Kekeringan di Gunungkidul sudah menjadi masalah klasik yang terjadi setiap kemarau tiba. Sebagian warga harus mengambil air dari sumber yang jaraknya berkilo-kilometer. Bahkan, mereka harus menjual ternaknya demi membeli air bersih.
Padahal, di bawah permukaan tanah Gunungkidul mengalir sungai bawah tanah dengan debit yang bisa mencapai ribuan liter per detik. Meski memiliki cadangan air melimpah, masyarakat di permukaan justru kesulitan mengaksesnya.
Kondisi ini bukan disebabkan minimnya sumber air, melainkan karakteristik batuan karst yang mendominasi wilayah Gunungkidul. Lalu, mengapa kabupaten yang menjadi bagian dari kawasan Karst Gunung Sewu identik dengan kekeringan saat musim kemarau? Berikut penjelasan geologinya.
