedangkan Kelurahan Purwokinanti mencakup Kepatihan, Jagalan Beji, Purwokinanti, dan Jagalan Ledoksari.

  3. 3. Daya tarik Kecamatan Pakualaman

    Jemparingan menjadi salah satu aktivitas seru bagi wisatawan di Jogja
    Aktivitas Jemparingan di Pura Pakualaman Yogyakarta (instagram/purapakualaman)

    Meski dikenal sebagai kecamatan dengan wilayah terkecil di Kota Yogyakarta, Pakualaman menawarkan perpaduan antara warisan kerajaan, kampung wisata, bangunan bersejarah, hingga kuliner yang hidup berdampingan dengan aktivitas masyarakat.

    Saat berkunjung ke Pakualaman bukan hanya melihat Puro Pakualaman, tetapi juga menikmati cerita yang tersebar di kawasan sekitarnya. Di sini kamu bisa melakukan banyak hal, antara lain:

    • Mengunjungi Museum Puro Pakualaman

    Mengenal Pakualaman rasanya belum lengkap tanpa melihat lebih dekat Puro Pakualaman dan museumnya. Museum Puro Pakualaman berada di Kompleks Puro Pakualaman dan menyimpan berbagai koleksi yang berkaitan dengan sejarah keluarga Paku Alam, seperti kereta, benda istana, serta perlengkapan kebesaran. Berdasarkan data Wajib Kunjung Museum DIY, museum ini buka Senin hingga Jumat pukul 09.00–14.30 WIB dan Sabtu pukul 09.00–12.00 WIB.

    • Menyusuri Kawasan Cagar Budaya Pakualaman

    Ingin menikmati Pakualaman dengan cara lebih santai, berjalan menyusuri kawasan cagar budayanya bisa menjadi pilihan. Kawasan ini mencakup sejumlah bangunan dan ruang bersejarah, seperti Puro Pakualaman, Alun-Alun Sewandanan, Masjid Agung Pakualaman, serta sejumlah dalem yang berkaitan dengan sejarah kadipaten. Tak jarang, komunitas tur jalan kaki di Yogyakarta turut menawarkan rute Pakualaman untuk mengenalkan betapa menariknya daerah yang satu ini.

    • Menjajal aktivitas budaya di Kampung Wisata Gunungketur

    Seperti di kawasan dalam Kota Yogyakarta lainnya, Pakualaman juga memiliki Kampung Wisata. Namanya adalah Kampung Wisata Gunungketur yang menawarkan pengalaman budaya berbasis kehidupan masyarakat setempat. Di sini ada banyak pilihan aktivitas seperti jemparingan, workshop membatik, membuat jamu tradisional, hingga jelajah kampung, tergantung paket dan agenda yang sedang tersedia.

    • Berburu kuliner tradisional

    Setelah puas menjelajahi kawasan bersejarah, berburu makanan tradisional bisa menjadi penutup yang menyenangkan. Dilansir dari berbagai sumber, ada banyak sekali kuliner yang menjadi potensi Kampung Wisata Pakualaman. Di antaranya jamu tradisional Jamu Ginggang, enting-enting, Gudeg Permata, dan kuliner Sewandanan. Salah satu yang cukup dikenal adalah Gudeg Permata di kawasan Purwokinanti, sementara Ayam Goreng Bu Tini juga berada di Jalan Sultan Agung, Gunungketur, Pakualaman

    Pakualaman mungkin menjadi kecamatan dengan wilayah terkecil di Indonesia, tapi cerita di dalamnya sungguh menarik. Dari jejak Kadipaten Pakualaman hingga kampung, budaya, dan kuliner yang menggugah selera, kawasan ini menawarkan banyak hal untuk dikenali. Yuk, main ke Pakualaman?

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More