Kenapa Gunungkidul Sering Kekeringan Meski Bawah Tanahnya Kaya Air?

- Gunungkidul kerap kekeringan saat kemarau karena batuan karst kapur berpori membuat air hujan cepat meresap, sehingga sumber air permukaan sangat terbatas.
- Air yang meresap membentuk sungai bawah tanah seperti Bribin, Baron, Seropan, dan Ngobaran, dengan total debit lebih dari 3.000 liter per detik.
- Cadangan air bawah tanah sulit dimanfaatkan karena letaknya dalam dan butuh teknologi serta biaya tinggi; wilayah selatan dan timur paling rentan krisis air.
Kekeringan di Gunungkidul sudah menjadi masalah klasik yang terjadi setiap kemarau tiba. Sebagian warga harus mengambil air dari sumber yang jaraknya berkilo-kilometer. Bahkan, mereka harus menjual ternaknya demi membeli air bersih.
Padahal, di bawah permukaan tanah Gunungkidul mengalir sungai bawah tanah dengan debit yang bisa mencapai ribuan liter per detik. Meski memiliki cadangan air melimpah, masyarakat di permukaan justru kesulitan mengaksesnya.
Kondisi ini bukan disebabkan minimnya sumber air, melainkan karakteristik batuan karst yang mendominasi wilayah Gunungkidul. Lalu, mengapa kabupaten yang menjadi bagian dari kawasan Karst Gunung Sewu identik dengan kekeringan saat musim kemarau? Berikut penjelasan geologinya.
Table of Content
1. Karst Gunung Sewu terbentuk dari dasar laut yang terangkat
Karst merupakan bentang alam yang terbentuk akibat pelarutan batuan karbonat oleh air selama jutaan tahun. Di Gunungkidul, batuan karbonat tersebut berupa batugamping atau batu kapur. Berdasarkan kajian geopark yang dipublikasikan dalam jurnal Teknik Geologi Universitas Mulawarman, batuan penyusun kawasan ini berasal dari Formasi Wonosari-Punung, yang terbentuk dari endapan karbonat dan terumbu karang di laut dangkal pada Kala Miosen hingga awal Pliosen.
Menjelang akhir Kala Pliosen, wilayah selatan Pulau Jawa mengalami pengangkatan (uplifting), yakni proses naiknya lapisan batuan dari dasar laut ke permukaan. Batugamping yang sebelumnya terendam laut kemudian terpapar air hujan dan mengalami proses pelarutan bertahap atau karstifikasi. Proses tersebut membentuk morfologi perbukitan kerucut yang membentang dari Gunungkidul hingga Pacitan. Kawasan ini dikenal sebagai Gunung Sewu dan telah diakui UNESCO sebagai geopark dunia sejak 2015.
2. Batu kapur berpori bikin air hujan cepat menghilang dari permukaan

Ciri utama batugamping adalah gampang larut, sehingga permukaannya dipenuhi pori, celah, dan rekahan halus. Menurut penelitian yang dimuat di jurnal geografi Universitas Nusa Cendana, karakteristik geologi karst yang berpori dan banyak rekahan membuat air hujan cepat meresap ke dalam tanah, tapi tidak tertampung secara efektif di permukaan.
Beda dengan tanah pada umumnya yang bisa menahan air permukaan sampai membentuk sungai atau danau, air di kawasan karst langsung "menghilang" lewat celah-celah batuan. Proses infiltrasi ini membentuk cekungan khas yang disebut doline. Kalau beberapa doline menyatu, cekungannya berkembang jadi lebih luas dan disebut uvala, seperti temuan tim Departemen Teknik Geologi UGM di kawasan Danau Dendengwelut, Panggang.
3. Air Gunungkidul sebenarnya melimpah, tapi mengalir di sungai bawah tanah
Air hujan yang meresap ke dalam tanah sebenarnya gak hilang begitu saja. Air mengalir melalui rongga dan gua bawah tanah hingga membentuk sungai bawah tanah dengan debit yang besar. Berdasarkan data PDAM Gunungkidul yang dikutip dalam kajian teknik sipil mengenai pemanfaatan sungai bawah tanah, terdapat empat sungai bawah tanah utama di kawasan ini, yakni Bribin, Baron, Seropan, dan Ngobaran, dengan total debit lebih dari 3.000 liter per detik.
Namun, respons sungai bawah tanah terhadap hujan tidak seragam. Mengacu pada riset pakar hidrologi karst UGM, Eko Haryono, yang terbit pada 2011, Sungai Bribin memiliki waktu tunda sekitar empat jam setelah hujan turun. Sementara itu, beberapa mata air lain baru merespons hujan hingga empat bulan kemudian. Kondisi ini membuat cadangan air di rongga batuan terus berkurang saat kemarau berkepanjangan, meski aliran sungai bawah tanah tidak benar-benar mengering.
4. Mengambil air dari perut bumi bukan perkara mudah dan murah

Meski cadangan air melimpah, pemanfaatannya tidak semudah memompa air ke permukaan. Salah satu kendalanya adalah kedalaman sungai bawah tanah. Sungai Bribin, misalnya, berada sekitar 100 meter di bawah permukaan sehingga diperlukan teknologi khusus untuk mengangkat airnya.
Pada 2008, pemerintah membangun Bendungan Bribin, bendungan bawah tanah pertama di Indonesia dengan dukungan teknologi dari pemerintah Jerman. Namun, volume air yang dapat dimanfaatkan masih jauh di bawah potensi yang tersedia.
Berdasarkan kajian yang membandingkan potensi dan pemanfaatan sumber air di Gunungkidul, debit Sumber Air Baron mencapai 1.080 liter per detik, tetapi yang dimanfaatkan saat penelitian hanya sekitar 15–20 liter per detik. Salah satu penyebabnya adalah tingginya biaya operasional pompa dan genset dibandingkan dengan volume air yang dapat didistribusikan kepada masyarakat.
5. Kawasan selatan dan timur Gunungkidul jadi langganan krisis air
Karakteristik geologi di atas membuat sebagian besar wilayah Gunungkidul, terutama kapanewon di bagian selatan dan timur, rutin mengalami kekeringan saat musim kemarau. Berdasarkan catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, kawasan ini lebih rentan karena didominasi perbukitan karst yang minim sumber air permukaan. Kondisinya berbeda dengan wilayah utara yang didominasi tanah vulkanik sehingga lebih mampu menahan air hujan.
Dengan demikian, kekeringan di Gunungkidul tidak semata-mata dipengaruhi cuaca. Kondisi ini juga merupakan konsekuensi dari karakteristik geologi karst yang membuat sebagian besar cadangan air tersimpan di bawah permukaan tanah sehingga sulit diakses masyarakat.
Kalau kamu kebetulan lagi jalan-jalan ke gua wisata atau geosite di kawasan karst Gunung Sewu pas musim kemarau, coba perhatikan truk tangki air yang wara-wiri di jalan-jalan desa. Di baliknya ada cerita panjang soal geologi yang membentuk seluruh wilayah ini. Yuk mulai lebih hemat air, apalagi kalau kamu sedang berwisata di kawasan yang warganya harus berjuang keras demi air bersih tiap tahun.



















